Dulu waktu jaman masih sekolah, setiap ada berita tentang Guru Honorer yang telat digaji, aku seringkali bertanya, "kenapa ya mereka telat dibayar? Kok mereka masih mau sih jadi Guru Honorer? Kenapa ngga jadi Guru PNS aja?"
.Makin gedhe, sampai akhirnya aku kuliah di jurusan yang bukan Pendidikan, aku makin bertanya, "Cukup ngga ya gaji mereka para guru honorer itu? Ah sepertinya ngga cukup. Tapi kok mereka pasrah ya?".
Seringkali juga ada berita demonstrasi Buruh yang menuntut kenaikan gaji, aku bertanya lagi, "Guru honorer kok adem ayem ya? Kok ngga ikut demo? Ah mungkin aku yang ketinggalan berita."
Barangkali aku memang kebanyakan bertanya waktu itu. Sampai akhirnya tiba pada masa di mana aku harus bekerja dan ternyata Allah menjadikanku seorang Guru Honorer bahkan menjadi guru TK yaitu posisi dengan gaji atau upah sangat minim tapi dituntut profesional dan keikhlasan yang sangat tinggi.
Masya Allah. Semua pertanyaanku kala itu terjawab sudah. Awalnya aku memang kaget dengan upah awalku yang lebih kecil dari sangu bulananku waktu kuliah. Tapi kupikir, ah nggapapa. Belum sarjana juga. Walaupun akhirnya ketika sudah jadi sarjana juga upah naik tidak sampai UMR. Tapi kebahagiaan ini tidak bisa terungkapkan. Masya Allah. Benar-benar tidak pernah bisa digantikan dengan uang.
Walau kadang jujur saja masih berpikir juga, "Kapan yaa aku bisa membuat orang tuaku bangga? Masa cuman jadi guru honorer?". Ah tapi itu hanya sepintas pikir aja. Pada akhirnya semua akan nyaman pada waktunya.
Ketika ada kabar berita di TV yang mengatakan bahwa Gaji PNS naik lagi. Aku kembali bertanya, "Kapan yaa Insentif Guru Honorer naik dan merata? Apa hanya mereka yang sudah lama mengabdi saja?" Tapi kembali lagi, aku berusaha berpikir, "Ah sudahlah. Ikhlaskan saja." Pada akhirnya, semua akan bahagia dan sejahtera pada waktunya.
Akhirnya aku hanya berharap, semoga Presiden Baru akan bisa memperhatikan Guru Honorer yang mengajarkan huruf, kata, kalimat dan angka pada anak dengan berbagai cara itu. Semoga mereka akan lebih peka dan peduli pada Guru yang mengajarkan etika dan kesopanan pada anak dengan kalimat positif ini.