Tahun ke tujuh, hingga saya menuliskan ini, belum ada tanda-tanda pergumulan 5 tahun kami memperoleh keturunan berakhir. Masih Tuhan percayakan. PerkenaanNya kepada kami untuk menikmati mezbah rumah tangga hanya berdua, masih terjadi. Akan tetapi, di tahun ke tujuh ini, kami dianugerahi momen untuk mempersiapkan rangkaian peristiwa pernikahan saudara laki-laki kami. Adik saya satu-satunya. Saya begitu yakin bahwa rangkaian peristiwa untuk dia berproses sebelum memimpin keluarga, akan Tuhan perkenankan terjadi. Saya yakin, dengan warisan iman yang sama, yang dibekali oleh orang tua kami, iman kepada Allah yang kami sembah, akan mampu menjadi penerang dalam perjalanan dia. Sampai saya sadari, bahwa proses tersebut tidak hanya dimiliki oleh adik saya, tetapi juga oleh kami sebagai keluarga. Oleh saya dan Bang David.
Tahun ke Tujuh. Bagian Kedua.
Tahun ini, kami mengambil langkah baru dalam pergumulan memperoleh keturunan. Dokter yang baru, RS yang baru, rencana yang baru. Harapan yang sama. Tentu, Allah yang sama.
Pertengahan bulan Juni, saya diberi kepercayaan untuk sharing dalam Doa Sabtu Pray Ministry. Bagian yang saya gumuli dan bagikan saat itu adalah: Living by Grace. Satu bagian dalam buku Richard J. Foster. Satu-satunya cara kita dapat bertumbuh dalam anugerah dan pengenalan akan Allah yang benar adalah melalui relasi yang interaktif. Pada sejatinya, pusat dari cerita Alkitab adalah adanya relasi yang interaktif, yaitu inisiatif Allah dan respon manusia. Roh Kudus memapukan kita untuk meresponi inisiatif Allah. Ketika kita menjawab “Ya.” pada pertanyaan Allah, “Will you be with me?” yang terjadi setelahnya bukanlah sebuah misteri yang membingungkan, bukanlah sebuah konsep teologis yang tersembunyi. Yang terjadi setelahnya adalah Living by Grace. Being a willing participant on this arena of grace. Pada akhirnya, hidup oleh anugerah adalah bentuk eksistensi dari respon kita untuk mengarahkan hidup kita melihat visi Allah dan mengarahkan hidup kita di dalam visi Allah tersebut, sehingga kita memahami maksud Allah tersebut. Relasi yang personal dengan Tuhan. Hidup oleh anugerah memampukan kita untuk melihat banyak hal, termasuk penderitaan dan pergumulan kita dari sudut pandang yang berbeda, bahwa Allah memakai segala sesuatu untuk kebaikan kita. Hidup oleh anugerah tidak menghilangkan penderitaan dan pergumulan kita. Lewat hidup oleh anugerah, kita tau Allah hadir dalam penderitaan kita, Allah membersamai kita dalam pergumulan kita, dan kita tau siapa yang memegang hidup kita. Hingga kita pada saatnya nanti bertemu Allah, muka dengan muka, bersama-sama dengan orang-orang kudus memuji dan memuliakan Allah.
Relevan dengan bagian tersebut, saya diberi kekuatan dalam menjalani hari-hari kami untuk menanti perkenaan Allah memberikan kami keturunan. Syukur kepadaNya, kami tidak pernah goyah dalam iman terkait hal tersebut. Sudah lebih dari cukup bagi kami. Lebih lagi, Dia menganugerahi saya perasaan yang begitu dekat akan penantian kami selama 5 tahun ini. Kalau orang Jawa bilang, “Sedelok meneh yo, Nduk. Sabar yo.” padahal, realitasnya, program pertama kami gagal pertengahan Mei lalu. Saya diberi perasaan akan menjadi seorang ibu yang begitu dekat. Saya tidak tahu, kapan “dekat”nya itu. Tahun ini, atau tahun depan. Misteri Allah. Tetapi perasaan itu ada dan sungguh nyata. Dasar dari segala sesuatu yang kami harapkan, bukti dari segala sesuatu yang tidak kami lihat. Lewat hal itu, kami dimampukan untuk sabar dalam pengharapan.
