Katakan Saja, Lalu Aku Akan Pergi Selamanya
Katakan kamu tidak mencintaiku, lalu aku akan pergi selamanya. Tetapi, kata demi kata tak jua menderas dari bibirmu. Kamu membiarkanku tenggelam ke dalam kesunyian. Keterdiamanmu menjadi titik di mana aku mulai mempertanyakan segala. Atas keraguan yang mulai berdetak di dalam dada.
Dulu, kita begitu yakin bahwa jarak ialah sesuatu yang dapat kita ringkas dengan cinta yang utuh. Bahwa mencintaimu ialah perjalanan tanpa lelah, dan ke sanalah aku menentukan langkah masa depanku. Tetapi, aku salah. Ternyata, hanya aku seorang diri yang terus berjuang melipat jarak, sedangkan kamu hanya membeku seakan jarak kini telah menjadi batas tegas di antara.
Persetan dengan jarak, kataku. Terima saja jarak ini, katamu.
Perbedaan itu mencipta jurang di hadapan, seakan kini tanganku begitu enggan merengkuhmu. Seakan, segala bahagia yang kita susun bersama perlahan memudar. Aku terduduk di tepian pantai menunggui senja tiba, berharap kamu masih ada di sampingku menemani. Nyatanya, kini aku hanya seorang mendengar suara ombak yang begitu hebat menelan segala sepi.
Keraguan terus merambati ruang-ruang perasaan, melahirkan sesak-sesak; pun pertanyaan di dalam kepala yang kian penuh.
“Jika memang seperti ini, untuk apa aku bertahan di dalam kesakitan?”
Dan mungkin benar, perpisahan menjadi titik di mana aku harus mulai menapaki langkah yang lebih yakin dan mantap. Tidak terjebak di dalam ketidakpastian yang menikam perasaan bertubi-tubi.













