Menikahi Kematian
Segala sesuatu itu bisa menjadi ujian, termasuk yang sedang kamu cintai. Rasa kenyamananmu saat ini pun bisa menjadi ujian, entah nyaman dengan keadaan atau seseorang. Ujian dalam arti ia bisa melenakanmu dari kesadaran bahwa semuanya itu milik-Nya, dan saat Dia ambil apa yang sedang dititipkannya padamu, maka tidak berhak bagimu untuk marah atau kesal. Sejatinya kamu hanya dititipi, bukan memiliki.
Bukan satu dua orang yang tidak sadar bahwa apa yang dimilikinya adalah titipan, mungkin aku dan kamu juga terkadang demikian. Semakin banyak dititipi semakin lupa bahwa itu titipan, bukan milik pribadi, dan semakin diambil titipannya akan semakin marah dan mencaci, entah yang dicaci adalah keadaan atau sang pemberi.
Tidak terkecuali pada pasanganmu, kelak saat kamu mencintainya berlebihan, ingatlah bahwa ia akan mati, ia akan kembali sabagaimana kamu juga nanti. Maka pastikanlah selalu ingat bahwa kamu hanya seorang al faqir, miskin. Kamu hanya dititipi dunia ini, dan bukan dibawa sampai mati. Belum lagi soal tanggung jawab atas apa yang dititipkan. Istri atau suamimu nanti juga akan ada hisabnya, ada perhitungannya sebagaimana barang-barangmu yang lain saat ini.
Saat kamu menikahi pasanganmu sekarang atau nanti, ketahuilah bahwa kamu juga menikahi kematiannya. Sandarkan semuanya pada Allah, maka Allah yang akan menghiburmu saat ada atau tidak adanya ia, sandarkan semuanya pada Allah untuk setiap apa yang kamu miliki saat ini.
"Sesungguhnya hidupku dan matiku hanya untuk Allah"
@jndmmsyhd








