Dosen
Sebagai seorang mahasiswa, dosen kadangkala menjadi momok besar dalam rangka penentuan nasib masa depan. Dosen yang notabene memberikan ilmu dan mentransfer berbagai teori, tetapi dengan kurang ajarnya mahasiswa menggambarkan sosoknya bak monster yang menakutkan.
Mungkin hal itu juga menjadi salah satu alasan mahasiswa rela sikut-sikutan pada saat krs-an, apalagi kalau tidak memilih dosen yang menyenangkan dan mencampakkan dosen yang seram. Ya.. walaupun tidak semua dosen demikian, ada juga yang citranya nyaris tak ada cela, digandrungi oleh hampir seluruh mahasiswanya (re: dosen idaman sejuta mahasiswa) karena personalitasnya atau cara ngajarnya atau bahkan tampangnya.
Wajar lah ya namanya manusia juga butuh nutrisi untuk mata biar makin semangat kuliahnya dan nggak ngantuk kalo dijejali slide yang puluhan jumlahnya.
Tidak terkecuali dengan saya, saya menganggap setiap dosen punya caranya sendiri dalam menyampaikan materi pun juga selalu ada aturan main yang harus ditaati.
Salah satu dosen yang menarik bagi saya adalah Pak Taufiq El-Rahman. Pria paruh baya yang mendalami Hukum Perdata itu dilabeli ‘baperan’ oleh mahasiswanya karena beliau selalu naik darah jika ada peraturan kelas yang dilanggar. Tidak hanya amarah yang akan keluar, tapi beliau juga tak akan segan keluar ruangan dan berhenti mengajar dengan wajah yang memerah tanda sedang naik darah.
Sebenarnya ia hanya mensyaratkan satu hal, yaitu mengikuti aturan. Kalau masuk di kelasnya haram hukumnya menyalakan hp untuk apapun urusannya, kecuali minta ijin untuk menelepon si ayang di luar ruangan.
Mungkin bagi sebagian besar mahasiswa millenials itu hal yang sepele tapi bagi beliau itu suatu kesalahan besar. Memang benar, kesalahan kecil yang selalu dibiarkan kelamaan nanti jadi makin biasa atau bahkan tidak dipandang sebagai kesalahan lagi. Sebagai generasi millenials yang amat sangat sulit untuk berpisah dengan telepon pintar bawaan zaman itu, saya merasa bahwa sudah seharusnya bisa berpikir untuk bijaksana dalam menggunakannya.
Yang menarik adalah alasan beliau melakukan hal demikian. Ada cerita dibalik larangannya. Beliau selalu bercerita diawal kuliahnya bahwa ia memiliki trauma yang mendalam terhadap dering handphone, karena orangtuanya. Ya, beliau mengaku bahwa ia harus kehilangan orang-orang yang dicintainya itu pada saat mengajar di kelas dan mengetahuinya melalui telepon. Jelas sudah.
Dengan nada bicara yang sedikit memelas beliau berkata, “Saya gak minta apa-apa dari kalian. Saya tau kalian anak-anak pilihan. Tidak ada yang saya ragukan dari kualitas otak kalian. Yang saya ragukan adalah kemauan kalian untuk jadi pintar. Secara personal saya minta jaga hati bapak. Saya sudah cukup sakit hati, jadi jangan ditambah lagi. Dan saya hanya mau itu, mahasiswa saya pintar dan tau etika.”
Kalimat demikian yang keluar dari mulut beliau membuat air mata saya sedikit menggenang, atas apa yang beliau kehendaki bukan semata-mata untuk melarang. Dari sini saya belajar bahwa menjadi manusia memang tidak bisa seenaknya, ada perasaan yang harus dijaga dan bagaimana menempatkan diri dalam situasi yang seharusnya.












