Muda mengglobal : Edisi Phuket part 1
Untuk pertama kalinya Tuhan menjawab doa saya sebegitu cepatnya. Ya, saya mendapat ilham dari dua seri buku motivasional karya Rhenald Kasali yang berjudul “30 Paspor di Kelas Sang Professor”. Setelah membaca buku itu saya ingin sekali pergi ke luar negeri bersama teman-teman seumuran dengan saya. Bukan sekadar untuk berjalan-jalan tapi untuk belajar, mendapatkan suatu pengalaman. Tidak sampai sebulan ada sebuah event yang mengundang universitas saya terutama prodi saya, Biologi. Event tersebut merupakan sebuah camp untuk mahasiswa jurusan Biologi ASEAN. Merasa ini adalah kesempatan yang tidak boleh saya lewatkan, setelah ijin dengan orang tua saya langsung mendaftar melalui email pada salah satu contact person yang tertulis. Yap, saya resmi terdaftar sebagai salah satu dari 8 peserta yang akan mewakili Indonesia ke camp ini. Deg-degan? Oh iya, pasti tak terbayang bagaimana rasanya bertemu teman satu keilmuan dari negara lain.
Pertengahan bulan Maret saya dan 7 kawan saya bertolak menuju Phuket. Sudah lama saya tidak berpergian ke luar negeri sehingga saya harus mengingat-ingat berapa hal saat di bandara. Tips mengenai bandara akan saya tuliskan di post lain :) Singkat cerita banyak detail-detail kecil yang saya lupa persiapkan sehingga perjalanan saya sedikit terhambat dan mengakibatkan teman saya harus menunggu saya. Sempat karena terlalu panik belum mengeluarkan print tiket pesawat dan paspor dari tas kabin saya yang sangat besar, saya malah membuat risleting tas saya rusak. Oh iya usahakan sudah ada di gate minimal 1 jam sebelum keberangkatan, jika terlalu mepet bisa-bisa anda ketinggalan pesawat. Saya satu pesawat dengan 4 rekan saya yang lain, kami sangat menikmati liburan dadakan kami dikala teman-teman kami yang lain di kampus masih menghadapi ujian tengah semester haha. Ya tapi setelah ini ada harga yang harus dibayar dengan perginya kami ke Phuket.
Kami transit di Changi, waktu transit yang cukup mepet membuat kami segera bergegas ke money changer terdekat dan segera mencari makan siang untuk perut kami yang keroncongan. Kami lalu melanjutkan menuju gate keberangkatan selanjutnya. Jangan lupa sering-sering untuk mengecek nomor gate keberangkatan di alat scanner yang tersedia di banyak tempat di bandara karena nomor gate dapat berubah sewaktu-waktu karena padatnya penerbangan di bandara. Jarak dari satu gate ke gate lainnya.. Alamak.. Jangan ditanya, jauh bener! Jadi kebayangkan kalau-kalau kita datang ke gate mepet jam terbang dan ternyata gatenya diubah? Bisa pusing tujuh keliling itu. Oh iya bandara Changi termasuk ketat dalam hal keamanan jadi barang bawaan anda akan sering sekali dicek. Saya yang memiliki tas gendong cukup besar dan banyak barang sering kali merasa ruwet. Jaket lah, hp, laptop elektronik di tempat lain lah, rumit tapi lama-lama saya terbiasa.
Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan kami tiba di Phuket! Kami langsung disambut pemandangan pantai yang indah tak jauh dari airport, sinar matahari yang terik dan suhu udara yang panas. Kami berlima kemudian menuju toilet untuk membereskan penampilan kami dan buang air. Tak menyangka kami sekarang ada di Phuket, kami disambut oleh wifi gratis yang ada di bandara Phuket. Seingat saya ada web tertentu yang harus dituju saat ingin mengakses wifi gratis ini melalui ponsel maupun laptop. Kami tak sengaja bertemu salah satu teman kami yang berangkat menggunakan maskapai lain di toilet haha. Sungguh pertemuan yang tidak diduga, kami berenam langsung berpelukan. Ketika di imigrasi teman saya yang mengenakan hijab selalu tertahan sedikit lebih lama karena berpakaian hitam-hitam dan mengenakan hijab. Saya juga sempat ditanya-tanyai karena mengenakan jaket anoraks himpunan yang berwarna hitam dan terkesan militer. Tidak perlu panik, jika anda memang tidak bersalah. Masalah lain adalah bagaimana cara mencari contact person event ini di bandara. Kami berenam berusaha menghubungi salah satu kawan kami yang telah tiba di Phuket lebih dulu dan sudah bertemu dengan contact personnya. Kami menelepon dan menerima arahan kemana harus menuju hingga akhirnya kami dapat bertemu mereka.
