Kisah Komeng 747/SPA/2003 - Tak Pernah Mati, Tak Akan Berhenti
Selasa. 16 Februari 2010. 06.00 WIB.
Saya memandangi perahu karet berwarna merah dengan merk Base Marine itu. Masih ingat setiap detail kejadian hari-hari sebelumnya. pada Hari Senin, Minggu, Sabtu, dan jumat.
Saya masih ingat ketika pertama ketika berjumpa dengan perahu karet baru berwarna merah itu. Perahu ketiga yang dimiliki oleh Kelompok Pecinta Alam STAPALA. Membawa ambisi yang selama ini saya simpan. Ambisi yang keluar saat dengan mata kepala sendiri menyaksikan magisnya aliran sungai itu. Sungai Cikandang.
Saya masih ingat ketika untuk kali pertama tiba di Poskost. Sekretariat sementara STAPALA. Ada Bopil disana. Pria tinggi kurus dengan raut muka lesu. Yang kemudian saya tahu bahwa dia adalah anggota STAPALA ke-880. Ketua Divisi Olahraga Arus Deras STAPALA paling baru. Yang saat itu terlihat sedang sangat sibuk. Sibuk menghubungi ke-15 rekan yang rencananya akan ikut serta dalam pengarungan di sungai Cikandang. Sibuk mempersiapkan peralatan yang nanti akan digunakan untuk pengarungan.
Saya masih ingat ketika tidak ada ritual doa bersama untuk melepas kepergian kami. Kepergian dengan tujuan berarung jeram di Sungai Cikandang, Kabupaten Garut, Kecamatan Pakenjeng.
Saya masih ingat ketika tidak lama setelah mobil kami pacu, Qun-qun – 735/SPA/2003 bertanya tentang kondisi mobil yang tidak saya, Bopil, Coti – 888/SPA/2009, Gambreng – 857/SPA/2009, dan Geplak – 820/SPA/2007 tanggapi. Tidak tertarik rasanya menjawab pertanyaan itu. Kami lebih tertarik dengan celotehan-celotehan ceria saat itu. Tentang Gambreng. Apa saja tentang Gambreng. Apa saja yang keluar dari mulut Gambreng. Yang memang sangat menghibur. Yang memang membuat kami lupa betapa pentingnya pertanyaan Qun-qun tadi.
Saya masih ingat ketika mobil Panther pinjaman milik Dandosi Matram – 101/SPA/1985 kehilangan tenaganya saat melintas di kilometer 70 Tol Cipularang. Yang membuat kami kebingungan. Kebingungan karena tidak ada satupun diantara kami yang paham tentang system kerja sebuah mobil. Yang kemudian kami mengambil solusi singkat menghubungi Jasa Marga. Agar supaya si Panther diderek saja. Diderek supaya sampai di bengkel. Diperbaiki. Yang karena hal ini mengakibatkan saya menjadi memberi tahu Pak Yunus, Ayahanda Komo – 800/SPA/2006, dan Uwe, anggota Mahasiswa Pecinta Alam Regis, bahwa kedatangan kami akan tertunda cukup lama.
Saya masih ingat ketika kami harus menunggu selama 8 jam sampai pada esok hari sang montir berkata bahwa mobil sudah aman dan nyaman. Yang kemudian kami menjadi bisa melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Garut. Melewati tanjakan Nagrek yang selalu kita dengar pada saat musim Lebaran Tiba. Melewati Kadungora. Melewati Leles. Melewati Tarogong. Yang rupanya melewati tempat yang sudah saya dan Pak Yunus sepakati untuk kami bertemu. Alangkah baiknya itu Pak Yunus. Baik karena mau merapat menuju tempat kami. Menjemput kami. Mengantarkan Ke sebuah tempat peristirahatan miliknya yang suasananya khas pedesaan sekali.
Saya masih ingat ketika disambut oleh ibunda Komo. Disambut kedua Asisten Ibunda Komo. Disambut ikan-ikan yang sedang berenang di kolam. Disambut oleh masakan yang sengaja dipersiapkan untuk kami yang memang sangat kelaparan. Sehingga kami menjadi makan. Makan sambil menikmati sejuknya udara di Kabupaten Garut.