Sampai kemudian, 11 hari menjelang acara lamaran dan pertunangan adik saya, kami diberi kabar bahwa Sipapah masuk RS secara mendadak dan harus menjalani operasi saluran kemih. This is it. The process I had, 7 years ago, it is happening now. Adik saya harus bersiap. Kami, harus bersiap. Tenang, kita kan punya Tuhan. Malam itu, saya dan Bang David berdoa dan menyanyikan pujian penyembahan. Jam 3 pagi esoknya, kami kembali bangun dan memohon kepada Sang Khalik. Siang, kami sama-sama izin dari kantor untuk menemani Simamah dan Nico di RS untuk mendampingi Sipapah. Tentu, Allah sendiri yang menuntun operasi itu. Tentu, operasi berjalan dengan lancar. Syukur kepada Allah.
Namun demikian, bukan itu saja badai yang harus kami lalui. Tepat malam di hari Sipapah selesai operasi, Bang David demam dan batuk. Besok paginya, kami pulang ke Jakarta dan ke RS untuk melakukan swab PCR.
10 hari menjelang acara lamaran dan pertunangan adik saya, 1 hari setelah kami di RS mendampingi Sipapah, berkomunikasi dengan Simamah dan Nico, Bang David dinyatakan positif COVID-19. Satu hari kemudian, saya turut positif. Yang membuat dunia kami terguncang saat itu adalah, pikiran kepada kedua orang tua kami dan adik kami yang kami temui sebelumnya. Ya Tuhan. Tidak terkatakan.
Is it a part of Living by Grace?
Apparently, yes, it is. Mereka tidak tertular dan tidak turut positif. Kami bisa fokus pemulihan ke depan. Syukur yang tidak terkatakan. Namun kemudian, pemulihan kami adalah tantangan tersendiri. Demam, batuk, pusing, mual, muntah. Saya tidak mau makan. Harus ke RS untuk rontgen paru karena saya sempat sesak. Akhirnya, diberi obat suntik di lambung. 5 hari menjelang acara, Bang David sudah negatif. Saya masih positif. Dua hari menjelang acara, saya baru dinyatakan negatif. Namun demikian, PCR kami masih positif dengan angka CT 33 dan 30. MUA dan hairstylist saya tidak berani mengambil risiko dan memilih membatalkan sehari menjelang acara. Dokter kantor juga melarang kami ikut. Malam itu, saya menangis histeris. Sisi kemanusiaan saya memuncak. Saya merasa kalah. Saya sangat sedih. Saya menangis begitu hebatnya. Saya bertanya pada Tuhan dengan patah hati, “Tuhan tidak kasihan dengan saya?”
Is it a part of living by Grace?
