Kisah Qunqun (753/SPA/2003) - Perahu dan Dayung Itu Ternyata Tidak Ada
Prosesi diklat dan pelantikan pun telah usai. Semenjak itulah mulai memberanikan diri untuk menampakkan wajah di Posko G-112.
Canggung dan segan untuk berada di ruangan itu masih sangat terasa, belum ada sapa dan canda. Hanya teguran ringan saja yang terucap dan terdengar.
Berusaha beradaptasi dengan suasana Posko memang lumayan menyita energi, terlebih bahasa nasional di posko adalah bahasa jawa yang terdengar tidak familiar di telinga saya. Tapi ada pertanyaan besar yang membuat saya terus berusaha beradaptasi, hingga jawaban itu saya dapatkan.
Setelah mengetahui ternyata perahu dan dayung itu tidak ada, rasa kecewa mulai merasuki dan keputusasaan pun sedikit demi sedikit hinggap.
Terus mau ngapain lagi di Stapala???
Pertanyaan itu terbersit karena motivasi untuk ikut salah satu organisasi yang ada di kampus ini adalah melanjutkan hobi Arung Jeram atau ORAD yang dulu semenjak SMA pernah digeluti ketika bergabung dengan kelompok pecinta alam.
Tapi rasa penasaran masih belum habis. Masa sih divisinya ada, kok peralatannya gak ada.
Waktu saya resmi menjadi anggota Stapala, ORAD (Olah Raga Arus Deras) tergabung ke dalam divisi CORAD yang merupakan singkatan dari Caving dan ORAD.
Namun entah mengapa jejak kegiatan dan bahkan peralatannya pun tidak ada di Posko Stapala.
Dan untuk beralih kekegiatan di divisi lain pun belum ada hasrat, maka mulailah saya mencari rekam jejak ORAD di Stapala. Mulai dengan melihat foto-foto kegiatan yang terdapat di setumpukan album foto yang ada di posko atau file foto di komputer, bertanya ke senior yang ada di kampus maupun yang di luar kampus.
Kegiatan ORAD di STAPALA tidak berhasil saya temukan rekam jejaknya.
Mulai lagi rasa malas itu menghantui, ya mau apalagi, yang selama ini menarik minat saya untuk berkegiatan di alam bebas dan untuk bergabung dengan Stapala ya kegiatan ORAD itu. Dan sekarang kenyataannya, TIDAK ADA meeeeeen!!!
Mungkin karena hasrat untuk bermain basah di sungai masih kuat, rasa malas itu berganti dengan semangat untuk menciptakan.
Ya, kenapa saya gak bikin aja mulai sekarang???
Suatuh ari pas lagi berkunjung ke MB ITI di Serpong, liat jadwal kegiatan yang terpampang di whiteboard:
“Latihan Gabungan Arung Jeram”,
Tempat :Universitas Pancasila Lenteng Agung.
Yihaaaa, kesempatan itu akhirnya datang juga. Dengan mengajak beberapa teman seangkatan, akhirnya kami memberanikan diri untuk mengikuti latihan gabungan arung jeram Mapala se-DKI.
Besar harapan, hasrat untuk bermain basah di sungai bisa tersalurkan. Harapan kami waktu itu dengan ikut latgab, kami bisa “nebeng” arung jeram dengan modal badan doang. Terang saja kami bermodal badan doang, peralatan kita tak punya, hiks. :(
(Foto: Saya dan Andec, di sela istirahat latihan gabungan ORAD Mapala se-DKI Jakarta di Sungai Cisdane)
Bergabungnya saya dan beberapa teman seangkatan dalam kegiatan latgab arung jeram Mapala se-DKI cukup menambah semangat. Meskipun rasa minder pas ikutan latgab itu sangat besar.
Setelah pertama kalinya mengikuti latgab itu, kami jadi tau beberapa Mapala di DKI yang mempunyai peralatan untuk ORAD.
Oke, target selanjutnya adalah minjem alat buat ngarung atau latihan dayung. Dan diputuskan targetnya adalah mapala Stacia yang berada di kampus STIE Ahmad Dahlan Ciputat, dan lokasi tempat latihan kami di Situ Gintung rencananya.
Pendekatan berlangsung dan akhirnya perahu karet yang tidak seperti perahu untuk berarung jeram pun dipinjamkan. Dengan penuh semangat kami berlatih ditemani rekan dari Stacia. Oh ya, waktu itu Alhamdulillah kami sudah punya pelampung, kami sebut pelampung nelayan karena konon katanya di tempat pelampung itu dibeli, yang make ya para nelayan untuk melaut. Jadi bukan pelampung standar ORAD, hehehe … dan uji kelayakannya pun kami lakukan pada saat itu juga dengan memaksasa Konyit untuk pake dan nyemplung ke Situ Gintung, alhasil dia mengambang. Kesimpulan kami, pelampung itu layak kami pakai, karena pada saat itu, Konyitlah yang punya bobot lumayan berat.
