mana dulu yang pernah bilang "jangan datang ke hidupku lagi, tolong pergi, jangan kembali" — "aku harus menikah dengan perempuan yang sama2 kota ××××××" — sedangkan ia beda pulau denganku.
oke setelah dirasa pahit seperti sampah yang dibuang seenaknya, padahal pernah manis seperti permen yang diidamkan bocah. pergi itulah yang kamu inginkan.
aku pergi, diam tak bersuara.
sebulan kemudian, aku baru mendengar kabar dirimu melangsungkan sebuah ikatan suci nan sakral. bersama perempuan yang satu kota denganku. aku tidak mengetahui perempuan itu, tapi sahabatku mengenalnya.
menangis haru pun pecah. tak percaya sebab memang dirimu ingin menikah, tapi saat aku bertanya apakah sudah memiliki calon, dirimu mengatakan belum. tapiii mengapa setelah seminggu kedepan dari aku pergi, dirimu secepat itu melangsungkan pernikahan?
aku lagi-lagi berusaha menata hatiku, jiwaku. ragaku. aku mencoba melupakanmu. namun tak semudah yang dibayangkan, menyadari hal itu sulit, aku tak memaksa. sesekali menangis untuk menyesalinya dan demi melegakan raga. kita tidak pernah bertemu lagi, walaupun satu kota karna dirimu tinggal dengan istrimu disini. tapi semesta seolah menyetujui dan mendukungku untuk tidak pernah bertemu denganmu lagi.
Luka ini mengajarkanku; bahwa aku berharga.
satu tahun kemudian dirimu hadir menyapaku. dirimu seperti orang asing yang tidak tahu adab, tidak tahu etika, serta tidak bisa menghargai; perasaanku. kamu seperti sok mengerti bahwa diri dan perasaanku sudah baik baik saja dengan adanya perlakuan dan sikapmu. seolah kamu melupakan ucapanmu yang pernah kamu lontarkan. semakin banyak dirimu mengirimkan pesan, aku semakin menangis. perasaan dengan penuh kebingungan dan merasa tidak dihargai.
tidak hanya menyapaku, dirimu juga mengajakku bertemu di tempat yang dapat memicu —traumaku demi sebuah ganjelmu. lihat betapa egoisnya dirimu, seenaknya saja dan hanya memikirkan dirimu saja, tidak adanya empati pada perasaanku. entah ganjelnya apa dan seperti apa bentuknya, namun dengan tegas aku menolak ajakan dia. aku menghargai perempuan yang sudah bersamanya setahun ini, aku menghargai perasaan perempuan itu, walaupun bertemu hanya berdua dengannya, tapi aku tetap tidak mau. aku mengerti ia sudah menikah. kita sudah selesai jauh sebelum dirimu menikah.
kenapa datang kembali? mengapa dengan mudahnya dirimu mengajak bertemu seolah menarikku untuk menyelesaikan ganjelmu, pdhl ganjelmu bukan tanggung jwbku. pesanmu seolah seperti teka teki bagiku, memaksa ku untuk memahami makna ganjel serta tujuan kembali hadirnya dirimu.
Aku tidak membalas, aku memilih sembuh.