Jeda
Aku tidak tahu sejak kapan semua ini menjadi kebiasaan. Tapi yang jelas, aku terbiasa menjadi orang yang paling sering merindukannya.
Sudah berbagai cara kutempuh untuk melupakan perasaan yang bahkan belum genap setahun itu. Tapi hasilnya nihil. Beberapa waktu lalu aku sempat berhasil merelakannya. Ada kecewa yang membuatku ingin benar-benar berhenti. Dan aku pun mencoba melupakan.
Tapi ternyata aku tak sungguh-sungguh berhenti mencintainya. Aku hanya sedang menjeda. Seperti sebuah rekaman yang hanya sekadar melakukan pause. Bukan stop atau benar-benar berhenti. Dan kini, semuanya berlanjut lagi. Perasaan itu kembali menyala, menyambung rekaman yang belum selesai, menyambung potongan cerita yang bahkan belum pernah dimulai. Entah apakah kisah ini akan dimulai suatu hari, atau justru akan menghilang bersama harapan yang tak lagi menjadi prioritas.
Satu hal yang seharusnya tidak kulupakan: mencintai tak pernah sesederhana itu. Benar. Penafsirannya tidak sesederhana karena kau mencintai. Itu lebih rumit. Lebih rumit dari rumus matematika, lebih rumit dari tabel periodik unsur maupun biokimia. Kata “mencintai” memang sederhana. Perasaan cintanya memang sederhana, tapi untuk diterjemahkan... tidak seperti yang terlihat.
Dan lihatlah aku kini—kembali tenggelam dalam perasaan yang seharusnya sudah sembuh. Perasaan yang seharusnya sudah terkubur oleh waktu. Seharusnya aku tidak jatuh cinta lagi. Sebentar, cinta… mungkin tidak apa-apa menyukai asal tidak terlena sampai jatuh cinta. Begitu mungkin, ya? Seharusnyaa begitu saja... seharusnya aku tidak perlu memikirkan segala hal tentangnya. Menerka-nerka dirinya. Mencari tahu lalu terluka oleh perasaan dan pikiran yang aku buat sendiri. Hal yang bahkan belum tentu kebenarannya. Seharusnya, aku melupakannya saja. Tapi ini tidak sesederhana itu, ya, alasannya hanya satu. Karena aku mencintainya. Bukan sekadar menyukai atau naksir. Tapi sudah jatuh terlalu dalam.
Aku melampaui batas.
Aku sering kecewa. Aku sering terluka. Bukan karena dia melakukannya dengan sengaja, tapi karena harapan yang aku taruh padanya dengan sengaja. Sampai aku terluka oleh harapanku sendiri. Padahal dia saja belum tentu menyukaiku.
Bagaimana jika sebenarnya ia merasa jenuh? Atau risih? Atau mungkin diam-diam membenciku? Tapi karena ia tidak punya pilihan, ia memilih diam di posisinya, tidak lebih dan tidak kurang. Masih di tempat yang sama. Mungkin, bahkan ia ingin menarik diri.
Ah, menyedihkan sekali membayangkannya.
Lihatlah aku—lagi-lagi terjebak dalam perasaanku sendiri. Dalam asumsi-asumsi yang kuciptakan sendiri. Dalam luka-luka yang kujahit sendiri, lalu kucabik sendiri pula.
Seharusnya aku membiarkan semuanya mengalir. Seharusnya aku bersabar. Seharusnya aku belajar melepaskan. Tapi ternyata, tidak sesederhana itu. Karena alasannya hanya satu: aku mencintainya. Bukan sekadar menyukai. Bukan hanya naksir biasa. Tapi aku sudah jatuh terlalu dalam—hingga lukanya pun menumpuk dan menyakitkan meski tak terlihat.
Dan sekarang, aku hanya bisa bertanya: mungkinkah aku melupakannya? Atau ini hanya jeda yang kesekian kali, yang akan kembali menyala saat aku tak lagi bersiaga?











