USA 1984
seen from Australia

seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Germany
seen from China
seen from Germany

seen from Canada
seen from Canada
seen from Türkiye

seen from United Kingdom
seen from United States
seen from India
seen from Malaysia
seen from Australia

seen from United States

seen from Colombia
seen from New Zealand
USA 1984
Rupiah Menguat Rp 13.900-an/US$, Darmin: Harusnya Bisa Lebih Kuat
Liputanviral - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa terus mengalami penguatan. Saat ini, rupiah telah menembus level Rp 13.900-an/US$. Menurut Darmin, saat ini nilai tukar rupiah masih belum stabil. Sebab, masih dipengaruhi kondisi ekonomi global sehingga belum dianggap wajar. "Belum fundamentalnya. Masih ada ruang ya jangan lupa dulu sebelum gejolak terjadi itu di awal tahun lalu, itu kurs hanya Rp 13.380-an saya angkanya. Itu tergantung ekonomi dunia apa yang terjadi," jelas dia di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (1/2/2019). Lebih lanjut, ia yakin gejolak yang terjadi terhadap nilai tukar tak mempengaruhi fundamental. Sehingga rupiah dinilai mampu lebih menguat dibandingkan sekarang. "Ekonomi kita apa yang terjadi jadi jangan dianggap itu otomatis tapi nilai fundamentalnya masih harusnya rupiah lebih kuat dari yang sekarang," sambung dia. Sebagai informasi, nilai tukar dolar AS sempat berada di level Rp 13.970. Dolar AS melemah terhadap rupiah. Mengutip data perdagangan Reuters, Kamis (31/1/2019), dolar AS berada di level tertingginya Rp 14.130 dan level terendahnya di Rp 13.990. Read the full article
MENKO DARMIN: Impor Beras Selamatkan Stok Beras Nasional
Inanews - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa keputusan impor beras yang diambil pemerintah telah menyelamatkan Indonesia dari kekurangan komoditas pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat itu. Menurutnya, kondisi stok beras yang ada saat ini masih aman lantaran ditopang oleh suplai beras dari hasil impor yang dilakukan pemerintah belum lama ini. "Stoknya ini aman, aman karena impor. Kalau enggak ada impor, tewas kita," ujarnya di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, usai menghadiri rapat di Istana Wakil Presiden terkait data beras, yang juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (23/10/2018) petang. Darmin menerangkan bahwa berdasarkan data yang mengemuka saat rapat tersebut, diketahui bahwa produksi beras di dalam negeri sudah mengalami penurunan dari pada beberapa tahun sebelumnya. Hal itu lantaran mulai berkurangnya lahan pertanian sebagai konsekuensi adanya alih fungsi lahan untuk pembangunan, seperti beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, jalan tol, dan lain sebagainya. "Kalau 2013, lahan baku sawah kita 7,7 juta hektare. Hasil dari pemotretan terakhir saat ini menunjukkan lahan baku sawah kita turun hanya 7,1 juta hektare," ujarnya. Menurutnya, dengan lahan baku sawah sebanyak 7,1 juta hektare tersebut, tahun ini luas panennya sebesar 10,9 juta hektare. "Berarti kalau 10,9 juta hektare dibagi 7,1 juta hektare dapatnya 1,54 juta hektare. Artinya 54% sawah kita ditanami dua kali, yang 100%-nya sekali," ujarnya. Kemudian, dengan luas panen tersebut dan produktivitas yang dihitung BPS, menghasilkan total produksi beras tahun ini mencapai sebesar 32,4 juta ton. Di pihak lain, total konsumsi Indonesia sebesar 29,6 juta ton. Jadi sebenarnya masih ada kelebihan atau surplus beras tahun ini sebesar 2,8 juta ton. "Tetapi kelebihan beras 2,8 juta ton itu masih jauh di bawah, karena tadinya lebihnya bisa 20 juta ton, tapi sekarang hanya 2,8 juta ton," ujarnya. Sementara itu, jumlah petani saat ini mencapai sekitar 4,5 juta keluarga, di mana mereka dipastikan juga menyimpan beras, masing-masing rata-rata sekitar 5-10 kg. "Sehingga, memang suplai di pasar tahun ini tersendat. Oleh sebab itu, pada awal tahun ini, urgenitas sudah mulai melihat bahwa stok Bulog rendah sekali. Bahkan waktu Maret kita impor, stok di Bulog hanya tinggal 500.000 ton. Enggak pernah kejadian itu. Itu terlalu rendah. Itulah kenapa kita impor," ujarnya. Read the full article
MENKO DARMIN: Impor Beras Selamatkan Stok Beras Nasional
