
seen from United States
seen from Norway
seen from China

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from Belarus
seen from Malaysia
seen from Austria
seen from Pakistan
seen from Costa Rica
seen from Germany
seen from China

seen from Pakistan

seen from Malaysia
seen from Yemen

seen from Germany
seen from United States
seen from Austria
seen from United States
The Galaxy
by Arif Ikhwani
Pagi hari yang cukup cerah dan dingin dengan kabut putih yang begitu tebal sehingga perlu pakaian yang sangat hangat untuk menyelimuti tubuh ini
Perjalanan Usai Tiga Bulan
Barangkali kalimat berikut ini jadi pemenangnya jika ada perlombaan kalimat terfavorit usai tiga bulan di rumah saja : "mau ke salon nggak? Sekalian belanja skincare."
Barangkali aku akan daftar jadi peserta jikalau Bapak presiden yang terhormat sudi mengadakan lomba di rumah saja selama 60 hari dengan jarak tempuh yang diijinkan maksimal 4 km saja dari rumah.
Ternyata manusia hanya bisa berencana itu memang berlaku setiap detik. Salon yang mau dituju ternyata mati lampu, batal ke salon, juga batal beli skincare. Berujung pada takdir yang lain. Akhirnya makan ayam bakar di pinggir danau Situ Patenggang dengan menempuh perjalanan sekitar 90 menit.
Sepanjang perjalanan adalah kebun teh. Teringat salah satu cita-citaku selama ini: main dan piknik di kebun teh. 'nanti aja deh kalau pulang baru ke kebun teh.' sorenya ketika pulang kabut lebat turun. Oke, lagi-lagi cuma bisa berencana. Batal main ke kebun teh.
Di perjalanan pulang, penasaran ingin main golesat (go! Melesat!). Ini semacam wahana yang dimainkan di semacam circuit. Aturan mainnya adalah nggak boleh ngerem, kalau ngerem wahana ini akan mandeg (berhenti) di tengah jalan. Cuaca udah mendung, tapi tetap ingin coba.
Ketika wahana sudah meluncur, pemain wahana sebelumku menghentikan wahana miliknya di tengah jalan, otomatis aku mendadak ngerem yang mengakibatkan pemain-pemain setelahku ikut mendadak ngerem pula. Mana sepi banget circuitnya, gerimis, kabut lebat udah mulai turun.
Akhirnya ada yang bantu dorong wahananya, aku meluncur duluan. Jalurnya mulai masuk ke suasana circuit yang sepi, rumput-rumput tinggi, jalurnya menurun dan berbelok. Harus jago nyetirnya supaya nggak nabrak pembatas jalan dan ini tuh cepat banget geraknya, nggak boleh ngerem. Lebih seram kalau ngerem karena akan berhenti sendirian di tengah circuit.
Tiba-tiba hujan deras dan bersamaan wahanaku berhenti, dikit lagi mau sampai. Aku tinggalkan wahananya di tengah jalan dan lari ke pos. Mana mau aku pulang ke rumah dengan keadaan basah kuyup, huhu. Perjalanannya kan masih jauh. Ya walaupun aku tetap kehujanan pada akhirnya.
Dari hal-hal yang telah terjadi, aku belajar menyadari bahwa begitu banyak kejutan dalam hidup. Belajar bahwa rasa sedih dan bahagia bisa cepat sekali larut, teraduk, habis, berganti, datang dan pergi.
Oiya, kalau pertahananmu di rumah saja sudah jebol, keluar rumah tetap patuhi protokol kesehatan, ya. Pakai masker (aku lepas masker waktu mau foto), jangan pergi ke tempat orang berkerumun, jika tersedia tempat cuci tangan sering-sering dimanfaatkan.
Catatan Perjalanan ke Situ Patenggang Kamis, 2 Juli 2020
P.s. nggak ada foto awan. Kabutnya tebel, euy!
Day Two |2020年1月21日
For today’s agenda, I went to school again to supervise the kids practiced their dances and went to my family’s selling place nearby to a tourism place named Situ Patenggang. They sell roasted corn, soft drinks and any kinds of instant food such as instant coffee, instant noodles, and many more. We supposed to help them but turned out we only ate and took a bunch of photos there✌🏼
My eyes are blessed with such a beautiful sceneries. The view of tea plantations covered by the fog, sooo refreshing 🍃
—kirin.
You can work your business part time, but you can't work it sometimes . .
Kawah Putih, August, 2018