#DiaryRamadhan Hari Pertama
Alhamdulillah, tiada rasa yang patut aku penuhi hari ini kecuali rasa syukur yang berlipat-lipat karena Allah masih memberikan aku umur untuk beribadah di bulan suci Ramadhan 1441 H. Bukankah nikmat terbesar yang harus kita syukuri adalah kenikmatan iman dan islam? Betapa nikmat hidayah dalam agama Allah yang telah Dia pilihkan untuk hambaNya serta Dia perintahkan untuk memeluknya.
Nikmat yang mutlak.
( اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ * صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ )
"Tunjukilah kami ke jalan yang lurus, yaitu jalan orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka." (QS. Al-Fatihah: 6-7)
Di hari pertama Ramadhan, aku sudah merasa seperti ada yang hilang dan tidak sama lagi seperti Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Namun, semoga apa yang menjadi makna sejati dari Ramadhan tetap utuh diresapi dalam hati.
Baru juga hari pertama, hati ini sudah merasa rindu suasana Ramadhan dengan kebiasaan rutinitas yang memakmurkan masjid hampir 24 jam, suara lugu anak-anak tadarus di sore menjelang waktu berbuka, berlomba-lomba membagikan takjil atau makanan gratis di jalan. Hmm seperti ada kekosongan dalam waktu yang indah ini. Sedih memang, tapi tentu saja semua yang terjadi sekarang akan ada hikmahnya.
Mungkin dengan segala ibadah dilakukan di rumah mampu menjadikan diri lebih khusyuk untuk benar semata-mata mengharap ridha Allah, lebih banyak ruang dan waktu untuk muhasabah sebagai renungan membenahi diri, dan juga menjadi momen yang tepat meningkatkan kualitas perasaan syukur serta sabar atas apapun yang sudah Allah gariskan untuk aku saat ini.
Dalam kondisi yang tidak semenyenangkan apapun itu, aku selalu menyakini dalam hati bahwa Allah Maha Baik. Jadi meskipun di kondisi serapuh apapun, kekuatan dari rasa percaya itulah yang membuat hati ini menjadi tenang.











