Sudah berapa banyak aku menghela napas panjang, hari ini dan hari-hari sebelumnya, bagaimana di hari berikutnya? menghembuskannya seakan tidak akan pernah selesai begitu saja. Sesak di dadaku masih juga sama. Pikiranku masih saja rumit. Berpikir untuk menyelesaikannya tapi tak pernah tuntas.Berharap untuk mengakhirinya tapi tak pernah habis. Ada banyak hal yang tak ku mengerti bahkan saat terpejam semuanya terbayang dengan jelas.
Pikiranku rumit semalaman, banyak yang tidak aku percayai di dunia ini. Manusia begitu alih berpura pura menutupi. Namun suara bising kepalaku tidak pernah berhenti sejak saat itu, ketika aku bertemu nya.
Aku mengirim pesan singkat, dengan pertanyaan aneh di whatsapp kepadanya. Dia temanku sejak 3 tahun lalu. Bahkan sempat menjadi sahabat cerita atas masalah dan bahagianya aku. Lalu ada hal yang membuat semuanya berubah, jalan yang ditempuh berbeda. Keputusan yang dibuat juga tak ada persamaan hingga sampai pada pilihan berjauhan.
Mungkin tidak banyak hal yang ku tahu tentang nya, mungkin juga banyak hal yang aku ketahui darinya. Entahlah.. tapi banyak yang tidak aku mengerti walau dijelaskan.
Aku mengiriminya pesan karena hanya dia yang satu satunya menyuruhku untuk melakukannya.
Dihari itu,
"Ayolah, tersenyum.Aku akan mengambil fotonya" tangannya memegang kamera hp seorang teman.
Aku menjawab singkat dan lirih, "aku hanya lelah." tapi akhirnya aku tersenyum saat dia mengambil foto ku dan temanku yang lain.
Lalu aku bertanya, kenapa menyuruhku melakukan itu. Pikiranku berhenti bertanya. Tidak ada jawaban.
"Ada tempat untuk melarikan diri?" ketikku singkat,
Kemudian hpku bergetar,
"Ada apa? Apa ada masalah?"
"Ceritalah"
Sebelum dia menjawab seperti itu dan bertanya masalahku. Dia sempat tidak percaya bahwa aku mengiriminya pesan seperti itu justru dia bertanya,
"Apa kau salah kirim?" balasnya pertama kali.
aku hanya tersenyum miris, bahkan dia berpikir seperti itu, apakah tidak ada yang mempercayai ucapanku?
Aku tau itu percakapan pertama setelah jeda yang sangat panjang karena sejak 3 tahun itu, aku berhenti menemui siapapun, berhenti bertanya, berhenti mencari tahu.
Tapi ya, pikiranku benar. Memangnya kau siapa?
Tidak ada yang benar benar mengkhawatirkanmu, tidak ada yang peduli akan masalahmu.
Bahkan jika aku memilih hilang, dan tak menjawab panggilan, atau membalas pesan chat. Tidak akan ada yang mencari.
Aku lupa, bagaimana bisa mereka menanyaiku,aku tak memulai apa-apa, jadi aku tak memiliki siapa-siapa.
Hari itu, kupikir dia berbeda. Walau dia menanyaiku.tapi aku terus merasa asing. Dia satu satunya orang yang menyuruhku tersenyum saat wajahku begitu mengerikan seperti saat itu, karena aku yakin semua orang yang melihatku justru hanya melihat saja, bahkan tidak bertanya. Meskipun mereka selalu berada di sekitarku, tapi tak benar-benar di sampingku.
Aku berdiri menatap sosok itu. Langit abu abu dan jalan penyebrangan itu memisahkan aku dan dia. Ia menatap lurus ke depan, dan aku memandanginya.
Seperti saat itu, walau tak terlihat. Kau dan aku seperti berjarak. Kita tak benar benar berjalan di jalan yang sama, bahkan sekedar bayanganmu saja. Aku tak bisa mengikuti.
"Apa yang sedang kau pikirkan," tanyaku dalam hati. Sesuatu yang menyedihkan, seperti itu aku melihatmu.
"boleh, aku memandangimu sangat lama?" tanya hatiku untuk kedua kali.
"Bisakah, aku bertahan meski untuk selamanya?" tanya hatiku terakhir kali.
Setelah itu, semuanya tiada. Jalan dan penyebrangan itu perlahan sepi meninggalkan tanya yang tak semlat diutarakan.
Jawabannya tentu tidak, siapa yang akan mendengarnya. Kau tiada, dan aku belum selesai.
Kita tidak sembuh dari perasaan bahagia setiap harinya, itulah kenapa sedih dan kecewa tidak akan membuat hidupmu berakhir sekarang juga. Kau tidak kuat karena senang, tapi luka lukamu memberi bekas yang menguatkan.
Kadang kita pikir sesuatu yang tidak berjalan sesuai yang kita ingini adalah buruk, dan sebagian menganggapnya bencana yang tak terbantahkan. Hal tersebut menjadi kejutan yang mungkin tidak akan pernah terlupakan meski dipilih atau terpilih.
Tapi tidak semua kejutan adalah buruk, sama seperti tidak semua hadiah yang kau terima semuanya menyenangkan. Kadang kejutan baik datang saat kau sedih dan hadiah buruk diberikan ketika keadaanmu tidak baik.
Pada akhirnya semua sama saja, hal yang berjalan sebagaimana mestinya bisa saja berbanding terbalik dan berjalan tidak sebagaimana harusnya. Kau tidak perlu mengerti, hanya perlu tahu. Seperti bagaimana perasaan bahagia hadir dan bekas luka yang tak bisa sembuh dengan sendirinya.
Kadang ada hal dalam hidup yang tidak butuh jawaban, dan tidak perlu ada alasan. Kadang pertanyaan pertanyaan dalam hidup hanya perlu kamu simpan saja sendirian. Seberapa banyak itu, pada kenyataannya tidak berarti apa-apa.
"Jangan melihatku seperti itu, seperti kau ingin memakanku bulat bulat," ujarku dengan malu.
Kau mengamatiku di persekian menit yang lalu, dan ini sudah hampir satu jam kau bertahan dengan posisi yang sama. Memandangku dengan tatapan dingin.
Seperti biasanya, kau akan diam mengamati dan memandangku seperti hewan buas yang siap menerkam mangsanya jika sudah sangat kelaparan.
dan aku akan tetap melakukan hal yang sama, diam dan tidak berbicara. kali ini ku biarkan segalanya tertutup rapat dan menjadi rahasia.
tak lama kau akan menyerah, dan pergi begitu saja.
Namun hari ini berbeda, sudah dua tahun berlalu. Kau menungguku untuk membongkar semua rahasia itu, tidak sedikitpun kau ijinkan aku menyimpannya sendiri.
"Kali ini aku tak akan lengah, aku tak kan kalah." katanya dengan lantang. Dia masih di posisi yang sama.
Aku menunduk berhenti menatapnya. Ternyata mengungkapkannya tak semudah kau berbalik pulang.
"aku tidak menyukaimu.."
Akhirnya dia berhenti menatapku dan kalimat itu menjadi yang terakhir untuk di dengar antara kita.