Gerak mengenal ketika sendiri..😊 #kitajagakita #days29 #pkp #stayathome #staysafe #trainingathome #stayhelthy #stayfit #shadowpgsfamily❤ (at Shadow Pgs Martial Arts Gym) https://www.instagram.com/p/B--_mgPlCVZ/?igshid=dm22bkecl3sr
seen from Australia

seen from Italy

seen from United States
seen from China

seen from Italy

seen from Singapore
seen from Japan

seen from Japan

seen from Türkiye
seen from Hong Kong SAR China
seen from China
seen from China
seen from Japan
seen from Singapore
seen from United States
seen from France

seen from Italy
seen from China
seen from Singapore

seen from Canada
Gerak mengenal ketika sendiri..😊 #kitajagakita #days29 #pkp #stayathome #staysafe #trainingathome #stayhelthy #stayfit #shadowpgsfamily❤ (at Shadow Pgs Martial Arts Gym) https://www.instagram.com/p/B--_mgPlCVZ/?igshid=dm22bkecl3sr
Pentas Seni (2)
Semua persiapan sudah dilakukan sebaik mungkin. Mulai menata, menghias, dan memeriksa lampu maupun sound system. Beberapa bapak-bapak mengangkut kursi ke sana kemari. Ada pula yang meletakkan beberapa bunga di panggung. Tak tertinggal pula ada bapak pianis kami yang sangat tampan sudah mulai memperiapkan perlengkapannya untuk mengiringi kami semua bernyanyi. Kakak yang cantik da salah seorang guru menjadi pembawa acara. Mereka berdiri di samping panggung dan berbicara satu sama lain sambil memegang microphone. Yah, hari ini adalah hari yang sudah kutunggu sejak beberapa minggu ini, Pentas Seni Perpisahan Sekolah Taman Kanak-kanak.
Tepat pukul 07.00 aku datang bersama mama dan kak Fitri. Di sebuah ruangan yang sangat besar lengkap dengan panggung yang megah sudah siap menjadi saksi lahirnya lulusan baru dari TK tempatku bersekolah.Aku melangkah setahap demi setahap sambil menghitung tiap degup jantungku yang semakin lama semakin kencang. Tak terbayangkan olehku bahwa untuk pertama kalinya aku akan berada di atas panggung dan disaksikan oleh banyak orang, terutama oleh mamaku sendiri. Aku ingin melakukannya sebaik mungkin.
Beberapa panitia sudah berjajar dari pintu masuk hingga tempat duduk. Mereka mengarahkan tempat duduk kami. Untuk sementara waktu aku dan mama berpisah. Mama menuju area wali murid, sedangkan kau dan kak Fitri, pendampingku, menuju belakang panggung.
“Rey, anak mama yang hebat, semangat ya nak! Mama akan melihat Rey dari sini.” Mama menyampaikan wejangannya sebelum pergi menuju kursinya. “Jangan lupa senyum ya!”
“....mamamak, wawawak, ikuk (baca: mama, bawa, ikut).” Entah apa yang kukatakan, semua kata itu keluar begitu saja. Aku hanya ingin supaya mama ikut denganku.
“Rey, ayo kita ke belakang panggung bersama teman-teman lainnya,” kak Fitri menggandeng tanganku dan mengajakku pergi.
“Yauda, sana sama kak Fitri,” mama mencium keningku lalu melambaikan tangannya padaku. “Dadaa nak!”
“...mamamak dadaaaa (baca: mama, dada),” aku beranjak pergi sambil melambaikan tangan kepada mama. Kulihat senyum mama yang membuatku lebih samangat lagi.
------------------------------------0--------------------------------------------
Mari kita sambut, wisudawan dan wisudawati...
Iringan musik yang begitu meriah membuka pentas seni. Seketika ruangan menjadi gelap lalu nampak sorotan lampu berwarna-warni bergerak menyorot barisan siswa TK kelas B. Kami semua sudah bersiap dan berbaris rapi sejak di belakang panggung. Begitu kakak pembawa acara mempersilahkan kami masuk, langkah kaki ini menjadi begitu berat karena rasa gugup yang begitu mendominasi hatiku saat ini. Bagaimana tidak gugup, sorotan lampu menyambut setiap kedatangan kami dan iringan musik yang seolah kami adalah bintang tamu yang sedang ditunggu-tunggu dalam sebuah pertunjukan. Seketika semua pandangan tertuju pada kami. Kulihat beberapa orang berdiri dan memegang handphone mereka untuk memotret. Penyambutan ini membuat kami merasa menjadi sangat istimewa.
