Aku masih termenung, menunggu degupku siap mengurai jawaban untuk pertanyaan itu. Hatiku sibuk menenangkan dirinya sendiri, yang sedang ribut. Tak tahu apa yang sedang mereka ributkan. Tapi jelas hatiku sibuk menenangkannya.
Eum, sekarang dengarkan aku. Biarkan aku mengurai gundah, sementara siapkan telingamu saja. Jangan hatimu, aku khawatir nanti kamu akan terbakar emosiku. Cukup dengarkan saja, dan boleh sesekali kamu pahami.
Bagaimana perasaanmu? Berkilau dan bersinar terang di luar, tapi padam di dalam. Apa yang kamu rasakan, ketika mereka lebih bisa menghargaimu ketimbang dirimu sendiri? Apa yang akan kau katakan pada dunia, jika ternyata kamu tak memiliki tempat yang nyaman untuk kembali. Sementara, di luar sana kamu tampak sempurna. Di mata mereka, kamu terlihat tanpa cela.
Sementara, hatimu hampa. Kosong dan tak ada makna. Orang-orang di luar sana lebih merasa nyaman denganmu. Sementara yang ada di dekatmu mengingkari. Apa yang bisa kamu katakan, ketika hatimu mulai tercecar rasa tak nyaman. Ingin kembali pulang. Tapi jalan berliku belum pernah menunjukkan cahaya terang.
Lalu, apa yang kau pikirkan tentangku sekarang? Melihatku yang (ternyata) rapuh dan hanya berpura-pura kuat, supaya kuat dengan sesungguhnya. Apakah kau masih merasa bahwa akulah satu-satunya? Masihkah kau akan selalu berada di sampingku?
Coba terangkan padaku, hal terbaik apa yang bisa kau lihat dariku? Katakan!
Aku akan menunggumu. Dan sekarang aku telah selesai dengan uraianku. Bicaralah, katakan sesuatu kepadaku!