#CeritaMengajar
Dalam perjalanan mengajar, meskipun usianya baru seumur jagung alias masih baru banget, aku merasakan hidupku naik-turun-lurus-belok sama seperti roller coaster. Ada banyak rintangan selama perjalanan ini. Lebih banyak lagi, pengalaman menariknya.
Ada sedihnya, lebih banyak senengnya. Ada lelahnya, lebih banyak bahagianya.
Beberapa waktu yang lalu, aku membuka kembali lifeplan yang kubuat saat PPSMB (Ospek) dulu. Aku menelusuri blog yang dulu pernah kubuat dan lupa dengan passwordnya. Disana tertulis,
Aku ingin menjadi guru. Guru Matematika.
Allah kabulkan. Alhamdulillah. Doaku yang bahkan telah aku lupakan. Dan kini, Allah mampukan aku untuk mengajar.
Ampuni aku, Ya Allah, yang pernah lupa bahwa kini, jalanku, adalah doa yang pernah kupinta dulu.
Doa yang telah kulupakan.
Kini, Allah mampukan dengan membangunkan kepercayaan diri untuk mengajar anak-anak. Impian yang nggak pernah kubayangkan, mengajar anak SD. Bahkan dikasih bonus merasakan bagaimana mengajar anak SMP dan SMA.
Semakin makin makin kagum dengan para bapak ibu guru. Apalagi bapak ibu guru SD yang, bagiku, menjadi pondasi pendidikan formal pertama. Betapa luasnya kantong kesabaran mereka. Betapa banyaknya kebaikan yang mereka tanam. Betapa tangguhnya mereka.
Terimakasih bapak ibu guru seluruh dunia. Sungguh hebat, panjenengan, pak, bu! Semoga Allah membalas kebaikan panjenengan, pak, bu.
Hari ini, sore tadi tepatnya, ada yang membuatku bahagia. Sesederhana, anak didikku memperhatikan dan fokus belajar. Dia yang biasanya sering mengantuk. Sore tadi, dia datang dengan wajah yang fresh. Dan ... tugas yang diberikan guru di sekolahnya selesai tuntas tanpa ngalem seperti biasanya. MasyaAllah. Alhamdulillah..