Saya masih ingat ketika malam hari sebelum pengarungan kami berdiskusi tentang teknis pengarungan yang akan kami lakukan besok. Diskusi yang sangat singkat. Diskusi yang hanya tentang tentang kondisi ideal pengarungan. Diskusi yang tidak memikirkan tentang kondisi paling buruk yang bisa menimpa siapa saja saat berarung jeram. Diskusi yang memang seperti inilah biasa kami, anggota Divisi Arung Jeram STAPALA, lakukan.
Saya masih ingat antusiasme ke-7 personil untuk bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Untuk segera pamit dan mohon doa kepada ayah dan ibunda Komo untuk melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 3 jam menuju Kecamatan Pakenjeng.
Saya masih ingat ketika kami tiba di lokasi start. Lokasi start yang berupa jembatan. Jembatan Pakenjeng namanya. Jembatan yang di bawahnya mengalir deras air sungai Cikandang. Yang menimbulkan senyum sumringah ke-7 personil. Yang membuat perasaan penduduk sekitar menjadi ngeri sekaligus heran. Heran atas senyum sumringah kami. Kontras sekali.
Saya masih ingat ketika kami dengan semangat memompa perahu. Menuruni areal persawahan terjal yang walaupun sudah diterasering tetap membuat tenaga kami harus keluar banyak-banyak. Yang lalu kami berdoa. Doa supaya selamat selama pengarungan. Yang tidak lama kemudian perahu kami sudah ada di aliran utama sungai Cikandang. Diaduk-aduk oleh jeram sungai Cikandang. Melewati jeram demi jeram dengan ritme yang tidak beraturan. Disertai teriakan aba-aba keluar saling bersahutan. Rasa takut saya tidak pernah sebesar ini saya rasa.
Saya masih ingat ketika perahu kami terbalik dengan cepat. Terbalik karena sisi sebelah kanannya menabrak batu. Yang dengan sukses mengakibatkan ke-7 personil berhamburan. Berhamburan tanpa tahu kondisi masing-masing.
Saya masih ingat ketika dengan penuh percaya diri, layaknya Guy Pierce menjinakkan instalasi bom bunuh diri dalam film Hurt Locker, berusaha menyelamatkan Geplak dan Kehed yang timbul tenggelam diantara jeram Sungai Cikandang. Berenang. Mengatur nafas. Mengatur posisi tubuh supaya tidak terantuk bebatuan di dasar sungai. Satu, dua, tiga, sampai akhirnya saya tidak ingat lagi sudah berapa jeram saya lalui. Kemudian menyerah. Menjadi pengecut. Pengecut karena memilih untuk menepi. Karena membiarkan Geplak dan Kehed digulung jeram Sungai Cikandang.
Saya masih ingat ketika berjalan menyusuri tepian sungai dan melihat seseorang berpakaian lengkap arung jeram. Yang kemudian segera saya dekati. Yang kemudian segera dia berucap tentang tentang dua orang hanyut yang tidak bisa dia selamatkan. Yang mengaku dari Depok. Yang menyuruh saya untuk mencari bantuan. Mencari bantuan warga.
Saya masih ingat ketika dengan susah payah melewati perbukitan terjal mencari jalan desa. Untuk mencari bapak tukang ojeg. Yang bisa mengantarkan saya menuju kantor kecamatan supaya bisa memberi tahu tentang apa yang sedang terjadi. Supaya bisa memberikan pengumuman kepada seluruh warga Kecamatan yang ada di sekitar Daerah Aliran Sungai bahwa ada dua orang yang hanyut dibawa ganasnya aliran sungai cikandang.
Saya masih ingat ekspresi muka Bopil yang saat itu tidak sengaja saya jumpai dalam perjalanan menuju ke kantor kecamatan. Yang lalu saya ajak menuju kantor kecamatan. Yang kemudian saya suruh untuk memberi tahu siapa saja di kantor kecamatan tentang kejadian yang sudah menimpa kami.
Saya masih ingat ketika bapak tukang ojeg memacu mesin pencari nafkahnya seolah kesetanan menuju lokasi peristirahatan pengarungan di Desa Bokor. Lokasi yang saya rasa tidak terlalu dekat ataupun tidak terlalu jauh dengan tempat kejadian untuk menemukan sang korban.
