Jika kalian bicara karakter dalam novel karya Pidi Baiq yang sangat banyak digarandungi manusia itu, ya siapa lagi kalau bukan Dilannya Milea, maka aku menemukan konkritnya. Adikku. Walaupun tidak semua sifat dan karakternya sama. Dalam novel Dilan, sosok Dilan memang digambarkan sebagai seorang anak SMA yang cerdas, banyak akal, humoris, romantis namun keras kepala lagi badboy. Selain sebagai pelajar, ia juga nyambi menjadi Panglima Tempur di salah satu geng motor di kota Bandung.
Adikku juga seorang anak SMA. Tapi bedanya, Dilan seorang murid Fisika yang selalu mendapat prestasi akademik yang membanggakan dikelas dengan tidak pernah keluar dari peringkat 2 besar, sedangkan adikku adalah bagian dari kelas sosial yang prestasi akademiknya selalu diurutan dengan komposisi dua angka, bisa belasan bahkan pernah juga puluhan. Walau demikian keduanya sama-sama anak nakal, yang mulai mengenal rokok dan motor sejak berada di bangku sekolah. Dilihat dari sisi tempat tongkrongannya Dilan dan adikku memiliki kesamaan yaitu di warung kopi. Warung Bi Eem dan warung Kang Ewok menjadi tujuan Dilan saat sedang ada waktu kosong, sedangkan adikku memilih untuk menghabiskan waktu luang di warung Pak Yon. Seperti banyaknya cerita tentang warung kopi yang penuh dengan obrolan romantis hingga kritis itu setidaknya dapat memberikan gambaran bagaimana pemikiran Dilan dan adik saya dalam menghadapi masalah.
Aku suka Dilan dan aku suka adikku sendiri. Keduanya memiliki sifat yang sangat terus terang, jika mereka merasa tidak suka terhadap perlakuan orang yang memulai untuk membuat masalah dengannya maka mereka tidak akan segan untuk membalasnya, akan menghadapinya dengan terus terang dan baik. Aku bilang baik karena menurutku berantem adalah salah satu sikap untuk menunjukkan perlawanan mereka atas sikap yang tidak mengenakkan dari pihak lawan. Sekali lagi aku menyebutnya baik dalam perspektifku dan kamu tau bahwa baik itu tidak selalu benar. Kamu boleh tidak setuju denganku, itu hakmu. Ya, kalau gak mau dipukul jangan memukul, kalau gak mau ditampar ya jangan menampar, kalau gak mau dihina jangan menghina, kalau gak mau difitnah ya jangan memfitnah, kalau gak mau ditindas ya jangan menindas. Sesederhana itu. Mungkin pemikiran sederhana yang demikian itu menjadikan mereka orang yang sangat reaktif dalam artian jika sudah ada yang mencoba melakukan sesuatu maka dapat dipastikan mereka akan melakukan perlawanan. Aku tau tidak semua masalah diberikan reaksi yang demikian.
Punya banyak teman sudah pasti. Hal yang dipandang wajar ditambah dengan stereotype bahwa anak nakal itu kadangkala mempunyai sikap toleran dan solidaritas yang tinggi. Terbukti, Dilan dengan geng motornya sangat kompak begitu pula adikku dengan kawan bengkel, kawan main juga kawan sekelasnya sangat dekat. Jika ada salah satu dari mereka yang kesusahan itu menjadi beban kesusahan bagi semua, jika ada salah satu yang gembira dan bahagia semua juga akan merasakannya. Erat sekali. Pertemanan tak terbatas.
Hidup dalam lingkungan masyarakat yang punya kemajemukan pikiran menjadikan mereka ditempatkan dalam sudut pandang berbagai sisi. Mungkin ada yang sampai melabelinya anak nakal, brandalan, ada juga yang bangga, ada yang biasa saja. Dalam hubungan sosial, aku merasa keduanya sangat baik dalam berinteraksi dengan siapapun. Buktinya, Dilan berteman baik dengan Remi Moore seorang banci yang sering mangkal di Bandung saat itu dan adikku juga berteman baik dengan seorang penjual asongan hingga anak seorang Kepala Kejaksaan sekaligus orangtuanya. Dibalik sifat berandalannya, aku kira mereka mempunyai kemampuan dalam berinteraksi hingga negosiasi dengan baik. Ada kalanya pemikiran mereka sudah mencapai tingkat kedewasaan diatas standar, ada kalanya juga muncul pemikiran yang kekanak-kanakan yang menimbulkan rasa gemas, jengkel atau mungkin akan membuatmu cekikikan saking gelinya.
Dalam urusan asmara, keduanya memilih untuk menjadi orang yang aktif-pasif dalam artian untuk mengejar seorang wanita yang ia mau akan menggunakan berbagai cara dan metode tak terduganya, tetapi jika sudah ada sesuatu yang membuat mereka merasa tidak nyaman maka tidak membebani diri sendiri dan menanggapi dengan santai menjadi pilihan mereka. Jika kau tak mau ya, sudah. Pasrah ngalah. Tidak mau dikekang menjadi ciri khas keduanya. Memiliki jalan pikir yang liar dan kadang di luar apa yang diwajarkan orang.
Masalah gojekan atau guyonan, rasanya tidak perlu diragukan. Dilan dengan segala guyonan cerdas diluar akal, lucu dan masih tetap akan tertawa walau dibaca berulang. Adikku juga memiliki kemampuan yang sama, walaupun gaya guyonan atau bercandanya beda. Adikku lebih sering menampilkan guyonan khas jawa timuran dan guyonan ludruk. Spontan, ada aja, lucu dan membuat awet tertawa. Pokok gawe kekel sampek njungkel. Rasanya mau didengar sampai besok pun itu tetap lucu, padahal dalam beberapa kesempatan yang namanya guyonan atau candaan saat di ulangi menjadi tidak lucu lagi.
Setidaknya bagaimanapun sifat dan karakter mereka, Dilan dan adikku tetaplah manusia. Label nakal yang seringkali di jejakkan pada keningnya tidak bisa dijadikan kesimpulan bahwa mereka nakal, bandel dan tidak bisa dikendalikan. Dalam beberapa kesempatan aku malah belajar banyak dari cara berpikir adikku yang menurutku itu menantang dan tenang. Setiap perbuatan pasti mengandung risiko. Mungkin bagi sebagian orang bergaul dengan anak motor, nongkrong di warung kopi sambil rokokan, sifat reaktif dalam menghadapi masalah dianggap tidak perlu dilakukan, membuang waktu atau bahkan membahayakan dirinya sendiri, tapi aku yakin mereka selalu punya alasan untuk melakukan segala hal. Pemikiran mereka tidak bisa dikekang dan bukan berarti pula mereka tidak dapat dikendalikan. Setidaknya, sepanjang mereka masih memahami dan mengerti baik dan buruk keadaan dalam keyakinannya bukan atas pandangan orang, Dilan ataupun adikku masih sangat pantas untuk mendapat pengertian bukan hinaan. Lingkungan memang bekerja seperti itu, mereka bisa semaunya melabeli orang A hingga Z, membuat stereotype yang saklek untuk setiap perbuatan. Toh apa yang diwajarkan oleh lingkungan belum tentu benar dan apa yang kita lakukan belum tentu kesalahan hanya karena tidak sesuai dengan apa yang mereka “biasakan”.