Bertemu-Berpisah
Banyak hal yang bisa rusak dengan mudah dan mustahil dikembalikan secara utuh. Ada yang sudah terprediksi dengan ukuran angka, ada juga yang tiba-tiba saja terjadi. Umumnya, perihal hubungan manusia masuk dalam kategori tidak terprediksi dan serba mendadak. Itulah mengapa muncul ungkapan “love at the first sight”. Tapi bisa juga bertakdir sebaliknya. Kamu yang semalam masih menjemputnya, satu jam menunggunya berdandan, berbalas menyeka keringat sehabis menyantap makanan pedas, begitu saja menjadi orang asing esok paginya. Seperti Tom yang langsung jatuh hati kepada Summer Finn hanya dengan ucapan “I love The Smiths” di dalam lift. Namun semudah itu pula si brengsek Summer berpaling dan tanpa dosa mengatakan, “I just woke up one day and I knew, what I was never sure with you.” Ini tendensius, tapi ya sudahlah. Saya tetap ngotot Summer lah yang salah dan tidak melayani opini lain.
Sebenarnya tulisan ini bukanlah menyadur pada kisah hubungan dramatis yang plotnya tidak bisa ditebak seperti film Predestination. Semuanya sudah terprediksi dengan sangat detail. Tinggal menunggu waktu saja kapan ban pecah dan perjalanan kita berhenti seketika. Tapi sekali lagi aku tegaskan dan kurasa kamu juga setuju bahwa insting manusia memanglah cenderung selalu bermain aman. Sesuatu hal yang dipikir berakhir buruk dan menakutkan sering dielakkan dan tidak jantan dihadapi. Kebanyakan orang sering terjebak dalam harapan utopis, tenggelam dalam ekspestasinya sendiri yang bahkan tidak masuk akal sama sekali. Berangan kalau semua akan baik-baik saja dan berakhir nircela seakan Tuhan menciptakan keberuntungan hanya untuk dirinya sendiri. Lalu ketika semua tidak sesuai harapan, dengan gampangnya mengumpat sepanjang waktu, merasa orang paling menderita dan melabeli bahwa hidup tidak pernah adil.
Aku tahu kalau perjalanan kita akan sampai ke muara cepat atau lambat. Setelahnya, semua akan berakhir sunyi, mampus tanpa perayaan. Kita sepakat hanya akan mengulur-ulur sampai suatu ketika yang sudah lama kita tahu, yaitu kembali menjadi orang asing tanpa hubungan apapun.
Tadinya aku ingin mengeluh, mengapa penghujung waktu bersamamu terasa sangat melelahkan. Aku sudah menurunkan egoku serendah-rendahnya. Segala cara sudah dicoba namun tetap nihil. Mungkin kamu menganggap caraku aneh, tidak romantis, kuno dan terlalu memaksa. Atau mungkin di matamu aku hanya seorang amatiran yang tidak cakap melakukan apapun sehingga semua usahaku akhirnya cuma bernilai nol. Sekian waktu mencoba mengolah dan mencerna apa yang salah dari semua tersebut, konklusinya mungkin disini. Kamu sudah mendapatkan apa yang selama ini menjadi bayangan dan ekspektasimu dalam sebuah hubungan pada sosok lain.
Memang harus berakhir. Dalam anganmu, pilihan jatuh dalam rute perjalanan yang sejuk, melewati tengah perkebunan teh sambil sesekali menyapa petani yang sibuk memetik daun daripada berjuang di jalan bebatuan, penuh belukar dan terik menyengat bersamaku. Ya sudah, memang itu pilihanmu. Memaksakan untuk terus bersama tanpa mempedulikan perasaanmu tentulah egois. Sikap seperti itu hanya berdasar rasa kuasa dan kepemilikan yang tidak sehat, bukan atas dasar kasih sayang dua arah.
Tapi yang paling penting kukira kamu mengenalku sebagai orang baik, vice versa. Aku tidak melepasmu begitu saja. Semoga hal-hal yang kulakukan walaupun di matamu hanya remeh temeh, otakmu mengingatnya sebagai maha upayaku untuk terus bersamamu. Toh aku sudah cukup terlatih menghadapi momen busuk seperti ini walaupun harus diakui kali ini adalah yang terburuk.
Ah, sudahlah terlalu banyak meracau sepertinya. Doaku, semoga pandemi ini segera berakhir dan kehidupan berjalan baik bagi kita masing-masing.










