Dialog yang Terlambat;
"Kalau sudah tahu tak sejalan, buat apa dipertahankan? Kalau sudah tahu tak sepemikiran, buat apa menjadi bahan pertimbangan? Kalau sudah tahu tak ada restu, buat apa diteruskan kalau keberkahan itu hilang?"
Dahulu, kata-kataku itu adalah angin yang kau biarkan lewat tanpa sempat menyentuh logika.
Aku berdiri di hadapanmu, merapal mantra tentang "..jalan yang tak seiring, pikiran yang tak seirama, dan restu yang enggan bertamu.." Namun bagimu, saat itu aku hanyalah suara bising di tengah ambisimu yang sedang menyala-nyala.
Malam tadi, kau datang kembali. Bukan dengan kemenangan yang dulu kau agung-agungkan, melainkan dengan raut wajah yang luruh, seperti bangunan tua yang dipaksa tegak tanpa fondasi keberkahan.
"Aku bertahan karena yakin," katamu pelan.
Padahal, keyakinan tanpa restu hanyalah bentuk lain dari keras kepala yang sedang menyamar.
Kini, cerita tentang keteguhanmu berbuah empedu. Tentang pahitnya hari-hari yang kau jalani bersamanya, tanpa perlindungan doa, persis seperti apa yang aku takutkan tiga tahun silam. Ternyata, memaksakan sesuatu yang tak sejalan hanya akan membuat kita sampai pada tujuan yang salah, dengan jiwa yang penuh luka menganga.
Ada rasa sesak yang aneh saat melihatmu sekarang. Ingin rasanya aku berkata, "Sudah kukatakan," namun lidahku kelu. Melihatmu hancur oleh keputusanmu sendiri adalah cara semesta menunjukkan bahwa keberkahan yang hilang tidak pernah bisa digantikan oleh usaha sekeras apa pun.
Kau telah sampai pada titik di mana ingatanmu tentang ucapanku di tahun 2022 bukan lagi sekadar kalimat, melainkan sebuah kebenaran yang datang terlambat.
Kini, aku hanya bisa bilang : "Hidupmu tidak berakhir saat kau menyadari kesalahanmu. Hidupmu baru saja dimulai kembali dengan mata yang jauh lebih terbuka, tapi bukan bersamaku.."
~ buat seseorang yg tadi malam datang