Inanews - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa keputusan impor beras yang diambil pemerintah telah menyelamatkan Indonesia dari kekurangan komoditas pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat itu. Menurutnya, kondisi stok beras yang ada saat ini masih aman lantaran ditopang oleh suplai beras dari hasil impor yang dilakukan pemerintah belum lama ini. "Stoknya ini aman, aman karena impor. Kalau enggak ada impor, tewas kita," ujarnya di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, usai menghadiri rapat di Istana Wakil Presiden terkait data beras, yang juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (22/10/2018) petang. Darmin menerangkan bahwa berdasarkan data yang mengemuka saat rapat tersebut, diketahui bahwa produksi beras di dalam negeri sudah mengalami penurunan dari pada beberapa tahun sebelumnya. Hal itu lantaran mulai berkurangnya lahan pertanian sebagai konsekuensi adanya alih fungsi lahan untuk pembangunan, seperti beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, jalan tol, dan lain sebagainya. "Kalau 2013, lahan baku sawah kita 7,7 juta hektare. Hasil dari pemotretan terakhir saat ini menunjukkan lahan baku sawah kita turun hanya 7,1 juta hektare," ujarnya. Menurutnya, dengan lahan baku sawah sebanyak 7,1 juta hektare tersebut, tahun ini luas panennya sebesar 10,9 juta hektare. "Berarti kalau 10,9 juta hektare dibagi 7,1 juta hektare dapatnya 1,54 juta hektare. Artinya 54% sawah kita ditanami dua kali, yang 100%-nya sekali," ujarnya. Kemudian, dengan luas panen tersebut dan produktivitas yang dihitung BPS, menghasilkan total produksi beras tahun ini mencapai sebesar 32,4 juta ton. Di pihak lain, total konsumsi Indonesia sebesar 29,6 juta ton. Jadi sebenarnya masih ada kelebihan atau surplus beras tahun ini sebesar 2,8 juta ton. "Tetapi kelebihan beras 2,8 juta ton itu masih jauh di bawah, karena tadinya lebihnya bisa 20 juta ton, tapi sekarang hanya 2,8 juta ton," ujarnya. Sementara itu, jumlah petani saat ini mencapai sekitar 4,5 juta keluarga, di mana mereka dipastikan juga menyimpan beras, masing-masing rata-rata sekitar 5-10 kg. "Sehingga, memang suplai di pasar tahun ini tersendat. Oleh sebab itu, pada awal tahun ini, urgenitas sudah mulai melihat bahwa stok Bulog rendah sekali. Bahkan waktu Maret kita impor, stok di Bulog hanya tinggal 500.000 ton. Enggak pernah kejadian itu. Itu terlalu rendah. Itulah kenapa kita impor," ujarnya. Read the full article
MENKO DARMIN: Impor Beras Selamatkan Stok Beras Nasional
Inanews - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa keputusan impor beras yang diambil pemerintah telah menyelamatkan Indonesia dari kekurangan komoditas pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat itu. Menurutnya, kondisi stok beras yang ada saat ini masih aman lantaran ditopang oleh suplai beras dari hasil impor yang dilakukan pemerintah belum lama ini. "Stoknya ini aman, aman karena impor. Kalau enggak ada impor, tewas kita," ujarnya di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, usai menghadiri rapat di Istana Wakil Presiden terkait data beras, yang juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (23/10/2018) petang. Darmin menerangkan bahwa berdasarkan data yang mengemuka saat rapat tersebut, diketahui bahwa produksi beras di dalam negeri sudah mengalami penurunan dari pada beberapa tahun sebelumnya. Hal itu lantaran mulai berkurangnya lahan pertanian sebagai konsekuensi adanya alih fungsi lahan untuk pembangunan, seperti beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, jalan tol, dan lain sebagainya. "Kalau 2013, lahan baku sawah kita 7,7 juta hektare. Hasil dari pemotretan terakhir saat ini menunjukkan lahan baku sawah kita turun hanya 7,1 juta hektare," ujarnya. Menurutnya, dengan lahan baku sawah sebanyak 7,1 juta hektare tersebut, tahun ini luas panennya sebesar 10,9 juta hektare. "Berarti kalau 10,9 juta hektare dibagi 7,1 juta hektare dapatnya 1,54 juta hektare. Artinya 54% sawah kita ditanami dua kali, yang 100%-nya sekali," ujarnya. Kemudian, dengan luas panen tersebut dan produktivitas yang dihitung BPS, menghasilkan total produksi beras tahun ini mencapai sebesar 32,4 juta