Tapi, apa sebetulnya alasan utamamu memilihku untuk menjadi pelengkap agamamu?
Pertanyaan penutup yang cukup mendasar ia lontarkan di akhir pertemuanku dengan perempuan itu. Jujur hingga akhir ini aku juga tak tahu persis mengapa aku memilih dia untuk menjadi partnerku membangun keluarga. Aku hanya merasa cocok dengan dia, dan itu sudah cukup untukku untuk memilih dia sebagai orang yang aku pilih.
Tapi sepertinya aku paham. Logika laki-laki dan perempuan berjalan dengan cara yang berbeda. Perempuan, akan mencoba mencari validasi sebanyak-banyaknya sebelum memutuskan sesuatu. Sedangkan aku, seperti kaum lelaki yang lain, satu alasan baik saja sudah cukup untuk memutuskan apakah aku mau membangun hubungan keluarga dengannya.
Namun kembali lagi, hingga saat ini aku belum menemukan alasan yang betul-betul klop dan dramatis mengapa aku memilih dia. Ditambah lagi dengan kegiatan akhir ini yang cukup hectic karena aku harus menyiapkan berkas-berkas sidang tesisku di kampus. Tapi baiklah, jika dia meminta jawaban, aku berusaha memenuhinya. Aku mencoba memutar otak, mencari alasan-alasan terbaik mengapa aku perlu menikah, mengapa aku memilih perempuan ini dan mengapa juga aku harus menikah sekarang. Ahh tapi sayang aku tak menemukannya.
“Sepertinya aku tak bisa menjawabnya sekarang. Jawabanku pasti tak akan memuaskanmu” Kataku dengan menunduk.
“Hmm baiklah, tak apa.” Jawabnya
“Tapi, apakah memang semua rasa harus mempunyai alasan?” Tanyaku kembali.
Dia memutar–mutar bola matanya. Memperlihatkan gestur yang juga bingung atas pertanyaanku.
“Mmm, maksudmu bagaimana Mas?”
“Maksudku, apakah jika ada seseorang yang jatuh cinta kepada pasangannya, haruskah dia mempunyai alasan? Bukankah tak semua hal di dunia ini mempunyai alasan. Misalnya tentang pemilihan bajumu hari ini. Kenapa hari ini kamu menggunakan baju warna putih dipadu dengan warna khas cokelat bumi? Lengkap dengan cardigan dan sepatu yang juga cocok untuk dipadu padankan? Bukankah di dunia ini masih ada warna yang lain?” Jawabku panjang lebar. Semoga analogi ini tak membuatnya bingung.
“Yaa, itu karena aku lagi pengen aja pake baju ini.” Jawab dia polos.
“Nah, ya begitulah denganku. Aku hanya merasa cocok saja denganmu. Dan aku sudah mempertimbangkan ini sedari lama. Bahwa setelah dipikir-pikir, dan dipertimbangkan dengan beberapa guru dan orang tuaku, sepertinya kamu adalah orang yang cocok untuk menemaniku berkembang di kemudian hari. Sudah, tak ada alasan lain.” Aku mencoba menjelaskan satu persatu konsep ini dengan hati-hati. Agar dia juga tak salah persepsi.
Sepertinya pilihanku untuk membuat analogi demi analogi yang aku paparkan tadi cukup berhasil. Beruntung dia adalah perempuan yang cerdas di bidangnya, sehingga dia paham atas apa yang aku sampaikan tanpa harus menjelaskan konsep secara panjang lebar. Maklum, dia adalah mantan wakil ketua BEM Fakultas Kedokteran UI, satu-satunya Waka BEM perempuan yang menjabat periode itu. Dengan pengalamannya bertemu banyak orang, dia sudah cukup biasa untuk mencerna kalimat-kalimat rumit yang kadang tujuannya A, tapi lawan bicara memutarnya kepada B C baru kepada inti poinnya. Syukur dia paham atas apa yang aku maksudkan.
