Kecerdikan Dan Brown Dalam Memainkan Imajinasi Pembaca
Judul buku: The Lost Symbol Penulis: Dan Brown Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno Penyunting: Esti B. Habsari dan Andityas Prabantoro Pemeriksa aksara: Deddy S. Penerbit: Bentang Pustaka Tahun terbit: Januari 2010 (cetakan pertama) Tebal buku: 712 halaman
Dan Brown merupakan penulis asal Amerika Serika yang lahir 55 tahun silam. Dan Brown sudah banyak menulis karya-karyanya hingga dikenal kalangan luas. Nama Dan Brown melejit oleh karyanya yang berjudul The Davinci Code, bahkan sudah dialih-bahasakan untuk 40 negara hingga dijadikan karya layar lebar dengan pemeran Tom Hanks.
Tidak hanya The Davinci Code, Dan Brown bisa mendulang kesuksesannya pada karya-karya yang lainnya seperti Angels & Demons (2000), The Lost Symbol (2009), dan Inferno (2013). Kecerdikan Dan Brown bisa dilihat dari gaya penulisan karyanya yang dapat memadukkan sisi fantasi dan kenyataan yang terjadi. Jarang seorang penulis yang mempunyai kemampuan tersebut, terutama dalam pengetahuan dunia.
The Lost Symbol merupakan edisi ketiga dari sequel The Davinci Code, yang juga tidak kalah sukses dalam penjualannya. Terbukti saat kemunculan perdananya The Lost Symbol terbit dengan menjadi yang terbesar dalam sejarah penerbitan buku. Pada hari pertamanya pun The Lost Symbol sudah sangat laris di pasaran yang menjadikannya buku dengan penjualan tercepat dalam sejarah.
Masih menceritakan sang ahli simbol, Robert Langdon. The Lost Symbol berlatar belakang di Washington DC, dan mengangkat tema besar mengenai Freemasonry atau kelompok mason yang penuh kontroversi. Perjalanan Robert Langdon selama 12 jam akan membuat fantasi anda dibawa naik turun oleh novel ini.
Robert Langdon menerima undangan dari sahabatnya Peter Solomon untuk mengisi materi di Washington DC akan tetapi ternyata Langdon telah dikelabui, di tempat tersebut hanya ada sebuah ancaman yang menjadikan Langdon harus memutar otak untuk ke luar dari situasi tersebut. Ada sebuah ancaman berupa pesan bahwa Peter Solomon telah diculik dan disandera yang memaksa Langdon untuk memecahkan salah satu rahasia terbesar dari kelompok mason. Pesan tersebut bersamaan dengan simbol potongan tangan Peter Solomon, menimbulkan banyak teka-teki yang harus dilalui oleh Robert Langdon.
Tidak hanya itu, Robert Langdon pun harus berurusan dengan CIA dengan alasan keamanan nasional yang harus dijaga. Selain kejar-kejaran dengan waktu untuk menyelesaikan rahasia mason, Langdon harus menghindari kejaran CIA. Di sini lah pembaca akan disuguhi fantasi dari petualangan bawah tanah Langdon di kuil Washington DC dan beberapa peninggalan kuno dari kelompok mason. Ditambah dengan salah satu antagonis bernama Mal’akh yang ikut turut membuat Langdong cukup kewalahan dalam penyelesaian teka-teki ini.
Dan Brown membuat novel ini menjadi gila seakan-akan fiksi dan fakta merupakan hal yang bias oleh pembaca. Terutama ada beberapa bagian yang membuat kita ingin membacanya berulang-ulang agar benar-benar memahami apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Walaupun ada beberapa istilah yang memang terdengar asing di telinga orang Indonesia, tetapi untuk keseluruhan novel ini salah satu karya terbaik yang dimiliki oleh Dan Brown.














