Dunia Rana (Bagian 1)
Rana memalingkan wajahnya ke jendela kelas. Tatapannya kosong dan jauh berlanglang buana. Dari jendela, ia hanya bisa melihat lapangan sekolah yang kosong. Jelas saja kosong, semua siswa masih berada di dalam kelas, sama halnya dengan Rana. Rentetan pelajaran juga masih tersisa setengah. Rana menarik bibirnya ke dalam, tak sedikit pun senyum terukir di wajahnya.
“Huuuh….!” embusan napasnya yang panjang memecah keheningan kelas.
“Ada apa, Rana?” tanya bu Darwati, guru matematika.
“Oh, eee…tidak apa-apa, Bu. Saya boleh izin ke toilet, Bu?”
“Iya, silakan.”
Rana pun bernapas lega karena menemukan alasan yang tepat saat ia tak sengaja mengembuskan napas panjang yang membelah kesunyian kelas itu. Ia pun bergegas ke toilet di ujung lorong kelas. Sesampainya di toilet, ia hanya membasuh dan menatap wajahnya di cermin. Sejenak ia berusaha menenangkan pikirannya yang kusut. Setelah merasa sedikit tenang, ia kembali ke kelas.
“Kriiiiing….. Kriiiiing….. Kriiiing….!” suara bel berbunyi. Semua guru keluar dari setiap kelas, begitu pun dengan siswa. Namun, Rana masih saja duduk di kursinya. Entah apa yang merasuki pikirannya, sampai tak bergeming dengan suara bel. Biasanya ia akan ikut berlari menyerbu kantin sekolah dengan teman-temannya, tetapi kali ini ia hanya mematung di kursinya.
“Ran…. Ranaaaaa….!” teriak Tika sambil memukul meja Rana.
“Astaghfirullah! Kenapa, Tik?”
“Aduh, kamu yang kenapa? Dari pagi sampai siang bengong terus. Mau salat zuhur atau makan siang dulu?”
“Hmmm, aku mau salat dulu. Kamu?”
“Ya, aku ikut kamu deh salah dulu. Terus nanti mau makan siang apa?”
“Lihat nanti deh.”
Setelah salat zuhur, Rana mengangkat kedua tangannya. Ia bersimpuh di hadapan Sang Khalik. Ia panjatkan doa-doanya dengan khusyuk. Tika tak berani mengganggu Rana sedikit pun. Ia pura-pura tak memperhatikan Rana. Perlahan, Tika mundur dari barisan dan membiarkan Rana menuntaskan doa-doanya. Ia paham, pasti ada yang Rana pikirkan. Rana memang tampak tak biasa selama beberapa hari ini. Tika pun menunggu Rana di depan musala dengan sabar dan membiarkan sahabatnya lebih lama memohon kepada Yang Maha Esa.
“Ran, aku boleh tanya?” Tika membuka suara kepada Rana yang telah duduk di sampingnya sambil memakai sepatu.
“Tanya apa? Biasanya langsung tanya, tumben pakai izin segala?” Rana menjawab dengan senyuman manisnya. Sepasang lesung pipi terukir indah di pipi Rana saat ia tersenyum.
“Kamu lagi ada masalah ya, Ran? Aku lihat kamu melamun beberapa hari ini.”
“Yah, aku memang sedang banyak pikiran, Tik. Kamu tahu kan kalau ibuku cuma tukang cuci, sedangkan bapak cuma buruh pabrik. Adikku ada tiga. Sebentar lagi kita lulus, tetapi apa aku bisa lanjut kuliah?” suara Rana mulai bergetar menahan getir di hatinya.
Rana pun melanjutkan ceritanya, “Semalam ibu cerita bahwa penghasilan bapak tidak akan cukup kalau aku kuliah di luar kota, sulit untuk biaya hidup di sana nanti, Tik. Adikku juga tahun ini masuk SMP, butuh biaya juga. Aku bingung, Tik. Apa aku kuliah tahun depan saja ya?”
“Memangnya kamu mau ambil jurusan apa?”
“Aku mau ambil jurusan pendidikan guru sepertinya,” Rana menjawab dengan ragu.
“Kok sepertinya?”
“Soalnya aku tanya-tanya kakak kelas yang kuliah keguruan, katanya kuliah keguruan itu biayanya paling murah dibandingkan jurusan lain.”
“Ran, lebih baik kamu coba saja daftar kuliah dahulu. Kalau misalnya dapat, baru deh kamu tahu pasti berapa biaya kuliah di jurusan itu. Setelah itu, kamu coba diskusi lagi sama orang tuamu. Oh, ya abang pernah bilang juga di kampus itu banyak besiswa, Ran. Yang penting diterima saja dulu, Ran. Biaya dipikirin nanti saja.”
“Iya, juga ya, Tik. Kita juga tidak tahu kan nanti akan diterima atau tidak di kampus itu. Hehehe..” Rana pun sedikit lega mendengar saran dari sahabatnya.
***