“Hoo, I see. Okeey.” Kata dia
“Jadi gimana? Sudah puas dengan jawabanku?”
“Sebetulnya sihh belum, ini jujur ya. Hehe. Tapi ya sudah, nanti aku sampaikan ke Abi dulu ya, biar nanti tahu gimana jawabannya. Terimakasih telah memilihku.” Katanya sambil tersipu malu.
“Baik silahkan.”
Dia kemudian pamit pergi membelakangiku. Kerudungnya yang rapi dari depan yang belakang semakin membuat aku yakin bahwa dia adalah orang yang mungkin akan tepat untuk berjuang bersama membangun keluarga kecilku.
Ngomong-ngomong, ini adalah kali pertamaku mengajukan proposal taaruf. Dari dulu, aku hanya bisa mengagumi seseorang tanpa bisa mengungkapkannya karena berbagai alasan. Mungkin kamu juga pernah mengalaminya, saat dimana kamu jatuh cinta kepada seseorang tetapi kamu sendiri belum siap untuk menghadapi konsekuensi percintaan itu sendiri. Pada akhirnya, perasaan itu hanya berujung pada cinta yang tak tersampaikan.
Namun hari ini situasinya berubah. Aku telah menjadi pribadi yang telah siap menanggung konsekuensinya. Aku telah siap ilmunya, begitu pula dengan ekonominya.
Tetiba aku jadi ingat momen beberapa tahun yang lalu ketika aku masih belajar S1 di Brawijaya sekaligus nyantri di Jawa Timur. Ketika itu, guru ngajiku berkata bahwa menikah itu ada lima hukumnya, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Ada banyak faktor yang menyebabkan sebuah pernikahan akan dihukumi wajib, sunnah, bahkan haram. Kami yang masih awam mengenai hal ini jadi mengernyitkan dahi ketika guru kami menyampaikan hal ini. Kok bisa pernikahan yang asalnya baik, dan sunnah nabi malah bisa menjadi haram.
Tak lama kemudian, guruku menjelaskan lebih lanjut. Sebuah pernikahan, akan menjadi haram jika niat menikah itu hanya untuk menyiksa salah satu pihak. Misalnya, ada fulan menikah dengan fulanah dengan tujuan agar si perempuan ini tidak bisa menikah dengan seseorang yang dia cintai. Pernikahan model seperti ini bisa dihukumi sebagai pernikahan yang haram jika dilaksanakan.
Sedangkan pernikahan akan menjadi wajib, guruku melanjutkan, apabila ada seseorang yang sudah mampu secara ilmu, ekonomi, dan tanggung jawab, dan dia juga takut jika terjerumus kedalam zina. Orang-orang seperti ini harus segera diselamatkan dengan menikah.
“Nah orang-orang kayak sampean ini. Yang ilmunya sudah ada, tapi duitnya yang belum ada. Hukumnya makruh.”
“Maka dari itu, biar ndang nikah, ya kalian harus cari duit dulu, nanti statusnya baru naik ke wajib, nah baru cari calonnya.” Kiyaiku menambahkan keterangan di pengajian sore itu yang memicu kekek banyak santri.
Hari ini, jika aku pikir, sepertinya hukum menikah di dalam diriku sendiri sudah naik kepada wajib. Aku sudah mempunyai ilmunya hasil belajar sore hingga malam ketika ngaji di Malang. Urusan uang, walaupun nggak bisa dikatakan berlebih, aku termasuk seseorang yang sudah mempunyai cashflow yang sehat.
Semoga niatanku untuk menyempurnakan ajaran Rasulullah untuk menikah bisa disambut dengan baik oleh dia, dan keluarganya. Aku berharap-harap cemas. Semoga aku segera mendapatkan jawabannya.
Bersambung (1/6)
Menjadi yang Kaucintai - Bagian 1
@careerclass @bentangpustaka-blog @langitlangit.yk













