Menujumu
Aku pernah pergi jauh, untuk banyak berkenalan dengan manusia-manusia lain. Mencecap adaptasi di tempat orang lain. Belajar membuka obrolan, menyodorkan topik pembicaraan, sampai akhirnya hanyut dalam diskusi-diskusi panjang. Dari sekian manusia, akhirnya hanya beberapa yang bertahan dengan tingkah ku yang terlampau keras kepala ketika memberikan argumen.
Aku pernah menemukan beberapa orang yang mau bertahan dalam diskusi-diskusi panjang. Membingkainya menuju pembicaraan masa depan. Selepas itu, bagai kapal yang karam diskusi itu tenggelam beserta raga yang kian merenggang.
Setelah berkelana, aku justru kembali pada sebuah cerita lama. Kamu!
Dengan Izin pencipta semesta, kita kembali bertemu. Menyapa dalam canda, bercerita tentang segala pinta, sampai menertawakan nestapa kehidupan. Kita banyak bertukar asa, berbicara panjang beragam tema, sampai sekali dua kali berbicara sebuah rasa.
Kita tak pernah benar-benar yakin tentang sebuah rasa. Bagiku, kau bukan manusia yang bisa aku ajak dalam merangkai kehidupan mimpi bersama. Dan mungkin bagimu, aku manusia yang tak akan tergapai sebab caramu yang terlalu jauh dari maunya aku.
Sampai tiba akhirnya, justru kita terbalut pada pembicaraan masa depan. Tentang mimpi yang saling berkelindan, tentang diskusi yang saling menyempurnakan, sampai pada ragu yang kemudian beranjak ketitik yakin. Bahwa kita bisa saling mengisi, bermimpi, dan menjadi tempat pulang satu sama lain. Begitu memang skenario kehidupan. Tak pernah mampu disangka alur dan akhirnya.
Kini, kita sedang menikmati semua prosesnya. Beberapa hari kedepan, saat Allah mengizinkan, saat semesta membantu prosesnya kita akan bersanding. Aku masuk lebih dalam pada kehidupan mu, begitupun kamu dalam kehidupan ku. Tidak ada lagi kamu dan aku, yang ada adalah kita. Semoga dalam setiap prosesnya kita mampu bertumbuh pada kebaikan-kebaikan yang telah dan akan kita semai.
Aku, menujumu
@cholielofficial










