Melepaskan
Kadang rasa itu datang tiba-tiba, tanpa pernah diduga. Entah dengan siapa, kapan dan dimana. Bahkan dengan seseorang yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Semesta itu sungguh lucu, kadang menghantarkan kita pada cerita yang jauh daripada ekspektasi anak manusia. Sangat dalam, seperti dalamnya samudera yang tiada bisa diterka. Kenyamanan itu yang setiap anak manusia harapkan dan ingin temukan pada setiap langkah kehidupan. Merasa terlindungi dan aman, bahwa tiada bahaya berarti.
Rasa tidak pernah salah, hanya saja kadang diri anak manusia terlampau bebal dan ceroboh untuk percaya logika. Menebas segala ketidamungkinan menjadi mungkin, padahal tidak mungkin. Kemudian lahirlah rasa sakit, penyesalan, tangisan atas kepergian, yang bahwa sedari awal sudah terprediksikan. Iya, manusia kadang terlalu naif untuk melawan kata hatinya sendiri. Percayalah ketika hati mengatakan tidak, kebenaran biasanya nyata. Karena kesucian manusia itu ditentukan karena hati bukan?. Bahwa dalam ajaran semua keyakinan “Adalah sebongkah daging dalam hati manusia, jika itu baik maka seluruhnya adalah baik. Tetapi jika itu buruk, maka rusaklah segala amalannya”.
Cinta dan rasa dapat membutakan mata, kadang kata orang tua dahulu cinta mengalahkan logika. Benar nyata adanya, bahwa kadang seseorang itu singgah sementara waktu, untuk mengajarkan kita beberapa hal tertentu, pada akhirnya tidak untuk bersandar dan menambatkan kapal, tapi hanya untuk singgah sementara kemudian berlalu pergi selamanya. Bahwa melepaskan adalah suatu keharusan untuk anak manusia, bahwa jangan pernah berharap pada manusia, bahwa melepaskan adalah bab kelelahan dari berbagai cerita, dan kadang dengan melepaskan kebaikan akan datang....
Melepaskan tiada pernah mudah, tapi menahan sesuatu yang tidak diciptakan untuk kita hanya membuat kita terluka semakin dalam.....















