Kau tau Allah MahaBaik, kan?
Cinta itu katanya sering datang terlambat. Yang dicinta pergi, baru kita merasa kehilangan, baru terasa hadirnya menyenangkan, melengkapi kita. Setelah pergi menangis sesenggukan, menyesal mengapa ia terlewatkan. Terus nyanyi deh lagu Maudy Ayunda. Hehe..
Bukan, bukan tentang cinta yang dimaksud Maudy di lagunya. Ramadan kali ini terasa berbeda, selain karena faktor jauh dari keluarga, sedang ujian, ada hati yang berbeda. Aku merasakan betapa lalai beribadah dalam bulan mulia penuh ampunan. Dan itu kusesali persiiiis di penghujung bulan. Galau karna melewatkan banyak witir dengan alasan mau baca muqoror(rd: diktat) bahkan beberapa kali memilih tarawih di rumah, belum genap selesai, sudah ketiduran. Allah.. Hamba macam apa aku ini yang mengaku-aku mencintaiMu?
Ah Ramadan cepat sekali berlalu.. Berbekal kegalauan, aku memutuskan untuk menghadiri buka bersama Syeikh Hisyam di Masjid Zhohir Baibars. Sepulang dari buka bersama, aku mau langsung pulang ngga mau tarawih (lagi-lagi beralasan lagi galau).
Tapi, kakiku seakan tertuntun untuk mengikuti kedua temanku dan terus melangkah ke Masjid Al-azhar tanpa pikir. Yaudahlah, yaaa..
Wudhu, kemudian Sholat isya disambung tarawih yang ternyata cuma delapan rokaat. Pas mau witir, ragu-ragu. Ikut ngga ya.. Ikut ngga yaa.. Ikutlah, lanjuuut..
Ya Allah, pas sampai di do'a qunut, pecahlah tangisanku. Semua do'a yang pernah aku do'akan terkumpul disana. Mulai dari memohon ampunan disisa bulan Ramadan, minta dipertemukan kembali tahun depan, memohon diterimanya amal puasa dan ibadah.. Kemudian do'a keselamatan dunia akhirat, meminta diwafatkan dalam keadaan baik dan diberikan kemudahan sakarotul maut.. Dilanjut do'a kesuksesan dalam ujian yang sedang dihadapi kami, do'a agar ilmu kami bermanfaat. Tangisanku semakin pecah ketika Imam membacakan doa memohon Allah untuk menjaga seluruh keluarga kami (ini yang aku sering resahkan akhir-akhir ini). Allah...
Kau tau rasanya seperti apa? Aku seperti dituntun dan dibisiki lembut oleh Sang Mahacinta. "Aisyah, belum terlambat, Ramadan belum berakhir.. Ini yang terakhir, ayo langkahkan kakimu kesana.. Kuberi kau sayangKu.." semua kegelisahan terjawab.
Ah, hamba masih bandel, hamba masih belum serius mencintaiMu.. Tapi Engkau benar-benar tak pernah berhenti mencintaiku. Aku cinta, aku semakin cinta, dan semoga cinta ini terus terpupuk dan semakin subur.










