Sudah hari ke enam belas sejak tahun 2023 berakhir. Namun, beberapa ceritanya masih saja melintas di kepalaku. Oleh karenanya, aku ingin sekali mengurainya; agar dadaku tak lagi sesak, kepalaku tak lagi berat, pundakku terasa lebih ringan.
Bagiku, 2023 menjadi tahun pembelajaran. Tahun di mana aku mendapatkan jawaban satu per satu atas pertanyaan-pertanyaan tentang hidupku selama ini. Meski belum semua, meski tanya itu tak cukup dengan satu jawaban, meski tanya itu kembali berulang. Tapi, yang pasti ada momen yang membuatku kembali mengingat doa yang -lupa- pernah terucap dan ternyata doa itu menjadi takdir yang sedang kujalani.
Ada 3 hal yang sedikit banyak membawa perubahan dalam hidupku di tahun 2023. Pertama, soal karir. Kedua, keluarga. Ketiga, asmara.
Ngomongin soal karir, aku mengakui bahwa keputusan-keputusan hidup serta doa dari orang-orang yang kusayangilah yang mengantarku pada titik ini. Setelah perjalanan panjang kesana kemari, dari ratusan tempat yang jauh, ternyata ada satu yang cocok, yang tempatnya, ibarat kata, hanya sepelemparan batu. Deket banget. Yaaa, meskipun tetep harus ditempuh sekian jam agar bisa bertemu keluarga setiap minggu. Tetapi, terhitung cukup dekat dibandingkan harus merantau kembali ke Ibukota. Mungkin saja itu doa orang tuaku yang tidak ingin tinggal jauh dari anaknya.
Kedua, keputusan soal karir ini juga tak lepas dari cerita kehidupan keluargaku. Keduanya saling bersinggungan, memberikan pengaruhnya. Aku bersyukur di akhir tahun 2023 sedikit-tidak banyak- aku bisa menerima segala hal yang aku kira di awal tidak masuk akal menjadi lebih mudah aku terima dengan lapang dada. Oh, ternyata begini ya, oh ternyata aku dipersiapkan untuk hal ini ya, ya semacam itulah.
Sampai ada seseorang yang bilang, seseorang yang (katanya) bisa menerawang, ia bilang aku ini sosok anak kecil yang kuat, yang tangguh. "Kalau aku jadi kamu, aku pasti gak sekuat kamu", begitu katanya. Aku bertanya dalam hati, apa terlihat seperti itukah? Hmm, aku mengamini saja bahwa hei, aku manusia kuat.
Ya lagi, tahun 2023 adalah tahun ujian bagi keluargaku. Tetapi, Ibuk selalu bilang bahwa ujian itu bukan hanya milik kami. Semoa orang juga sedang menjalani ujiannya. Mungkin tidak sama persis, hanya poinnya sama, yaitu naik kelas. Aah, aku selalu kagum sama Ibuku. Sosok yang selalu berusaha menjadi pakaian terbaik untuk keluarganya.
Dari kedua hal tadi; soal karir dan keluarga, ternyata membawa pengaruh ke kehidupan asmaraku juga. Waduh, mungkin orang lain akan salah paham jika aku mengatakan soal kehidupan asmara, seolah aku punya jalinan asmara dengan seorang pria. Padahal, nyatanya tidak. Nyatanya, aku sudah lama tidak pernah jatuh cinta. Belum pernah ada perasaan, mak deggh!, begitu. Aku belum menemukannya.
Tapi, aku sadari betul bahwa aku gak akan pernah menemukan atau ditemukan kalau aku tidak berusaha. Tentu saja aku tidak diam. Aku mencarinya. Berusaha agar menemukan radarnya. Tapi apakah sudah keliatan hasilnya? Sampai tulisan ini berakhir pun belum bertemu hasilnya. Gapapa, aku cuma mau bilang, hei aku mencarimu lho.
Heleh, preketek, katamu mungkin begitu.
Tapi... soal ini aku serius.
Hmm, setidaknya ketiga hal ini lah, yang ingin aku urai benang kusutnya. Seperti kataku di awal, agar dadaku tak lagi sesak, kepalaku tak lagi berat, pundakku terasa lebih ringan.
Alhamdulillah, sedikit terasa ringan.
Semoga di tahun ini semakin kuat, melejit, dan tak lupa rendah hati.
Terakhir, hei, ayo, bertemu!