Random #1
Aima: "Ternyata sesakit ini ya, bahkan hal-hal yang kukhawatirkan belum terjadi, tapi ketika aku memikirkannya, bulu kuduku berdiri, hatiku berdetak kencang, dadaku sesak, tapi aku harus tersenyum."
Azril: "Kenapa kamu melakukan ini jika kamu tau akan sesakit ini?"
Aima: "Maksudmu kenapa aku harus rela menyerah?"
Azril: "Kita bisa melewati semua ini bersama-sama. Kuncinya kamu jangan curang, jangan menyerah, jangan meninggalkan, jangan menerima orang lain."
Aima: "Tapi aku tak bisa melihat orang terkasihku bersedih karena pilihanku. Meskipun tujuan kita baik, meskipun aku tak terlalu terganggu dengan perkataan orang lain tentang kita, tapi jika itu orang terkasihku, aku tak bisa. Aku tak bisa melihatnya bersedih karenaku, dan selanjutnya membencimu karenaku."
Azril: "Tapi kamu sakit bukan? Aku tak rela jika harus melepaskanmu Aii."
Aima: "Aku menyerah Az,, aku memilih menyakiti diriku daripada aku harus menyakiti orang terkasihku."
Azril: "Lalu aku? Kamu tidak memikirkanku? Memikirkan betaga gilanya aku tanpamu?"
Aima: Terdiam.
Azril: "Aku benar-benar ingin bersama Aii, menyempurnakan separuh agama bersamamu, menjalani semua bersamamu, melewati semua hal denganmu, dan ketika aku ingin menyerah aku bisa bersandar di pangkuanmu. Kamu akan menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku hingga akhir nanti."
Aima: Diam tak berkutik
Azril: "Kamu tidak pernah memikirkan perasaanku bukan jika kamu menyerah, kamu tidak pernah memikirkan bagaimana hancurnya aku jika kamu memilih untuk menyerah, kamu memikirkan dirimu sendiri, memikirkan kebahagiaanmu, iya kan Aii. Jawab aku, pernahkah kamu benar-benar ingin bersamaku? Benarkah kamu mau benar-benar berjuang untukku jika ada kesempatan? Benarkah semua yang kamu katakan selama ini? Ucapan mana yang bisa kupercayai darimu lagi Aima, tolong jawab aku."
Aima: Menghela nafas. "Az,, Maaf, maaf, maaf. Aku benar meminta maaf. Seharusnya aku tidak pernah melibatkanmu dalam perasaanku. Seharusnya sejak awal kita tetap asing agar kamu tak tersakiti dengan keegoisanku. Maafkan aku Azril."
Azril: Menghela nafas pelan. "Berbahagialah Aii, Biarkan aku menikmati perasaan ini sendiri dahulu. Nanti ketika aku lelah dan menyerah, aku pasti akan meletakkan semua perasanku untukmu. Aku pergi, berbahagialah. Tak apa Aii, aku memahami pilihanmu, mungkin jika aku diposisimu, aku juga memilih hal yang sama sepertimu. Bahagialah Aii." berjalan meninggalkan Aima.
Aima: Tersenyum sembari memegang dadanya. "Azril,, kamu juga harus berbahagia, berbahagialah."
Azril: Berhenti di tempat. "Baik. Kita sama-sama tau Aii, aku tidak perlu mengatakan banyak hal."
Aima: Tersenyum sembari berdiri. "Kita harus bahagia ya Az, kita harus bisa. Iya kan Az, kamu akan bahagia bukan? Kamu harus bahagia ya Az."
Azril: Tersenyum. "Ya, aku akan bahagai. Aku Pamit." berjalan meninggalkan Aima.
Setelah kepergian Azril, Aima menangis tersedu.
Aima: "Ya azril, kamu harus, kamu harus bahagia, kamu harus bahagia tanpaku. Azril,, bahkan, bahkan, bahkan jika semesta melarangku untuk bersamamu sampai kapanpun, kamu akan tetap memiliki tempat dihatiku. Aku akan mengubur dalam perasaanku seperti sebelumnya, Lekas membaik, lekaslah pulih dari perasaanmu untukku, biar aku saja yang mencintaimu."
Suara tangisan memang tak terdengar, tapi jika kita melihat tangannya yang terkepal erat, mulutnya yang tertutup, dan punggunggnya yang bergetar. Dunia seharusnya tau, bahwa Aima mencoba kuat menerima kepergian Azril.















