Salam Perpisahan
Seusai pentas seni, kami diminta untuk datang ke sekolah. Bukan untuk menerima pelajaran, tetapi untuh beres-beres. Ada buku tulis, buku gambar, majalah, crayon, pensil warna, dan beberapa karya yang sudah kami kerjakan di sekolah sudah tertata rapi di dalam tas berwarna biru muda. Loker yang biasa kugunakan untuk menyimpan perlengkapan sekolahku ini sudah bersih. Kupandangi seisi kelas, beberapa barang sudah dirapikan termasuk foto-foto kelas kami. Hal ini menandakan bahwa aku dan teman lainnya benar-benar sudah harus meninggalkan taman kanak-kanak.
Personil kelas khusus Rainbow sudah lengkap. Kami semua duduk di bangku kami untuk terakhir kalinya menjadi siswa TK. Bu Guru berdiri di depan kelas dan menyampaikan petuahnya.
“Anak-anak, sekarang kalian sudah lulus dari TK. Kalian akan menjadi siswa SD. Belajar yang giat ya...”
Aku tak terlalu memperhatikan pidato beliau. Aku hanya menangkap bahwa beliau ingin mengucapkan salam perpisahan. Walau berat, beliau berusaha menyampaikannya. Beberapa kali beliau tertangkap sedang meneteskan air mata, tetapi dielaknya.
“Waaaah.... bu guru nangis ya,” goda salah seorang temanku.
“Ndak...ndak.. bu guru gak nangis kok.” Bu Guru menghapus air matanya yang menetes di pipi lalu melanjutkan nasihatnya.
----------------------------------------------o-----------------------------------------
Setelah bu guru memberikan nasihtanya secara bergantian kepada kami, tiba giliran kak Fitri, kakak pendampingku, yang menyampaikan nasihatnya. Kali ini bukan nasihat yang kudengar, tetapi sebuah ungkapan hati.
“Temen-temen sekalian, kakak mohon maaf sebesar besarnya kalau kakak punya salah,” ucap kak Fitri dengan nada yang lemah lembut. Seketika aku merasa ini bukan hal baik.
“Temen-temen, saya sekalian mohon maaf kepada kalian semua kalau selama ini kakak suka bikin kalian sebel dan marah,” ujarnya di depan kelas.
“...dididik, hemnanak (baca: kak Fitri, mau kemana)?” Rey bertanya kepada kak Fitri.
“Mohon maaf, kalau kakak tidak bisa menemani Rey di SD nanti. Untuk beberapa hal yang menyebabkan kak berhenti menjadi kakak pedamping untuk Rey. Nanti akan ada kakak baru yang lebih baik dari aku.” Kak Fitri berbicara panjang lebar di depan kelas.
Aku hanya diam menanggapi semua itu. Aku tak terlalu paham apa maksud yang disampaikan kak Fitri, tetapi aku bisa merasakan bahwa ini bukan berita yang baik. Aku tetap terdiam bahkan saat kak Fitri mencoba menanyaiku banyak hal.
Perasaanku tiba-tiba menjadi sangat kacau, aku merasa sedih dengan perpisahan kami ini. Bagiku, kak Fitri adalah kakak pendamping yang baik. Dia mampu bertahan mendamingiku dengan segala kekuranganku selama 1 tahun ini. Walau aku tak mengekspresikan kesedihanku ini dengan menangis, tetapi aku menunjukkan rasa sedih ini dengan terus meminta perhatian kak Fitri. Mulai berlarian hingga berbicara seperlunya. Bersama kak Fitri, aku menjadi diriku sendiri dan mengekspresikan emosiku dengan bebas, dibandingkan saat bersama kakak pendamping sebelum-sebelumnya.
Semua ini memang tidak mudah dilalui. Hari itu adalah akhir dari cerita masa kanak-kanakku dan menjadia awal untuk menjadi siswa SD. Dengn berakhirnya masa TK, maka berakhir pula ceritaku tentang Bu Guru, kak Fitri dan kawan-kawan. Akhir kisah ini begitu membuat haru biru. Tak terasa bahwa kak Fiti meneteskan mata. Kuhampirinya dan kuhapus air mata itu. Kak fitri lalu memelukkan.
Semoga dengan berakhirnya masa TK, bukan menjadi akhir dari pertemua kami.