ton. Di pihak lain, total konsumsi Indonesia sebesar 29,6 juta ton. Jadi sebenarnya masih ada kelebihan atau surplus beras tahun ini sebesar 2,8 juta ton. "Tetapi kelebihan beras 2,8 juta ton itu masih jauh di bawah, karena tadinya lebihnya bisa 20 juta ton, tapi sekarang hanya 2,8 juta ton," ujarnya. Sementara itu, jumlah petani saat ini mencapai sekitar 4,5 juta keluarga, di mana mereka dipastikan juga menyimpan beras, masing-masing rata-rata sekitar 5-10 kg. "Sehingga, memang suplai di pasar tahun ini tersendat. Oleh sebab itu, pada awal tahun ini, urgenitas sudah mulai melihat bahwa stok Bulog rendah sekali. Bahkan waktu Maret kita impor, stok di Bulog hanya tinggal 500.000 ton. Enggak pernah kejadian itu. Itu terlalu rendah. Itulah kenapa kita impor," ujarnya. Read the full article
MENKO DARMIN: Impor Beras Selamatkan Stok Beras Nasional
Inanews - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa keputusan impor beras yang diambil pemerintah telah menyelamatkan Indonesia dari kekurangan komoditas pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat itu. Menurutnya, kondisi stok beras yang ada saat ini masih aman lantaran ditopang oleh suplai beras dari hasil impor yang dilakukan pemerintah belum lama ini. "Stoknya ini aman, aman karena impor. Kalau enggak ada impor, tewas kita," ujarnya di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, usai menghadiri rapat di Istana Wakil Presiden terkait data beras, yang juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (22/10/2018) petang. Darmin menerangkan bahwa berdasarkan data yang mengemuka saat rapat tersebut, diketahui bahwa produksi beras di dalam negeri sudah mengalami penurunan dari pada beberapa tahun sebelumnya. Hal itu lantaran mulai berkurangnya lahan pertanian sebagai konsekuensi adanya alih fungsi lahan untuk pembangunan, seperti beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, jalan tol, dan lain sebagainya. "Kalau 2013, lahan baku sawah kita 7,7 juta hektare. Hasil dari pemotretan terakhir saat ini menunjukkan lahan baku sawah kita turun hanya 7,1 juta hektare," ujarnya. Menurutnya, dengan lahan baku sawah sebanyak 7,1 juta hektare tersebut, tahun ini luas panennya sebesar 10,9 juta hektare. "Berarti kalau 10,9 juta hektare dibagi 7,1 juta hektare dapatnya 1,54 juta hektare. Artinya 54% sawah kita ditanami dua kali, yang 100%-nya sekali," ujarnya. Kemudian, dengan luas panen tersebut dan produktivitas yang dihitung BPS, menghasilkan total produksi beras tahun ini mencapai sebesar 32,4 juta ton. Di pihak lain, total konsumsi Indonesia sebesar 29,6 juta ton. Jadi sebenarnya masih ada kelebihan atau surplus beras tahun ini sebesar 2,8 juta ton. "Tetapi kelebihan beras 2,8 juta ton itu masih jauh di bawah, karena tadinya lebihnya bisa 20 juta ton, tapi sekarang hanya 2,8 juta ton," ujarnya. Sementara itu, jumlah petani saat ini mencapai sekitar 4,5 juta keluarga, di mana mereka dipastikan juga menyimpan beras, masing-masing rata-rata sekitar 5-10 kg. "Sehingga, memang suplai di pasar tahun ini tersendat. Oleh sebab itu, pada awal tahun ini, urgenitas sudah mulai melihat bahwa stok Bulog rendah sekali. Bahkan waktu Maret kita impor, stok di Bulog hanya tinggal 500.000 ton. Enggak pernah kejadian itu. Itu terlalu rendah. Itulah kenapa kita impor," ujarnya. Read the full article
MENKO DARMIN: Impor Beras Selamatkan Stok Beras Nasional
Inanews - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa keputusan impor beras yang diambil pemerintah telah menyelamatkan Indonesia dari kekurangan komoditas pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat itu. Menurutnya, kondisi stok beras yang ada saat ini masih aman lantaran ditopang oleh suplai beras dari hasil impor yang dilakukan pemerintah belum lama ini. "Stoknya ini aman, aman karena impor. Kalau enggak ada impor, tewas kita," ujarnya di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, usai menghadiri rapat di Istana Wakil Presiden terkait data beras, yang juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (22/10/2018) petang. Darmin menerangkan bahwa berdasarkan data yang mengemuka saat rapat tersebut, diketahui bahwa produksi beras di dalam negeri