Restu Bapak (Part 1)
Kalimat ijab qabul itu terucap sudah. Malam pukul 08.00 bada isha, hanya sebuah resepsi sederhana dirumahku semua peristiwa penting ini digelar. 3 Agutus adalah hari bersejarah untukku dan Ama. Iya Ama suamiku kini, teman sekolahku sejak sekolah dasar dulu. Untuk sebagian anak manusia yang menginginkan pernikahan, pernikahanku mungkin bukan pernikahan impian. Hanya kerabat dekat, dan keluarga inti serta tetangga sebrang rumah yang menghadiri acara sakral ini. Selesai berjabat tangan dengan semua tamu dan keluarga, aku mencari sosok Bapak. Kemudian kulihat Bapak berada di garasi rumah. Kemudian kudekati “Pak......”tanyaku, “Sudah tidak perlu menjelaskan apa-apa...” sahut Bapak sambil berlalu dengan rokok ditangannya.
Bapak ingin kukejar dan kudekap rasanya, namun langkah ini terhenti kala tangan Ama menahanku. Ama dia katanya cukup tampan berada diantara barisan anak kampung lainnya, berbadan tegap, dengan kumis tipis. dan menjadi pujaan beberapa gadis didesaku. Ama menggiringku menuju ruang utama keluarga untuk menyantap hidangan makan malam kami ditengah riuhnya anggota keluarga dan tamu undangan di acara akad pernikahan kami.
“Kamu makanlah Yori, keburu dingin itu makanan” rajuk Ama padaku dengan senyuman tipis diwajahnya. Aku mengangguk lemas, dan berusaha mencerna makanan yang ada didepanku. Kuputar mataku menuju sekeliling ruangan, kudapati Emak yang menatapku dari jauh seketika kumelihat matanya seolah menyatakan iya dan mengangguk lemas dan kemudian Emak berlalu menuju dapur.
“Ama....” panggilku lirih, kemudian dia menatapku “Ya..” jawabnya datar.
Aku menghempaskan pandangan menuju jalan raya, sekelebat kulihat Bapak bergegas menuju barat dengan cepat. Rasa bersalah kian memukulku hebat, seketika itu juga kumerasa pernikahan ini adalah salah, salah besar namun aku sudah kadung malu, pemberitahuan kepada tetangga dekat dan keluarga inti sudah disebar, terlambat jika kuhentikan.
Aku Yori anak seorang pendidik, berpendidikan diploma harus menikah dengan seorang Ama yang hanya lulusan SMA, namun namanya cukup santer diseantero desa karena anak tuan tanah, dengan parasnya yang rupawan. Bapak kecewa padaku atas lelaki pilihanku, karena menurut Bapak Ama tidak cukup sepadan denganku yang berkuliah dikota dan berprofesi sebagai pegawai negeri sipil. Bapak bersikeras untuk tidak mau menjadi wali pada akad nikahku sebelumnya, dan berkata tidak akan membiayai semua keperluan pesta. Bapak menepati janjinya untuk tidak memfasilitasi apapun dalam pernikahanku, semua menggunakan uangku dan bantuan dari orang tua Ama. Ya lelaki pilihanku tidak bekerja, masih dibantu oleh orang tuanya.
Bapak orang yang paling aku cintai dalam hidupku, terpaksa menikahkanku karena tidak ingin malu dengan tetangga di desa. Sedangkan egoku terlampau tinggi untuk menghentikan semuanya. Semuanya sudah terlanjur. “Maafkan aku Pak...”









