Terimakasih Untuk Kesempatan Mengenalmu
Semakin mengenalmu, semakin aku bersyukur atas keputusanku untuk menjauhi mu. Sekarang, setiap hal yang berkaitan denganmu tak lagi pernah terasa manis. Seharusnya dari dulu aku sudahi semuanya. Semua tentangmu, tentangku, tentang kita. Juga, tentang rasa. Rasa kita dulu. Tapi tunggu, kita? Aku rasa lebih tepat jika yang ku lupakan adalah rasa ku terhadapku, karena memang takkan pernah ada rasa mu terhadap ku. Hambar! Aku berterima kasih atas setiap hal yang dulu pernah kau lakukan. Dulu, itu membuatku sangat bahagia. Mengenangnya, membuatku tak henti tersenyum. Bahkan, aku pernah menjadikanmu sebagai mata air kebahagiaanku. Ahh, bodoh sekali aku. Perasaan ku terhadap mu (dulu), entah seperti apa besarnya. Dengan mendengar namamu saja cukup untuk membuatku lupa atas semua kesalahanmu. Cinta benar-benar membutakan aku. Aku tidak menyesal pernah mengenalmu. Aku malah sangat-sangat berterima kasih atas kesempatan mengenalmu. Dari "kita" aku belajar untuk memaafkan, aku belajar untuk mengerti, aku belajar untuk mengalah. Dari mu, aku tau bagaimana seharusnya bersikap baik pada setiap orang, aku tau bagaimana nikmatnya menanti, dan aku tau bagaimana caranya berhenti berharap dengan terhormat. Dari rasa sakit ku, aku mengenal orang-orang baik yang membawa pengaruh positif untuk hidup dan kehidupanku. Dari sakit itu, aku mengenal yang mana sahabatku dan yang mana temanku. Memang aku sempat kesal. Memang aku telah kecewa. Memang aku pernah marah. Aku rasa itu manusiawi untuk seseorang yang mengharap selain padaNya. Dan dari itu aku sadar, tidak seharusnya aku mengharapkan apapun dari seseorang sepertimu. Memangnya, apa yang dapat kamu lakukan? Toh, apa yang dapat kamu lakukan semestinyapun aku dapat melakukannya. Terimakasih untuk kesempatan mengenalmu.









