[..] : Hujan
Rokku basah, jilbabku basah, sepatuku tentu saja. Hanya bajuku yang terlihat kering. Aku masuk ke mobil jemputan dari kantor kemudian duduk di depan sebelah kiri, tentu saja, kalau di sebelah kanan artinya kan aku harus nyetir, suatu hal yang sekarang mustahil kulakukan.
Aku membuka pesan darimu, menceritakan tentang kaca jendela yang mulai berembun, lebih tepatnya aku mengabarkan bahwa Surabaya sedang hujan. Kamu membalasa: sama. Aku tersenyum, semesta sedang berjanji untuk meneduhkan tempat tinggal kita. Aku tersenyum entah karena apa.
Aku mengukir-ukir namamu di kaca. Sembari memperhatikan rintik air yang berjatuhan. Membayangkan senyum terukir dari wajahmu, senyum yang selama tiga bulan hanya mampu kuukir lewat langit-langit kamarku. Kamu yang sedang asyik menyaksikan rintik hujan yang katanya juga turun di kotamu.
samudra
Begitu aku menulis sepotong nama di sana. Itu bukan nama hamparan biru di sebelah selatan pulau Jawa. Tapi memang namamu begitu adanya. Aku cepat-cepat menghapusnya, takut kalau-kalau Pak Rudi memperhatikan tingkah anehku.