sudah mengalami penurunan dari pada beberapa tahun sebelumnya. Hal itu lantaran mulai berkurangnya lahan pertanian sebagai konsekuensi adanya alih fungsi lahan untuk pembangunan, seperti beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, jalan tol, dan lain sebagainya. "Kalau 2013, lahan baku sawah kita 7,7 juta hektare. Hasil dari pemotretan terakhir saat ini menunjukkan lahan baku sawah kita turun hanya 7,1 juta hektare," ujarnya. Menurutnya, dengan lahan baku sawah sebanyak 7,1 juta hektare tersebut, tahun ini luas panennya sebesar 10,9 juta hektare. "Berarti kalau 10,9 juta hektare dibagi 7,1 juta hektare dapatnya 1,54 juta hektare. Artinya 54% sawah kita ditanami dua kali, yang 100%-nya sekali," ujarnya. Kemudian, dengan luas panen tersebut dan produktivitas yang dihitung BPS, menghasilkan total produksi beras tahun ini mencapai sebesar 32,4 juta ton. Di pihak lain, total konsumsi Indonesia sebesar 29,6 juta ton. Jadi sebenarnya masih ada kelebihan atau surplus beras tahun ini sebesar 2,8 juta ton. "Tetapi kelebihan beras 2,8 juta ton itu masih jauh di bawah, karena tadinya lebihnya bisa 20 juta ton, tapi sekarang hanya 2,8 juta ton," ujarnya. Sementara itu, jumlah petani saat ini mencapai sekitar 4,5 juta keluarga, di mana mereka dipastikan juga menyimpan beras, masing-masing rata-rata sekitar 5-10 kg. "Sehingga, memang suplai di pasar tahun ini tersendat. Oleh sebab itu, pada awal tahun ini, urgenitas sudah mulai melihat bahwa stok Bulog rendah sekali. Bahkan waktu Maret kita impor, stok di Bulog hanya tinggal 500.000 ton. Enggak pernah kejadian itu. Itu terlalu rendah. Itulah kenapa kita impor," ujarnya. Read the full article
MENKO DARMIN: Impor Beras Selamatkan Stok Beras Nasional
Inanews - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan bahwa keputusan impor beras yang diambil pemerintah telah menyelamatkan Indonesia dari kekurangan komoditas pangan yang menjadi kebutuhan pokok masyarakat itu. Menurutnya, kondisi stok beras yang ada saat ini masih aman lantaran ditopang oleh suplai beras dari hasil impor yang dilakukan pemerintah belum lama ini. "Stoknya ini aman, aman karena impor. Kalau enggak ada impor, tewas kita," ujarnya di Kantor Kemenko Bidang Perekonomian, usai menghadiri rapat di Istana Wakil Presiden terkait data beras, yang juga dihadiri Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (22/10/2018) petang. Darmin menerangkan bahwa berdasarkan data yang mengemuka saat rapat tersebut, diketahui bahwa produksi beras di dalam negeri sudah mengalami penurunan dari pada beberapa tahun sebelumnya. Hal itu lantaran mulai berkurangnya lahan pertanian sebagai konsekuensi adanya alih fungsi lahan untuk pembangunan, seperti beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, jalan tol, dan lain sebagainya. "Kalau 2013, lahan baku sawah kita 7,7 juta hektare. Hasil dari pemotretan terakhir saat ini menunjukkan lahan baku sawah kita turun hanya 7,1 juta hektare," ujarnya. Menurutnya, dengan lahan baku sawah sebanyak 7,1 juta hektare tersebut, tahun ini luas panennya sebesar 10,9 juta hektare. "Berarti kalau 10,9 juta hektare dibagi 7,1 juta hektare dapatnya 1,54 juta hektare. Artinya 54% sawah kita ditanami dua kali, yang 100%-nya sekali," ujarnya. Kemudian, dengan luas panen tersebut dan produktivitas yang dihitung BPS, menghasilkan total produksi beras tahun ini mencapai sebesar 32,4 juta ton. Di pihak lain, total konsumsi Indonesia sebesar 29,6 juta ton. Jadi sebenarnya masih ada kelebihan atau surplus beras tahun ini sebesar 2,8 juta ton. "Tetapi kelebihan beras 2,8 juta ton itu masih jauh di bawah, karena tadinya lebihnya bisa 20 juta ton, tapi sekarang hanya 2,8 juta ton," ujarnya. Sementara itu, jumlah petani saat ini mencapai sekitar 4,5 juta keluarga, di mana mereka dipastikan juga menyimpan beras, masing-masing rata-rata sekitar 5-10 kg. "Sehingga, memang suplai di pasar tahun ini tersendat. Oleh sebab itu, pada awal tahun ini, urgenitas sudah mulai melihat bahwa stok Bulog rendah sekali. Bahkan waktu Maret kita impor, stok di Bulog hanya tinggal 500.000 ton. Enggak pernah kejadian itu. Itu terlalu rendah. Itulah kenapa kita impor," ujarnya. Read the full article