Kami menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk sampai ke Phuket Rajabhat University tempat 2nd ASEAN Biology Camp digelar tahun ini. Ada sekitar 1-1,5 jam dari bandara. Kami dari Indonesia merupakan rombongan pertama yang tiba lebih dulu di Phuket. Setiba kami tiba di hotel / penginapan universitas kami langsung ditunjukan petugas kamar-kamar yang dapat kami pakai. Awalnya kami agak horor dengan kondisi hotel karena lorongnya yang agak muram dan hawa dingin lantai, sempat terlintas dipikiran saya scene film horor Thailand yang langsung membuat bulu kuduk saya merinding. Namun rasa bersemangat saya dan teman-teman tidak padam, kami langsung rebutan memilih kamar dan teman sekamar yang akan tinggal bersama selama kurang lebih 5 hari ke depan. Saya sekamar dengan Shofi. Kami berdua sama-sama yang paling muda di antara yang lain, lumayan membuat heboh dan bisa menggila bersama. Jam di Phuket sama dengan jam di Jakarta jadi kami tidak perlu repot-repot menyetel jam di hp dan jam tangan kami. Kamar yang saya dan Shofi ambil sama-sama menghadap ke arah bunderan Phuket Rajabhat University. Kami menikmati pemandangan matahari sore yang menyinari universitas ini. Setelah masuk kamar kami segera bersiap-siap untuk menuju Night Market karena tidak ada makan malam yang khusus disediakan untuk kami dari pihak penyelenggara.
Kami turun kembali ke lobi dan bertemu Mr. Phuripong, salah satu dosen Biologi di sini dan merupakan contact person yang kami kontak selama ini. Kami bertujuh kemudian naik ke dalam Hilux Mr. Phuripong. Saya dan dua teman saya yang lain memilih untuk duduk di kabin terbuka belakang, cara lain yang menyenangkan untuk menikmati Phuket malam hari. Mata saya tak henti-hentinya menjelajah Phuket melihat sebagian sudut kota yang kami lewati, menikmati anginnya, menikmati lalu lintasnya. Tak disangka kami ternyata pergi ke Chillva Night Market yang merupakan tujuan kami esok hari. Ya, kami berkesempatan datang lebih dulu dibanding peserta yang lain. Begitu turun kami langsung membuncah pergi menilik setiap sudut pasar masing-masing, banyak makanan enak di sini dan kami memutuskan untuk nantinya berkumpul di salah satu spot duduk yang terletak di depan stage kecil. Saya sendiri pergi membeli siomay babi dan minuman kelapa yang cukup mengisi perut saya. Rekan saya yang lain ada yang membeli sushi mini dengan harga murah, ada pula yang membeli jus mangga thailand yang sangat segar dan creamy, tak ketinggalan ada rekan saya yang menjajal membeli makanan khas Thailand seperti mango sticky rice yang demi apapun itu wajib dicoba dan rasanya surgawi sekali. Ketan yang manis dan pulen berpadu pas dengan lembutnya mangga segar Thailand. Menulis ini saya jadi ngidam mango sticky rice lagi haha. Namun beberapa teman muslim saya agak kewalahan untuk mengetahui makanan mana yang halal dan tidak sehingga seusai puas makan dan berkeliling di Chillva Market kami kemudian mencari warung bermenu halal di Phuket. Memang untuk menemukan warung ini agak sulit dan saya tidak tahu pasti alamatnya. Begitu masuk ke warung kami disambut oleh ibu-ibu berhijab dan spanduk berisi menu dalam bahasa Thailand yang terpampang di dinding. Ujung-ujungnya kami membeli nasi goreng versi Thailand yang halal dengan bantuan Mr. Phuripong untuk mengartikan menu-menu yang ada.
Malam ternyata belum usai, Shofi perlu membeli obat yang lupa ia bawa sehingga kami kembali berkeliling kota untuk mencari apotik. Mudah untuk menemukan apotik di sini, cari saja plang berwarna biru bertuliskan Pharmacy, nah yang susah adalah mengkomunikasikan anda mau membeli obat apa... Untung saja kami bersama Mr. Phuripong yang dapat mengkomunikasikan dalam bahasa Thai. Kembali ke penginapan kami akhirnya bertemu salah satu rekan kami yang sudah terlebih dahulu berada di Phuket dengan orang tuanya. Ya rekan saya ini dan ibunya memiliki agenda sendiri seperti snorkelling dan diving di Krabi, surga marine Thailand sebelum akhirnya bergabung bersama kami dalam camp ini. Kami semua berdelapan berkumpul di salah satu kamar sembari bercerita tentang hari pertama kami di Phuket. Badan kami lelah namun hari ini merupakan suatu pengalaman luar biasa bagi kami. Hanya salah satu tugas yang hingga hari keberangkatan belum kami kerjakan, kami sama sekali belum berlatih untuk menampilkan budaya Indonesia di acara malam akrab esok hari. Biasa kami berdelapan mahasiswi berjiwa deadliner mulai menggagas ide secara dadakan lalu langsung berlatih hingga tengah malam. Suara kami sangat berisik memenuhi seluruh lorong. Kami berdelapan memutuskan untuk menyanyi medley lagu daerah kurang lebih selama 5 menit mulai dari lagu ‘Ampar-Ampar Pisang’ hingga ‘Ayo Mama’.
Ya, malam pertama kami di Phuket ditutup dengan kantung mata tebal dan suara sumbang.












