Menunggu Jemputan
“Teeeeeeeeeeeeng”
Bel sekolah telah berbunyi, pertanda bahwa kelas sudha berakhir. Semua siswa taman kanak-kanak berhamburan ke luar. Ada yang langsung pulang dijemput mama atau papa mereka, ada yang bermain dahlu di taman bermain sekolah. Ada pula yang hanya duduk termenung menunggu jemputan. Salah satunya aku.
“Rey, kamu kok belum pulang?” tanya seorang ibu muda kepadaku.
“...mamak (baca: mama),” aku berusaha menjelaskan kalau kau menunggu jemputan mama.
“Apa Rey?” tanyanya kembali. Sepertinya beliau tidak mengerti apa yang kusampaikan padanya. “Yaudah duduk manis di sini ya sampai dijemput.” Kemudian ibu muda itu menghampiri anaknya dan pulang dengan mengendarai sepeda motor bebek berwarna pink.
Hari ini mama yang menjemputku, karena bapak utkang ojek sedang sakit, begitu pula kak Fitri, kakak pendampingku, tidak datang ke sekolah karena harus melakukan tes kesehatan. Itulah sebabnya aku beljar sendiri tanpa didampingi oleh seorang pendamping pun.
Aku duduk di sebuah ubin merah di depan ruang guru. Di sana banyak pula yang bernasib sama seperti. Mereka berjajar menunggu sambil memakan kue yang mereka bawa. Perlahan satu per satu dari mereka beranjak dan pulang dijemput mama atau papa mereka. Hingga akhirnya tinggal aku sendiri di sana. Mama benar-benar sangat terlambat hari ini.
Aku merasa sedih karena semua temanku sudah dijemput sedangkan aku tidak. Tanpa terasa satu per satu tetesan air mata jatuh ke pipiku. Segera kuusap air mata itu dengan sapuan jari. Aku merasa malu jika sampai ada orang yang mengetahuinya.
Tes...tes..tes...
Ada air menetes kembali membasahi pipiku. “Sepertinya air mataku sudah kuusap semuanya. Lalu air apakah ini?” gumamku dalam hati sembari tangan ini mengusap air yang ada di pipi kananku itu.
Tiba-tiba suara gemuruh dari atap semakin kencang terdengar dan tanah menjadi basah.
“Hujaaaaaaan.” Pat Satpam berteriak sekencangnya dan menghalau para siswa, yang tersisa untuk menunggu jemputan, agar segera menepi mencari tempat berteduh. Pak Satpam mendorongku ke koridor sekolah. Aku segera menuju halaman depan kelas yang berada di ujung koridor. Setelh sampai di sana, tidak salah lagi hujan turun begitu deras. Kutatap saja derasnya tetesan hujan yang membasahi bumi. Hingga kuteringat masa kecilku dimana mama sering mengajakku bermain di luar saat hujan turun. Aku dapat membayangkan bahwa aku sangat senang saat berada di masa itu.
Tanpa berpikir panjang, kulangkahkan kaki untuk keluar dari halaman beratap dengan berdiri di tengah hujan. Kurasakan tiap tetesannya yang dapat mengusir rasa bosan selama menunggu. Tak lama setelah itu mamaku datang dengan memakai jas hujan lenkap.
“...mamamaaaaaaak,” aku memanggil mama sekua tenaga hingga mama dapat menyadari di mana aku berada.
“Wah...anakku sayang, kenapa kamu hujan-hujan an?” tanya mama sambii menggandeng tanganku menuju pinggir.
Tertawaku bukan karena aku menertawakan mama, tetapi aku senang karena akhirnya mama datang dan aku memiliki kesempatan untuk bermain di tengah hujan terlebih dahulu.
“Nak, lain waktu jangan main hujan-hujanan yaaa,” ujar mama menasihatiku. Mama melucuti semua pakaianku dan memintaku berganti pakaian.











