Seputaran FOH
Tengah pekan bukanlah waktu yang tidak sibuk. Beberapa kami sedang asyik dengan mesin dan roda. Beberapa kami juga ada yang riweuh mencari kehebohan karena pekerjaan yang sudah beres. Apapun itu, tengah pekan juga berhak dirayakan. Berawal dari browsing tidak jelas, dan malah menemukan poster event yang kelewat asyik. Gigs dengan dua pengisi yang jarang manggung bareng setau saya, Efek Rumah Kaca dan Fstvlst. Tanpa banyak mikir langsung lah gas tandang sendirian.
Venue cukup ramai dan berisik. Saya sampai sekitar jam 8 malam, beberapa menit sebelum Cholil cs tampil. Saya sudah cukup lama absen nonton konser musik. Terakhir yang saya tonton juga ERK kalo tidak salah, panggungnya dimana saya lupa saking lamanya.
Saya mengambil posisi di sekitaran front of house, melihat set panggung yang lumayan ciamik tanpa backdrop aneh-aneh yang nyaman ditonton dan sound set jernih. Sayang sekali saya tak sempat memotret visual panggung. Namun bagaimanapun memang agak canggung nonton gigs sendirian. Beruntunglah saya yang pada akhirnya bertemu teman barang tiga empat orang. Lumayanlah tidak jadi kikuk.
ERK tampil duluan. Cholil Mahmud naik ke panggung beranjak ke tengah, seperti biasa di belakangnya ada Akbar serta Poppie dan Irma di sisi kiri panggung. Tanpa preambule langsung dihentak ke chord lagu pertama. Cholil setau saya memang agak canggung saat berinteraksi dengan penonton, lain saat dia ngobrol santai atau sedang interview yang terkesan gahar, ampuh dan narasinya luwes. Dan menjadi kebiasaan bagi Cholil setelah satu lagu beres, sekedar berbalik badan melihat Akbar dan langsung disambung lagu berikutnya tanpa banyak cakap.
Malam itu putih menjadi song list pembuka. Jarang sepertinya lagu ini dibawakan di muka. Lighting redup, mbak-mbak di kanan depan menutup mata dan khidmat merapalkan lirik per larik. Putih selalu sukses membawa imaji sedih dengan ihwal kodrat hidup-matinya.
Lagu berikutnya antara lain biru, mosi tidak percaya, seperti rahim ibu, sebelah mata, desember, di udara dan single barunya, tiba-tiba batu. Salah satu alasan kuat untuk berangkat di awal adalah saya menunggu momen saat desember dimainkan di bulan desember, kebetulan juga seberes hujan. Entah karena saya punya momen pribadi dengan lagu ini atau memang saya suka ambience saat suara Cholil sampai di coda. “Seperti pelangi setia menunggu hujan reda”. Yang jelas magisnya kuat sekali.
Kemudian di udara, dimana selalu sukses menjadi paduan suara terkeras di setiap konser dengan lagak penonton tangan kiri mengepal saat reffrein. Menurut saya pribadi, di udara dan mosi tidak percaya masih lagu dengan narasi perlawanan terbaik bagi anak muda, bukan puritan apalagi peradaban. Tidak banyak metafor namun hanya lirik eksplisit lugas dan nuansa resistensinya padat tiap larik.
Pentas pertama malam itu ditutup dengan cinta melulu, lagu satire minimalis dengan isu enteng khas ERK, tentunya sebelum sinestesia rilis. Dibuka dengan putih dan ditutup dengan cinta melulu, saya merasa disuguhi plot dan mood yang klimaks oleh band ibukota ini.
Jam 9 lebih beberapa menit. Jatah Fstvlst naik. Massa ERK bergerak mundur, beberapa gerombol anak muda yang tadinya santai menghimpun energi di belakang mulai siap di depan pentas. Saya juga mengikuti arus berkerumun, namun tidak terlalu depan. Perdana Roby Setiawan masuk sebagai terdepan. Tak lama Farid Stevy muncul lengkap dengan botol pekat di tangan kiri dan asap sebelah kanan. Langsung disergah dengan mati muda. Baru mulai sudah sekencang ini. Di depan pentas, direspon lunas dengan crowd surfing premature sejak intro. Energi penonton meluap, beberapa mengambil posisi naik ke barikade siap melompat di kerumunan. Hujan mata pisau, tanah indah dan GAS adalah beberapa song list setelahnya.
Farid adalah frontman yang cukup cakap berbicara di panggung. Saya ingat betul saat dia memberikan hormat ke penampil sebelumnya, dia menyebut “The Mighty Efek Rumah Kaca”. Bentuk kekaguman dan penghormatan saya untuk ERK terwakilkan manis via Farid. Di momen itu saya semakin ngefans dengan peminum satu ini dan berharap Cholil cs di dalam sarnafil mendengarkan salam hormat itu.
Pentas kali ini saya perdana mendengarkan mesin dibawakan live. Mungkin belum sefamiliar GAS di set album II bagi para penonton. Namun apresiasi luar biasa dari saya untuk isi lagu ini. Lagu bagi para pekerja setara buruh dengan patron isu kapitalisme. Hormat setinggi-tinggiya untuk kalian yang dengan keringat sendiri merawat hidup melalui kemampuan dan kreatif masing-masing, begitu kurang lebih prolog dari Farid sebelum mesin berkumandang. “Untuk kau yang sudah bekerja sepenuhmu, terinjak-injak hakmu dan tak terbayar layak upahmu, Tuhan yang maha bekerja selalu bersamamu”.
Saya masih di seputaran front of house. Pentas sudah di ujung, waktunya hari terakhir peradaban bertagar menjadi penutup megah. “Terimakasih telah mengambil keputusan mendukung fstvlst” selalu menjadi kalimat pamungkas Farid di setiap panggung. Para berkerumun sudah siap dengan circlepit di tengah, penghabisan energi yang tersisa malam itu.
Melihat festival musik selalu menjadi hal yang menyenangkan. Bertemu kawan lama dengan selera musik sama, berteriak lantang saat lagu favorit dibawakan dan masih bernyanyi tidak jelas di sepanjang jalan menuju pulang adalah hal yang selalu terjadi pada saya setelah menonton konser. Dan malam itu, terberkatilah saya melihat dua frontman idola berdiri di panggung yang sama. Trio pop yang tak lagi minimalis ditambah band lokal yang nyaris rock hampir seni menjadi salah satu gigs terbaik saya di akhir tahun.

















