Memahami sesuatu yang telah usai
Memahami sesuatu yang telah usai memanglah tidak semudah untuk memulai. Ketika sebuah pertanyaan kenapa harus ? menjadi sebuah pertanyaan yang kerap kali bernaung di kepala. Kenapa harus terjadi ? kenapa harus aku ? kenapa harus terjadi setelah aku berjalan sejauh ini ?. pertanyaan yang tidak jauh seperti itu. Tidak sedikit memahami sesuatu yang telah usai berkelik pada sebuah kata ikhlas dan sabar. Ikhlas dan sabar, mereka beda bentuk namun satu rupa. Berujung pada sebuah arti untuk mengembalikan apapun yang terjadi kepada-Nya. Bukankah sesuatu yang telah usai itu tidak jauh dengan skenario-Nya ?. kamu tidak perlu bersedih berlarut-larut ketika Allah sedang menyiapkan hal baru yang lebih indah dari yang telah usai. Untuk memahami sesuatu yang telah usai, kamu boleh menangis mengunggu, mengajukan pertanyaan sebanyak-banyaknya kepadaNya, mengutuk diri sendiri hingga kamu lelah. Lalu menyadari bahwa masih banyak hal yang harus dimulai, bahwa ada yang harus dibenahi. Seakan seperti anak kecil yang belajar merangkak, kamu pun harus belajar berdiri untuk bangkit. Berlari hingga lupa sudah sejauh mana kamu berlari dan lupa sampai mana harus berhenti. Banyak yang harus dipelajari saat kamu berlari, hingga saatnya kau berhenti untuk sebuah hal yang harus dimulai dengan lebih baik. Tanpa harus menoleh, belajarlah dari yang telah usai. Karena untuk memahami yang telah usai, hanya perlu memahami Allah sedang mengganti dengan sebaik baiknya pengganti.
Dwi Ayu Ratnasari.
Puger, 16 Desember 2016 2.26 PM.
