Kisah seru pas latihan itu mulai terdengar beberapa kawan yang lain di posko. Dengung ORAD mulai terasa nih.
Putar otak lagi, gimana caranya biar tambah heboh dan semangat ini terus ada.
Dapat kabar, bahwa mapala Universitas Winaya Mukti (Unwim) di Jati Nangor bakal ngadain pelatihan dasar arung jeram untuk umum. Yes, ini kesempatan buat terus ngeracunin yang lain. Akhirnya terkumpullah 9 orang anggota Stapala, termasuk saya, untuk mengikuti pelatihan itu dengan modal sendiri.
Singkat cerita, sepulang dari pelatihan itu, racun ORAD sudah mulai merasuk, terutama di kedelapan orang itu.Senang dan semangat pun terus naik.
Semangat itulah yang akhirnya memacu saya dan teman-teman yang lain untuk membentuk divisi ORAD yang terpisah dari Caving.
Disela–sela semangat yang terus membuncah, saya teringat sebuah janji atau kalo boleh dibilang sebuah tantangan dari seorang senior, yaitu bang Gustav, yang pada waktu itu, tepatnya pada saat beliau mengisi materi kelas pada saat diklat, beliau bilang, “Buat yang nanti suka arung jeram, kalo sudah jadi anggota Stapala, datang aja ke tempat saya di Jawa Timur buat berarung jeram”. Seperti itulah kurang lebih kalimat yang beliau sampaikan.
Karena rasa hati ingin sekali mencoba berarung jeram di sana dan menagih janji beliau, akhirnya rencana perjalanan ke Sungai Pekalen kami buat. Alhasil perjalanan ke Pekalen bukan hanya diikut ioleh teman-teman seperjuangan, tapi ternyata peminatnya banyak, hingga mencapai 21 orang anggota Stapala.
Pekalen pun berhasil diarungi dan semua puas. Dan semua tak lepas dari peran Bang Gustav selaku tuan rumah dan Tamsil selaku EO.
Sepulang dari Pekalen, ORAD semakin terasa kehadirannya di STAPALA.
(Foto: Skipper: Andec, Awak belakang: Gama dan Eel, awak tengah : Imam dan Komeng, awak depan: Zabun dan saya. Memberanikan diri untuk membawa sendiri perahu dari operator Songa. Bermodalkan ilmu pada saat pelatihan di Hiawatha, kami mencoba mengarungi derasnya dan jernihnya jeram Sungai Pekalen dengan beberapa kali berganti skipper untuk menjajal skill.)
Langkah demi langkah kami lakukan untuk mempunyai alat–alat ORAD, mulai dari dayung, pelampung, helm, dan yang paling penting adalah perahu.
Mulai dari urunan melalui kencleng, pembuatan kaos sebagai dana usaha, minta ijin BPH buat jualan barang bekas Posko yang sudah nggak kepakai (jadi tukang rongsokan bro), hingga meminta bantuan senior.
Sampai suatu saat, setelah melalui berbagai macam jalan, Stapala pun mempunyai perahu pertamanya. Yang dibeli dari hasil mengumpulkan dana usaha serta sokongan dari senior Stapala, terutama bang Ossy yang tak ada hentinya menyemangati dalam pengadaan perahu ini (thanks bang Ossy).
Dari beberapa pertimbangan, akhirnya perahu kami beli dari sebuah operator arung jeram yang sudah kami kenal, yaitu Alamanda yang ada di Sukabumi. Alhamdulillah dengan harga segitu dapat perahu dan beberapa alat yang lainnya dengan kualitas lumayan.
HOREEE…. Akhirnya Stapala punya perahu ORAD.
Sejak itulah divisi ORAD di Stapala terpisah dari Caving dan sejak itu pulalah:
- Latihan dayung di empang Kalimongso sering dilakukan
- Ngarung pas banjir di sungai depan kampus
- Latihan dayung di Situ Gintung, Situ Parigi bertambah frekuensinya
- Mulai berani ikutan lomba dayung (di UNISMA Bekasi dan di Danau Metropolis)
- Pengarungan Cisadane pun bisa pake perahu sendiri.
Perahu itu dikasih nama si Koneng, karena warnanya yang kuning. Dan kehadirannya di Posko Stapala sangat membawa arti dan membawa terus semangat berarung jeram bagi anggota Stapala sekarang, meskipun kahadirannya sekarang telah tergantikan.
JAYA TERUS ORAD STAPALA !!!
Muhammad Muttaqun (Qunqun 753/SPA/2003)