Kerja part-time [#CoretSebelumLulus]
Carl “El Jefe” Casper berteriak pada Ramsey , seorang food-blogger ternama. “Kau tahu betapa susahnya aku membuat ini?! Kau tahu betapa beratnya pengorbanan yang sudah kulakukan untuk membuatmu senang?! Dan kemudian kau berpuas diri dengan menjelek jelekkan hasil kerjaku?! Itu sungguh menyakitkan!” Ramsey Michel hanya duduk, menahan tawa sambil melihat lihat sekeliling. Sementara Carl masih meluapkan emosinya layaknya erupsi gunung berapi atau ganache yang meluber dari kue lava coklat saat digigit anak umur 5 tahun. FYI, itu adalah adegan menit ke-38 film Chef(2014).
. . . Sudah sebulan (+beberapa minggu) saya bekerja part-time sebagai pelayan di sebuah foodcourt dekat kampus. Saya lakukan itu karena memang sedang mencari kesibukan ditenggah ke-gabut-an mahasiswa tingkat “akhir”, serta karena saya sedang butuh tambahan uang saku. Jujur saja, setelah tidak lagi mendapatkan beasiswa, saya harus pandai pandai memenej keuangan. Bukan berarti saya kekurangan uang sampai harus makan mi instan tiap akhir bulan, tetapi saya berpikir bahwa tidak ada salahnya saya bekerja sampingan untuk (minimal) bisa beli pulsa, beras, dan air. Jadi ketika ada lowongan part-time di foodcourt ini ya saya langsung daftar. Alhamdulillah nggak ada persyaratan minimal IPK. Huft Memang gaji yang saya dapatkan nggak setebal komisi sebagai desainer grafis (amatir), atau makelar gitar custom. Bisa dibilang gajinya relatif kecil, sangat tidak sebanding dengan apa yang saya kerjakan di sana, IMO. Saya berangkat naik sepeda dari kosan sampai ke tempat kerja sekitar pukul 6pm, kemudian pulang larut dengan membawa bahu dan kaki yang pegal; kadang juga masih tergiang omelan- omelan para pelanggan yang tidak puas. Oke, it’s fine karena semua pekerjaan pasti mengalami itu. Tapi siapa sangka, pelajaran yang saya dapatkan selama menjadi pelayan lebih dari apapun yang saya bayangkan. Kali ini saya ingin berbagi beberapa hal yang saya dapatkan selama kerja part-time ini. Here it is... 1. Tepat waktu
(image: perdianstory.blogspot.com)
Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, saya mulai masuk shift jam 6pm. Tetapi bos saya “memaklumi” kalau saya telat sebentar karena jamaah magrib. Jadi saya harus berusaha sebaik2nya untuk meminimalisir keterlambatan saya itu. Bukan berarti setelah salam langsung cabut juga sih :D
2 Teliti
(image: www.wrightexecutive.com.au)
Selain mengantarkan pesanan, saya juga bertugas membantu menulis order para pelanggan. Saya harus teliti menulis apa yang dipesan, berapa kuantitasnya, porsi besar/kecil, dan nomor pesanan. Ketelitian menulis pesanan ini mutlak hukumnya untuk membantu ketepatan dan kecepatan pembuatan pesanan.
Di akhir shift, saya juga harus merekap penjualan per produk, serta sesekali merekap keuangan. Dalam hal ini saya juga dituntut teliti.
3 Bersikap Baik ke Semua Orang
(image: www.someoneoncetoldme.com)
Pelayan adalah matai rantai ujung dalam bisnis makanan semacam ini, maksud saya adalah: pelayan-lah yang berinteraksi langsung dengan konsumen. Komplain semacam “mas, pesenan gw kok lama banget sih?!”, “kurang manis nih minumannya!”, “es-nya kurang mas, tambah lagi ya”, “mas balikin duit saya! Saya mau pulang, kelamaan sih bikinnya!”, atau komplain2 lain (yang mungkin kalian juga sering lontarkan ke pelayan) sudah sangat biasa saya dengar setiap harinya. Saya juga belajar bagaimana menjawabnya. Learning by doing. Saya ingin sekali-kali bilang: “Emang yang pesen di sini lu doang? Kagak tong! Sabar nape -___-” atau “Sok dah kalo lu mau bikin sendiri, lu pikir gampang apa hah?” . Tapi saya yakin besoknya pasti langsung dipecat, hahahaha :v Tapi yang paling sering saya dengar dari konsumen adalah: “Mas password wifi sini apa ya?”. Hahaha, ahelah mahasiswa dimana-mana sama, kalo ada hotspot kagak bisa diem jarinya :D