Kami semua berjalan menuju bangku yang sudah disiapkan di belakang bangku guru-guru. Sambil berjalan kupasang mata jeliku ini untuk menemukan dimana mama duduk. Kulihat ada lambaian tangan yang kadang muncul dan tenggelam karena terhalang oleh pundak orang yang duduk di depannya. Saat lambaian itu terlihat, perlahan kulihat wajah mama yang begitu sumringah. Melihat mama, hatiku menjadi tenang.
Kami menikmati tiap pertunjukkan yang ditampilkan oleh adik-adik kelas A. Ada yang bermain operet, menari, bahkan membaca puisi. Ada pula yang menampilkan fashion show dari ekstrakulikuler fashion. Tak kalah ekstrakulikuler drum band dan tari juga menampilkan aksi mereka. Semuanya begitu indah dan sangat bagus. Hingga acara puncak dan saat yang membuatku menjadi gugup kembali.
Acara berikutnya, penampilan paduan suara dari kelas B.
Protokol dari pembawa acara mengawali pertunjukan kami. Semua yang telah kita usahakan dan latihan yang melelahkan selama ini akan terbayar saat ini. Satu per satu siswa kelas B memasuki panggung dan berbaris membentuk dua baris. Aku berdiri di barisan belakang. Walaupun begitu, aku masih bisa melihat wajah mama yang sangat bersemangat melihatku. Bu guru mulai mengambil posisi sebagai dirijen. Pianis kami sudah bersiap di depan pianonya. Perlahan ruangan menjadi gelap dan hanya ada sorotan lampu yang mengarah kepada kami.
Begitu bapak pianis mulai mengalunkan melodinya, kami mulai mengeluarkan barisan nada lagu. Semua teman-temanku begitu bersemangat dan bernyanyi dengan baik. Mulai lagu Hymne Sekolah, Lagu Guru, Quesera-sera. Ketiga lagu itu terdengar begitu syahdu. Alunan musik yang lembut mampu membuat setiap yang mendengarkannya menjadi terharu. Kami berhasil membuat beberapa guru dan orang tua meneteskan air mata. Begitu sampai lagu Apuse dan lagu daerah lainnya, iringan musik berubah menjadi ceria. Lampu ruangan mulai dinyalakan dan kami dapat melihat seluruh isi ruangan. Seketika para penonton bertepuk tangan dan bersorai. Kami melenggang, menari sambil bernyanyi.
Aku, yang masih sulit untuk berbicara, tak mampu bernyanyi sebaik teman-teman lainnya. Aku hanya bererumuh, tetapi tak sekeras suara nyanyia teman lainnya. Walau terasa sulit, aku berusaha mengikuti setiap gerakan saat menari. Semua itu menyita banyak tenaga dan konsentrasiku. Untung saja ada kak Fitri yang senantiasa mendampingi dan membantuku mengatasi segala kesulitan yang tengah kualami.
Lagu terakhir adalah Sayonara, kami bernyanyi sambil berjalan meninggalkan panggung. Tak kusangka penonton bertepuk tangan dengan sangat meriah. Rasa gugup yang menghinggapiku selmaa ini seakan sirna dengan respon penonton yang sangat gembira dengan pertunjukan kami. Acara ini ditutup dengan pelepasan, dimana kami kelas B memakai toga. Nama kami dipanggil satu per satu menaiki panggung untuk mendapatkan ijasah.
Semua berjalan dengan lancar dan berakhir dengan sangat indah. Aku mencari mama dan ketika aku menemukannya, pelukan hangat dari mama telah menyambut diirku.
“Waaaah, Rey hebat banget tadi,” pujian mama mampu menyunggingkn senyuman yang sangat lebar dan membuat wajahku merah merona. “Mama bangga sama anak mama ini.”
“....asdek, ae... (baca: anak SD, Rey),” ujarku kepada mama.
“Iyaaa donk... Saiapa anak SD?” tanya mama padaku.
“....ae.... (baca: Rey).”
“Iyaaaa, Rey anak SD sekarang.”
Selama tiga tahun di TK, banyak hal yang sudah kualami. Walau aku harus mengulang di kelas B, tetapi tidak membuatku menyerah. Kututup cerita masa TK-ku ini kenangan yang begitu indah dan sebuah pentas seni yang akan berkesan sepanjang masa.