Berharap Sama Manusia: The Art of Hurting Yourself
Kadang kita tuh suka lupa kalau manusia itu ya manusia, nothing more, nothing less. Kamu pernah nggak sih, expect too much dari seseorang? Kayak berharap dia bakal selalu ada, always understand, atau nggak pernah ngecewain? And then, boom! Reality hits you hard, and you’re left there wondering, “Kenapa ya dia nggak kayak yang aku bayangin?” Well, welcome to the art of self-torture: hoping too much on people.
Here’s the thing: manusia itu nggak sempurna, termasuk kamu dan aku. Tapi anehnya, kita sering naro ekspektasi tinggi banget ke orang lain, seakan mereka superhero yang nggak bakal pernah salah. Padahal, news flash, mereka punya limit, sama kayak kamu. Terus, pas mereka nggak sesuai ekspektasi kita, apa yang kita lakuin? Ngambek, kecewa, overthinking, bahkan kadang jadi toxic ke diri sendiri. Sounds familiar, right?
Salah satu contohnya gampang aja: kamu chat temen buat curhat karena lagi bad day, terus dia slow respon atau bahkan nggak bales. Langsung overthinking, “Dia nggak peduli sama aku, ya? Apa aku terlalu merepotkan?” Padahal mungkin dia lagi sibuk atau capek, tapi kita otomatis ngerasa neglected. That’s what happens when you rely too much on people’s reactions.
It’s not their fault sih, tapi lebih ke bagaimana kita naruh terlalu banyak ekspektasi ke mereka. Harusnya kita sadar, kalau hidup tuh nggak fair. Nggak semua orang bakal ngerti kamu, nggak semua orang bakal ada buat kamu. Dan itu normal. They’re human, not your emotional support system on-demand.
Kalau udah gini, solusi terbaik adalah belajar self-reliance. Mulai belajar ngobrol sama diri sendiri, be your own best friend. Kalau kecewa, ya udah, kasih space buat diri sendiri. Kalau sakit hati, ya wajar, tapi jangan lupa move on. You don’t need anyone to validate your worth.
Jadi mulai sekarang, mungkin kita harus lebih bijak. Hope less, love more, and keep your peace. Bukan berarti nggak boleh percaya sama orang, tapi ya jangan lupa kalau manusia itu nggak sempurna. The only person you can fully rely on is yourself. Sisanya? Just let it flow. Kalau mereka ada buat kamu, syukur. Kalau nggak, ya udah. Life goes on.