Apparently, yes, it is. Hanya bermodalkan iman dan realitas yang ada. Hasil antigen negatif, sudah tidak bergejala semenjak hari ke 5, dan sudah menyelesaikan isoman berdasarkan program pemerintah, serta tim Mbak Farah Lisani yang bersedia mengambil risiko untuk merias saya begitu saya kontak semalam menjelang acara, acara berjalan dengan lancar. Puji Tuhan. Keluarga sehat tanpa terkecuali. Aman. Tuhan begitu baik. Tuhan yang adalah Allah yang personal. Allah yang tetap setia, sekalipun kita tidak setia dan mengampuni ketidaksetiaan kita. Allah yang membersamai setiap realitas hidup kita. Allah yang memegang tangan kita dan mengenal hari-hari kita. Bahwa proses pemulihan kami yang didapat oleh karena Dia yang menopang kami lewat Para Anugerah yang mengasihi kami. Duma yang memastikan kami menikmati snack kesukaan kami, Inong yang mensupply lauk kami, Geng Celine yang mengirimkan buah-buah favorite kami, saudara-saudari Pray dan keluarga Hadylaya-Chitra yang mengirimkan puluhan botol kaldu serta birdnest, rekan kerja Bang David yang mengirimkan sekotak besar produk HDI, kantor Bang David yang mengirimkan berbagai alat bantu kesehatan, B9F lewat Kak Jupe yang setiap hari bertanya, “Mau makan apa hari ini, Dek?” Calon Edaku Eirene yang mensupply immune booster juices, serta temanku Inung yang mendukung kami lewat 1 lusin puding Puyo. Tentu, Para Anugerah lain yang juga turut mendoakan kesehatan kami. My People. Sipapah, Simamah, Nicodemus, Sahabatku Stephanie Hadylaya, Saudariku Geng Praying Wifey: Ce Adeline, Kak Pika, Kaka, Ce Kristi, Kak Brenda, Kak Wanda, Kak Roma, teman satu frekuensiku Uni Lusi yang di antara 10 hari isolasi mandiri, tepat 1 Juli 2022, puncak dari hari nano-nano memutuskan untuk bertanya, “Mba, udah gimana kondisimu? Acara adekmu besokkah?” Atasanku di kantor, Mbak Ai, yang bolak balik bertanya kondisiku. Tim RS Mitra Kemayoran yang sigap memberikan tindakan dan pengobatan.
Terimakasih, Tuhan. Kami melalui 7 tahun ini dengan perjalanan yang tidak biasa, dengan proses yang tidak mudah, tetapi dengan penyertaanMu yang tidak pernah berubah. Terimakasih untuk kebaikan hati mereka yang mengasihi kami. Terimakasih untukMu yang membersamai realitas hidup kami. Terimakasih untuk tahun ke tujuh ini.
Ditulis tiga minggu menjelang acara pernikahan adik laki-laki kami, beberapa saat menjelang endoskopi Sipapah, dan perasaan menjadi ibu yang tetap dekat,
Terlalu berharga jika peristiwa 8 hari yang menegangkan tidak diabadikan dalam sebuah tulisan. Life is too colorful to be concealed. Terlalu berharga jika peristiwa 8 hari yang menegangkan tidak diabadikan dengan terlebih dahulu mengingat rangkaian peristiwa yang hampair sama, 7 tahun yang lalu. Biarlah kebaikan hati orang-orang yang mengasihi kami, diketahui oleh semua orang yang menikmati ini. Hendaklah penyerahan hidup kami kepada Tuhan memberikan gema yang kuat untuk setiap orang yang membaca ini, bahwa mereka juga jangan ragu untuk melakukannya. Terakhir dan terpenting, hendaklah Allah yang kami sembah, yang olehNya orang-orang memberikan hati untuk kami dan yang kepadaNya kami menyerahkan hidup kami, dilihat dan diketahui orang adalah Allah yang hidup, yang dasyat, yang perkenaanNya tidak dapat diganggu gugat, serta yang selamanya membuat saya berkata, “Tenang, kita kan punya Tuhan.” tetap relevan di sepanjang masa.
Tahun ke Tujuh. Bagian Pertama.
Saya masih ingat, 7 tahun yang lalu, ketika saya hendak menikah, banyak sekali pergumulan dasyat yang menghampiri saya kala itu. Seolah semesta memberikan tanda, bahwa saya tidak seharusnya menikah. Semesta seolah bilang bahwa menikah saat itu adalah keputusan yang tidak tepat. Seminggu menjelang pernikahan saya, keadaan MUA saya memburuk dan harus membatalkan janji untuk merias saya. H-7 HARI. Tentu saya panik, tetapi Allah Maha Baik. Haristylist saya membantu saya untuk deal baru dengan Mbak Jasmin Kaligis. Saya diberikan duo yang tiada duo. Empat hari menjelang acara pernikahan saya, Sipapah dilarikan ke Harapan Kita karena jantungnya kambuh. Beliau saat itu bahkan berbisik, “Boru, kalau Papah tidak ada, lanjut saja acaranya ya.” Namun, saya ingat saat itu, saya tidak takut sama sekali. Saya tidak khawatir. I knew back then, this, too, shall pass. Benar adanya. Allah Maha Pemurah. Tidak sampai di situ, Seminggu sebelum hari H pernikahan, air di rumah kami mati. Mati total. Dan kali ini, sampai acara pernikahan berlangsung.