Saya masih ingat ketika tiba di Desa Bokor dan melihat kerumunan orang di sana yang sudah siap siaga memberikan pertolongan apabila korban melintasi daerah tersebut. Yang saat itu juga saya berpikir bahwa rasa gotong royong di sana masih kuat sekali.
Saya masih ingat ketika pada pukul 14.00 mendapatkan informasi dari Pak Lurah bahwa kedua korban sudah ditemukan.
Saya masih ingat perasaan was-was saya yang berusaha kembali ke kantor kecamatan. Was-was karena nasib teman teman saya yang lain belum jelas. Perahu karet merah itu pun begitu. Peralatannya pun begitu.
Saya masih ingat ketika tiba di kantor kecamatan disambut oleh Qun-qun, Bopil, Mapala UI, Pihak Kecamatan, Pihak Kepolisian, dan warga sekitar. Yang kemudian segera saya ketahui bahwa perahu sudah aman. Sedang dievakuasi oleh Gambreng dan Coti. Sang korban pun sudah aman. Dan sedang dalam perjalanan menuju kantor kecamatan.
Saya masih ingat perasaan lega ketika memeluk Geplak dan Kehed setiba di puskesmas kecamatan. Melihat Geplak tersenyum. Melihat Kehed dengan raut muka pucat dan luka memar di sekitar kaki. Lega karena mereka masih hidup.
Saya masih ingat ketika kembali ke ruangan kecamatan dan berada satu ruangan dengan tim arung jeram dari Depok. Yang kemudian saya tahu bahwa mereka berasal dari Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Indonesia. Yang kemudian mereka berceloteh tentang keberanian, kenekatan, dan kesembronoan kami atas apa yang sudah kami lakukan. Malu sekali rasanya.
Saya masih ingat ketika menjelang maghrib kami harus menuju ke kantor polisi. Bersama Qun-qun. Untuk untuk dimintai keterangan. Duduk layaknya terdakwa kasus pencurian satu ekor ayam di samping Bapak Polisi yang sedang mengajukan daftar pertanyaan yang akan dia tuangkan bersama jawaban-jawaban kami di Berita Acara Pemeriksaan.
Saya masih ingat ketika malam setelah kejadian disumpah serapahi oleh salah seorang penduduk tentang tindakan bodoh yang telah kami lakukan. Sumpah serapah yang memang sangat jujur. Yang kemudian si penduduk menjadi bercerita tentang mitos-mitos sungai cikandang. Cerita mistis yang selalu melekat dengan adat-adat ketimuran.
Saya masih ingat ketika keesokan harinya kami berpamitan kepada seluruh komponen masyarakat kecamatan pakenjeng. Bapak Camat. Bapak Polisi. Bapak Mantri. Bapak tukang ojeg. Anak-anak. Anjing-anjing. Berterima kasih atas bantuan yang telah mereka berikan. Yang lalu kami memacu si Panther kembali menuju rumah Komo. Menatap aliran sungai cikandang yang semakin deras. Meninggalkannya.
Saya masih ingat perjalanan pulang yang masih penuh dengan kesialan. Beramai-ramai mendorong mobil supaya bisa melewati tanjakan setengah vertical. Mendorong mobil yang mogok entah karena apa di tengah keramaian pintu tol. Meminta pengawalan dari Sheback – 442/SPA/1994 melewati tanjakan Nagrek itu lagi. Perjalanan yang memang sangat lama. Yang mengakibatkan kami saling berbagi cerita. Tentang posko. Tentang arung jeram terutama.
Saya masih ingat ketika pada jam 03.00 WIB tiba kembali di Poskost. Dengan semangat Bopil mengajak kami untuk membersihkan peralatan saat itu juga. Membuka lipatan perahu. Memompa. Membersihkan setiap sudut dari kotoran yang masih tertinggal. Membilas. Lalu menjemurnya.
Saya masih memandangi perahu karet merah itu. Lalu berkata dalam hati. Terima kasih Tuhan. Terima kasih untuk pengalaman yang Engkau jual dengan harga murah. Ada perasaan yang tidak bisa saya tolak. Saya tidak akan berhenti sampai di sini. Saya akan selalu mencari sungai-sungai baru. Untuk belajar. Untuk bersama-sama. Tanpa komando. Menajamkan intuisi. Dan memperluas pengetahuan.
Irfan Rinaldi (Komeng 747/SPA//2003)
Auditor PT. Kereta Api Indonesia