Dealing with Yourself - Part 1
Kata siapa Psikolog gak boleh sedih? Kadang-kadang keprofesionalitas malah menjauhkan beberapa orang dari sifat manusiawinya. Dibalik keprofesionalitasan saya (ceilee) ada rasa-rasa ingin dihargai bahwa saya adalah seorang manusia juga.
Berhubung awal tahun ini dimulai dengan kegamangan, saya akhirnya searching di IG, dan menemukan sebuah platform bernama ceritaperempuan.id. Kedengarannya menarik, apalagi tema yang diangkat mengenai isu Mental Health. Jarang-jarang saya memberanikan diri untuk datang sendirian ke acara-acara seperti ini. Toh, tidak ada yang salahkan untuk mencoba sesuatu yang baru?
Sabtu kemarin, sayapun akhirnya mendatangi acara tersebut. Ketika merasa memiliki masalah yang berat, sayapun kembali disadarkan bahwa tiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Saya cukup terenyuh dengan pemaparan seorang pejuang Bipolar agar ia bisa bertahan melawan penyakitnya tersebut. Ia membuat sebuah pernyataan yang kurang lebih isinya seperti ini.
“Saya waktu itu marah ketika saya didiagnosis memiliki Bipolar. Namun, Bipolar ini ada pada diri saya. Dia bagian dari diri saya. Itu berarti saya menyalahkan diri saya dong. Saya juga menyalahkan apa yang sudah Tuhan kasih pada saya. Butuh waktu 10 tahun untuk saya berdamai dengan keadaan ini. Kuncinya satu acceptance.”
DAAAN, saya tiba-tiba nyadarin sesuatu,
Bahwa, kekuranganpun harus disadari dan diiyakan, bukan untuk dilawan. Kita hidup di jaman dimana setiap orang untuk melawan kelemahan. Saya menyadari bahwa kelemahan itu ada untuk disadari juga. “Oh, iya saya teh lemah disini.” Nah, ketika kita sadar dan tidak denial, disitulah artinya kita sudah bisa beranjak ke fase dealing yang sebenarnya. Susah susah gampang yah menyadari kelemahan diri dan juga berdamai dengan kelemahan. Sampai hari ini saya upside down terus untuk berdamai dengan kelemahan saya . Any idea?