Semua itu terjadi, setelah hanya bermodalkan iman, percaya bahwa ketika saya bertanya kepada Allah suatu hari, “Apakah saya boleh menikah dengan dia?” dan saya diberi jawaban afirmatif. Meskipun Sipapah dengan tegas bilang, “Boru. Papah tidak malu kalau pernikahan ini tidak jadi, walau Papah sudah bayar hampir semua vendor. Semua tinggal tergantung Boru, mau terus atau tidak.” ketika kami dihantam badai pertama, sebelum serentetan peristiwa-peristiwa yang saya ceritakan terjadi. Hanya bermodalkan iman. Tuntunan tangan Allah membuat saya yakin. PerkenaanNya membuat saya kuat. KasihNya membuat saya mampu. KasihNya, yang juga sangat jelas dinyatakan oleh orang-orang yang mengasihi saya. Para Anugerah.
Hingga saat ini, 7 tahun pernikahan kami. Dalam tahun ke 7, kami, saya dan Bang David, diberi anugerah untuk mempersiapkan pernikahan saudara kami, adik laki-laki saya satu-satunya. Seorang adik, yang Para Anugerah tahu, begitu saya kasihi. Sangat saya kasihi. Yang juga, oleh Tuhan, mampu dikasihi oleh Bang David sedemikian rupa. For that, I am forever grateful. Ternyata, kisah menegangkan yang saya alami 7 tahun yang lalu sebelum kami menikah, Tuhan perkenankan juga kami alami saat ini. Di tahun ke 7 pernikahan kami, tahun ke 5 pergumulan kami memiliki keturunan. Ketegangan yang sama, pergumulan yang mendebarkan. Akan tetapi, saya kali ini tidak sendiri. Kali ini, dengan partner bergumul dan dengan Allah yang sama, kami melintasi pergumulan yang olehnya, kami kembali menyaksikan siapa Allah yang kami sembah dalam hidup kami.
Today is the day we have been married for 5 years. People said 5 years of marriage means you are passing a honeymoon period. We certainly do not want to believe them. Who do not want to experience honeymoon for the rest of your marriage life? We certainly are the ones that raising our hands for objection. However, in this cruel cruel world and two imperfect persons dealing each other for as long as we can remember, it is most likely impossible. We have argued so many times, hurt each other so many times, and of course yelled each other so many times. Worst, several times wanted to give up. And yet, we survived. For 5 years of childless marriage, we never even for once argued why we have not been blessed with wonderful pregnancy. And for that, I am forever grateful.
This year, when we were heading 5 years of togetherness, is the hardest year so far because it involved mental health and the cruel cruel world made it worst. Yet, we survived. E. E. Cummings once said, “Whenever you think or you believe or you know, you're a lot of other people: but the moment you feel, you're nobody-but-yourself.” Embracing the feeling is the key of survival. We didn’t use the social media in terms of that, yet we talked, and there went the warm hug after fighting. We kept it real to be true to ourselves because we wanted to be nobody but ourselves. Two imperfect persons with very huge ego are possible to be always true to each other because we always loved and watched by our perfect God. Also, we are blessed by very much positive community. Pray Ministry, we love you with all of our hearts. It’s most likely impossible if we are fighting this alone. He enables us to always be growing whenever we deal with something, whenever we prioritise something, and whenever we are on the weakest point. He always convinces us to be passionate to each other, even after hurting each other. He always facilitates us to grow and meet our new equilibrium. Isn’t that the real honeymoon period?
Happy anniversary to us, Abang. To many more growing and experiencing the new equilibrium. To many more honeymoon periods. To many more grateful to have each other. And to many more adventures. I love you forever.
There will be a moment when you throw the bouquet away to the crowdedness of people whom you blessed with and start the real color of your marriage. Happy Quarterversary, Hasian! #DavidDebbie17 #quarterversary #bataknesewedding