Cerpen: Dapur Itu Terbuat Dari Rindu dan Pulang
-------------------------------------***----------------------------------
Hari itu di rumah yang luasnya tak seberapa, usai ibadat natal di geraja. Keadaan haru yang membukus rumah tak dapat dihindarkan. Semua berkumpul, tak ada pesta. Hanya upacara megasah doa-doa sebagai penangkal bala. Rekat doa di jemari emak dan bapa di hari baik, bersepakat menerima nasib yang diam-diam dikerjakan tuhan.
Belum puas merayakan rindu, waktu memangil untuk kembali melanjutkan hidup dengan versinya masing-masing; kedua adik Mecy kembali melanjutkan masa setudy-nya di kota, kedua kakaknya (pertama & kedua) kembali pada keluarga kecilnya. Namun kali ini kakak kedua mengajak serta emak (ke papua).
Ini menjadi bulan-bulan yang paling sunyi. Karena 6 bulan setalah emak memilih ikut bersama kakak ke papua, kedua kakaknya pun memilih kembali mencari pengalaman baru di kota yang berbeda. Sehingga di rumah hanya menyisahkan Mecy dan bapak. Mecy sendiri kebetulan mendapat pekerjaan disalah satu instansi di kabupaten. Meski dengan status pegawai kontrak paling tidak cukup untuk perpanjang hidup sekaligus menemani bapak di rumah
Pagi itu, di luar masih gelap. Mecy meraih hp di samping tempat tidur dan dengan susah payah membuka mata untuk melihat angka-angkanya. Masih pukul 05.00, baru 4 jam usahanya mencoba tidur setelah mengerjakan beberapa laporan kerja semalaman. Tapi suara dari arah dapur membuatnya urung kembali terlelap.
Dengan langkah belum ajek ia menuju dapur, menyambar segelas air di atas meja makan yang mungkin milik bapak yang belum dihabiskan, mereguknya perlahan, mencoba menghilangkan kantuk yang masih bergelayut di kedua mata. Kemudian duduk di samping bapak yang sedang mengaduk kopi yang diseduh sendiri.
“Ow itu suara panci, tadi bapak mau buatin kopi tapi tidak ada air panas. Jadi bapa jerang airnya dipanci.”
“kenapa ngak panggil mecy, pak? Kan ada mecy di kamar.” Kata nya mengerutu.
“tidak apa-apa, kan nona juga banyak kerjaan semalam. Bapa tahu nona baru tidur,bapak tidak mau ganguin nona. lagipula bapa bisa buat sendiri.” Jelas bapak dengan senyum tulusnya.
Mecy hanya menarik bibir sambil mengangkat bahu dan melirik ke arah bapak yang menatap kosong ke arah jendela. Ia lalu beranjak menuju tunggku dengan sisa api yang dibuat bapak, memasak sekedar untuk sarapan sekaligus bekal siang untuk dibawa bapak ke kebun, karena Mecy bekerja sampai sore bahkan kadang harus pulang malam.
Usai memasak dan membereskan rumah, Mecy kembali mendiamkan diri di dapur. Mencoba membaca isi pikiran bapak yg masih diam menatap jendela. Dalam hatinya ia bergumam asal, mungkin bapak sedang merindukan kopi buatan emak.
Karena dapur menjadi tempat yang paling teduh bagi emak dan bapa kala membuka dan menutup hari dengan obrolan yang romanatis. di dapur, emak tak ubahnya seperti dewi yang keelokannya menawan hati bapak tak henti. Dapur adalah tempat paling nyaman untuknya berlama-lama menemani emak.
Bukan sekadar memuji kepiawaian emak meracik bumbu, memasak, dan menghidangkan makanan. Tetapi dapur juga menyimpan air mata tragis dari getirnya kehidupan yang coba dirahasiakan emak dan bapak. Semata-mata tak ingin menggangu aktivitas belajar anak-anaknya.
Hari demi hari Mecy belajar banyak hal dari apa yang sudah dilakukan dapur dalam kehidupan-nya. Bahkan dari tempat kerja, tempat pertama yang dikunjungi adalah dapur. Mecy bahkan menghabiskan waktu dengan menatap semua benda yang ada di sana, ia melihat lemari tua yang lapuk masih di tempat yg sama.
Disimpan persis disamping mejah makan dengan bagiaan pintuh yang diganti kain karena habis dimakan rayap, sedangkan meja makan itu sengaja disandarkan ke dinding karena bagian kakinya tak lagi utuh dan sebagiannya lagi diganjal batu. Bapak belum sempat menggantikannya, karena jatah biaya perabotan dapur emak sudah dikirim bapak untuk biaya kulianya di kota.
Mecy mungkin tidak tak akan pernah tahu, apa yang bisa dilakukan dapur ke dalam kehidupannya, dan untuk mengetahuinya, Ia harus memulai dengan mencintainya.
Tentu saja cinta Mecy tidak sebesar cinta emak. Bagimana bisa ia sekuat emaknya yang mengdaikan hidupnya untuk dapur? Mungkian emak punya mimpi tapi sudah ia rebus bersama ubi yang dibawa bapak dari kebun untuk membesarkan mimpi anak-anaknya.
Mecy lalu mengerti bahwa, “Kita mungkin tak akan pernah tahu, apa yang bisa dilakukan dapur ke dalam kehidupan kita, dan untuk mengetahuinya, kita harus memulai dengan mencintainya.”
Dan jika ada yang bertanya apa itu cinta, mungkin ia akan menyebut dapur sebagai kata yang menyempurnakan kalimat lainnya. Bagi Mecy dapur menjadi muasal ia memahami bahwa cinta adalah sesuatu yang akan terus mengantarkan kita pada apa yang disebut sebagai rindu dan pulang.