Terbangun di penghujung malam dengan cara terindah yang selalu diberikan
Walau tertidur untuk beberapa saat demi menuai benih yang harus terus dijaga
Terdengar suara hening dari seberang, dengan lirih sebelumnya "Ya Allah, Ya Rahmaan, Ya Rahiim, Ya Malik, Ya Quddus, Ya Salaam"
Dari balik punggung yang jujur
Menarik garis merah, menekan dengan kuat supaya terlihat dengan jelas warna terangnya
Merangkul lembut demi memberi rasa nyaman dengan rasa tak tega yang harus dilawan
Ia kembali menggelar doa dengan menghamparkan semua perihal dosa
Meminta penuh harap agar langit malam menyelimuti dengan merelakan bintang berkelip menjadi penghiasnya dan cahaya fajar sebagai perisainya
Ia terpejam dalam angan dan tersadar dengan cahaya ufuk timur bak laron yang tertuju pada titik cahaya yang mungkin membinasakan
Kembali cerita itu dimulai
Rasa sakit, ruang penuh sesak, entah hanya perasaan atau memang sudah kenyataan
Menjadi perbandingan pada doa siapa yang terkabulkan
Menahan air mata agar tak jatuh dan tersadar bahwa "tidak ada yang benar-benar hilang" terbawa angin penghantar hujan
Dan saat gemuruh datang, ia bertanya "apa yang sedang kau sibukkan?"
Terguyur hujan di tanah, deras mengalir diatas pipi
Mendekat dengan niat tak kehujanan, tetap saja basah walau sedia payung dalam genggaman
Membuka gerbang kerinduan dengan melihat senyum yang mengembang pada isyarat mata yang menatap dalam
Ya, berjalan dibawah hujan menyenangkan, tak akan ada yang sadar sederas apa air mata jatuh
Pintu itu tertutup dengan penuh perjuangan juga kembali terbuka dengan sedikit romansa yang tak perlu dibayangkan
Terkadang yang menjadi tujuan seringkali Allah belokkan dengan akhir yang lebih memukau dan memesona
Takdir Tuhan selalu begitu, selalu saja ada cara untuk membuat hambaNya semakin merunduk malu dan bersyukur penuh akan karunia dan anugerah yang tak masuk akal untuk dihitung
(03 Januari 2021, 10.10pm)