Dear Nanda,
Pertemuan ketiga di sebuah coffee shop pada malam minggu, Aku mulai merasakan ketidaknyamanan itu. Perasaan yang akhirnya kuungkapkan padamu di pertemuan entah ke berapa. Maaf, tapi cara bicaramu salah.
seen from Ukraine
seen from United States
seen from Finland

seen from Germany
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Türkiye
seen from South Africa
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
Dear Nanda,
Pertemuan ketiga di sebuah coffee shop pada malam minggu, Aku mulai merasakan ketidaknyamanan itu. Perasaan yang akhirnya kuungkapkan padamu di pertemuan entah ke berapa. Maaf, tapi cara bicaramu salah.
Dear Nanda,
Pertemuan kedua setelah chat panjang kala itu, kau mulai dengan membicarakan pernikahan. Dan perlahan, kau pun mulai membuka diri untuk segala percakapan yang tak berarti. Apakah ini awal jatuh cintamu? Aku tidak tau.
Dear Nanda,
Pertemuan pertama kita malam itu, aku menunggumu cukup lama sampai dingin ramen yang kupesan waktu itu. Saat tiba kita berbicara, aku masih tak benar-benar melihatmu. Kau secukupnya aku tau, adalah pemuda dengan banyak peluang yang sia-sia
Dear Nanda,
Percapakan berlanjut namun tetap begitu kaku, dan aku masih memikirkan cara bagaimana meluluhkan kekakuanmu. Barangkali bisa menjadikanmu orang-orang pada umumnya, melepas tawa sebagaimana rasa lucunya
Dear Nanda,
Kau mulai menghubungiku, chat yang santun namun terasa begitu kaku. Terima kasih sudah jadi orang baik.
Dear Nanda,
Senyumku waktu itu, adalah ejekan untuk dunia yang sempit karena mempertemukanku denganmu. Iya, kau yang ternyata begitu dekat tapi tak pernah aku melihat. Lucunya cara Tuhan mempertemukan kita dan membuat jalan ceritanya.
Dear Nanda,
Kau yang pertama kali menyapaku, dan masih kusimpan kartu nama yang pernah kau berikan itu. Walau sudah pudar tinta namamu, aku masih ingat semudah mengeja nama pemuda kurus, tinggi dan kaku.
Dear Nanda,
Di awal pertemuan itu, di fotokopi parkiran motor sebuah gedung perkantoran ditengah ibukota. Aku tahu kau memperhatikanku diam-diam, diam-diam membaca file-file milikku yang gagal kau cetak waktu itu.