I'm not denial; aku baca pos itu, memang nemunya secara gak sengaja waktu skrol home tumblr, dan aku baca—yeah, bener-bener dibaca dan dalam pikiran dikomentari sebaris demi sebaris. Konyol? Iya. Because we didn't even talk properly for days, dan sekarang aku nemu pos yang (oke, kali aja geer) `nomention`, but it was for me.
Anggaplah geernya benar, anggaplah aku besar kepala, nonsense—kalau kepala orang kecil, fungsinya malah kurang optimal karena volume otaknya juga mungkin kurang. Tapi yang kepalanya over big juga mungkin aja kurang bagus karena—eeee, kenapa jadi melenceng ke sini sih? My bad.
Jadi, intinya, I won't trust you anymore, dengan segala hormat, segala sayang, dan segala blablabla gombal yang selalu ada di sinetron. Kejam? Iya, itulah aku. Kamu udah tau aku sejahat itu dan tetap mau berteman (dulu) walau akhirnya aku tau sendiri apa yang ada di kepalamu.
Iya, bener, kamu yang suruh aku percaya sama kamu, dan aku dari yang gak percaya, yang cuma liat kedekatan kita sebagai teman ngobrol, pelan-pelan numbuhin rasa percaya. Sedikit demi sedikit, sampai akhirnya aku lupain apa yang bikin aku mutusin untuk gak percaya sama orang NW, and beautifully you destroyed it all.
Aku jahat? Iya memang. Kalau aku baik, mungkin pengikutku mungkin ada jutaan. Atau mungkin sudah mati dirajam karena berlagak mulia bak santa.
Aku gak mau munafik, aku gak mau bohong. Aku kecewa, kecewa sekali sampai-sampai gak percaya kalau itu kamu yang bilang gak percaya sama aku. Kamu cuma negasin kalau kamu akan stay no matter what. Nyatanya? Kamu sendiri yang ngaku kamu mulai jaga jarak sama aku—and in this matter I don't even know what my fault is. Kamu selalu diam, bilang `gak apa-apa` padahal kamu sebel sama aku. You know what, itu sama aja kayak musuh dalam selimut. Bukannya kasih tau apa salahku supaya aku ngerti, kamu malah diam dan bilang kalau gak ada masalah.
People say, "best friend is like a mirror; they show you both your good and bad side"—dan di sini aku mikir, `wah, ini unrequited friendship`. I talked to you a lot, gave you advices and so on, but not vice versa. Kamu biarin aku nebak-nebak isi kepalamu (like an idiot, nebak-nebak kucing dalam karung) dan setelah itu semua, kamu yang pergi duluan padahal sebelumnya kamu bilang kamu bakalan stay no matter what.
Stay itu masalah bullshit; tembok aja stay, guling aja stay—apa bedanya kamu sama mereka kalau gitu? Pertemanan itu kayak gitu? Berlandaskan whether you stay or not? Kalau gitu, untuk apa berteman, mending cari pelayan, bakal stay juga selama digaji dan gak dipecat. Ha.
I do trust you, like a lot. But now I don't. Maaf, aku bukan si X yang dengan mudah memaafkan dan bilang kamu gak salah, yang akan sujud dengan semua emoticon yang dia punya, yang munafik akan segala sesuatu. Atau si Y yang aku gak ngerti lagi kamu anggap gimana. Aku ya aku, a girl who speaks bluntly, frontally, and don't even care if you cry reading this. Waktu kamu kirim gambar itu, soal kesempatan kedua and whatsoever, aku cuma ketawa.
Apa mudah kasih kesempatan kedua? Memangnya kita ribut gini baru sekali? Didn't I say `bye` for twice or maybe three times? Bukannya aku bilang aku capek kalau kamu mulai gitu—berkali-kali?
Maaf, aku gak bodoh, aku udah bilang: keledai aja gak jatuh ke lubang yang sama dua kali. Mungkin aku bodoh, gak peka, sinting, dsb, tapi aku juga tahu kalau aku ngasih kesempatan kedua, belum tentu segalanya jadi lebih baik. 99% kesempatan kedua itu fckingnut yang semua orang juga tau. Dosenku bilang, kepribadian seseorang gak akan bisa berubah kalau dia udah dewasa, and I accept it. Aku gak akan jadi orang yang lebih peka, yang peduli sama orang lain; kamu juga sama, gak akan bisa percaya sama aku no matter what.
(Apa kamu gak sadar? Setiap kali kamu pulang dan mau berhadapan sama sejumlah tes itu, kita selalu bertengkar? You'd always been oversensitive about anything, dan berakhir jawab chat dengan satu kata-satu kata.)
Dan aku capek, capek, capeeeekkkk.
Silakan, I won't even care anymore, kamu mau berbuat apa pun. FYI, I'm not following yours anymore (karena aku udah gak peduli) dan jejaring sosial semuanya udah mati. Lebih mudah supaya kamu gak `sakit` lagi kan? Kamu gak perlu unreg ini itu, aku yang bakal unreg. Silakan nikmati apa pun keputusanmu, karena aku juga punya keputusan sendiri. I'm a choleric, remember? I'm the executor, dan aku sudah mantap sama keputusanku.
You have to know the time whether you have to turn to the next page or close the book.
And I choose to close the book, forever.