Dinding pemisah yg dalam: Agama
Ada bagian-bagian tertentu dalam hidup yang tidak akan pernah dilupakan. Seperti #CiumanPertama misalnya.
Mungkin sebagian besar anak muda jaman sekarang akan menertawakan apa yang akan saya ceritakan. Tapi saya tidak peduli, karena saya menyukainya. Bukan ciumannya, tapi kisah, tempat dan situasinya.
Seumur hidup saya benar-benar mulai merasakan cinta itu sejak SMA. Banyak hal yang terjadi. Tapi tetap saja berakhir naas. Ciuman pertama ini saya lakukan ketika saya ingin berpisah dengan mantan saya. Boleh dibilang ini sangat menyakitkan, karena kisah kami terbentur pada dinding pemisah yg dalam. Agama.
Malam itu sekitar jam sebelas malam, kami bertemu dan pergi ke suatu tempat. Malam itu begitu dingin, aku tidak ingat apakah dia memeluk saya atau tidak selama perjalanan. Yang pasti, dari salatiga kami berangkat ke semarang. Pantai. Banyak yang terjadi, sedikit obrolan, sedikit tertawa, dan banyak diam. Berpisah memang jalan terbaik untuk situasi seperti ini.
Sekitar pukul dua atau tiga (saya lupa), kami sampai di pantai kumuh itu. Jirang. Ya, kami berdua disana, duduk diatas kursi di pinggir pantai. Banyak diam, melihat bulan yang malam itu terang, sesuai namaku. Yang terjadi pada langit malam itu memang sempurna, sama persis seperti yang biasa ada di film-film romantis. Mungkin terkecuali suara para tentara beberapa meter di belakang kami yang sedang bernyanyi. Apa yang bisa saya ingat waktu itu adalah wajahnya yang kedinginan, dan senyumnya yang dipaksakan, entah karena dia tau apa yang akan terjadi, atau memang sedang tidak enak badan. Dalam hati aku memikirkan kata apa yang sebaiknya aku pilih untuk mengakhiri ini. Tidak mudah menurut saya mengakhiri sebuah hubungan.
#nowlistening Kim Bum Soo - Bogoshipda
Akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan semuanya, mengenai dinding pemisah yang memang susah untuk ditembus. Saya meminta dia untuk menuliskan di sebuah kertas, yang isinya lebih baik kita berteman, dan jika ada salah satu dari kami mengatakan sayang, cinta, atau kangen, melalui apapun, maka kita harus segera menjauhinya. Mungkin jika ada salah satu sahabat saya membaca tulisan ini, pasti sekarang mereka mengerti kenapa beberapa waktu yang lalu saya sempat bersitegang dengan mantan saya. Ya, karena ini.
Kami menuliskannya di sebuah kertas, yang kalau tidak salah kertas parkir atau struk pembayaran, saya lupa. Lalu membentuknya menjadi sebuah perahu kertas kecil, dan melepasnya di pantai.
Kami berciuman, setting yang indah, duduk dibawah sinar bulan, semilir dingin angin pantai di pagi hari, berdua. Sensasi yang saya rasakan sangat hambar, bukan karena saya tidak menikmatinya, tapi karena kesakitan sepertinya mematikan indra perasa saya waktu itu. Kesakitan karena inilah akhir kisah kami.
Sementara itu sudah subuh dan mulai banyak anak kecil dan keluarga-keluarga mereka di pantai. Kami tidak peduli, lebih tepatnya saya tidak peduli. Ini harus saya lakukan, harus. Atau saya tidak tenang jika berpacaran dengan orang lain. Hal ini memang benar-benar terjadi sebelum waktu itu ketika saya bertemu seseorang yang saya sukai di kampus (bukan richa). Ketika saya dekat dengannya, dan hampir berciuman, saya langsung teringat mantan saya sebelumnya, cinta pertama saya, yang belum saya dapatkan ciuman pertamanya. Ini benar-benar konyol, tapi mengganggu saya. Hal ini juga yang membuat hubungan saya dengan orang itu tidak berjalan dengan baik. Dia tidak tau hal ini, karena saya memang tidak pernah bercerita tentang ini pada siapapun.
Saya tidak tahu kenapa saya menulisnya disini, tapi saya menulis memang untuk mengingat, jika suatu saat saya sudah melupakannya, cerita ini masih di sini, menunggu untuk dibaca lagi, dan itulah gunanya bercerita di blog, versi saya. Saya juga tidak tau apakah ini cukup bagus untuk dibaca orang lain, tapi ini memang benar-benar kisah saya.
Untuk mantan saya, yang mungkin mampir di blog ini dan tidak sengaja membaca post ini, terimakasih untuk segalanya. Apa yang selama ini aku lakukan: membencimu, mengacuhkanmu, menghindarimu, itu semata-mata hanya ingin membuatmu melupakanku. Yang selama satu tahun penuh aku hidup dalam kebencian tentangmu dan kamu hidup dengan kebencian tentangku. Dan lihat sekarang, kamu bisa berdiri sendiri, tanpa memikirkanku, menemukan orang lain yang satu tujuan dengamu. Semoga bahagia.
#nowlistening Sheila on 7 - Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan