“Langkah yang Diam-Diam, Kuat”
Hari-hari berlalu, seperti arus yang tak menunggu siapa pun, dan aku mengikutinya
tanpa tepukan, tanpa sorak, tanpa tanda khusus.
Aku berjalan dalam heningku sendiri,
belum tahu cara menikmati apa yang ada, namun aku tetap bergerak:
pelan, sadar, dan jujur.
Ada masa depan di depan sana,
masih samar, masih jauh, tapi untuk itu
aku mempertaruhkan banyak hal:
waktu, rasa, hati, bahkan diri.
Kadang aku merasa baik-baik saja,
tapi juga kosong dan sulit berkata;
perasaan datang tanpa bentuk, dan pergi tanpa suara.
Sendirian —
hanya itu yang kurasakan, meski dunia tetap penuh orang.
Kesunyian menyelimuti, tapi anehnya, aku tetap berdiri.
Mungkin tak ada pelukan untuk memeluk ceritaku,
tak ada tempat untuk menitipkan lelah;
tapi langkahku bertahan,
meski tidak ada yang tahu
betapa sunyinya suara itu.
Dan meski semuanya berjalan begitu saja,
aku tetap di sini:
tanpa gemuruh, tanpa panik, tanpa henti —
menghadapi hidup
dengan cara paling berani:
terus melangkah,
walau sendiri.


















