jujur dan tanpa bersandiwara
banda neira
seen from United States
seen from Sweden
seen from China

seen from Canada
seen from United States
seen from United States

seen from Poland
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from France
seen from China
seen from Canada
seen from Türkiye
seen from China
seen from United States
seen from China
seen from United States
seen from United States
jujur dan tanpa bersandiwara
banda neira
Bandung, 11-04-15. Konser Kolaborasi "Kita Sama Sama Suka Hujan"
Utarakan
Utarakan (Lagu dan Lirik : Ananda Badudu)
Lihatlah bunga di sana bersemi Mekar meski tak sempat kau semai Dan suatu hari badai menghampiri Kau cari ke mana, dia masih di sana
Walau tak semua tanya datang beserta jawab Dan tak semua harap terpenuhi Ketika bicara juga sesulit diam Utarakan, utarakan, utarakan.
Dengarlah kawan di sana bercerita Pelan ia berbisik, pelan ia berkata-kata Dan hari ini, tak akan dimenangkan Bila kau tak berani mempertaruhkan
"Kita sama - sama suka Hujan." - Banda Neira. #bandaneira #musikalitaspuisi #dibandaneira
Bombang
“Jadilah sesuatu” , pesannya. Waktu itu kali pertama berkenalan dengannya.
November 2010, saya perdana berlibur solo. Penasaran dengan kesenangan yang didapat ketika berlibur sendiri. Ketika itu lah waktu adalah kebebasanmu.
Adalah Tanjung Bira destinasiku. Tempat itu belum terlalu ramai turis lokal dan mancanegara layaknya Pulau Dewata. Tanjung Bira sendiri merupakan Pulau yang berada di ujung Sulawesi Selatan. Jika ingin menyeberang ke Pulau Selayar, dari sinilah berlayar. Tapi entah kenapa pilihan jatuh kepada Tanjung Bira.
Awalnya tahu Tanjung Bira bukan dari iklan pemerintah yang seharusnya memasarkan tempat wisata di Indonesia melainkan dari teman di media sosial yang waktu itu posting liburannya di Tanjung Bira.
Disana ada tempat singgah bergaya rumah Tongkonan. Bisa dibilang bukan hotel. Indahnya, disana bisa menikmati lautan yang terhampar luas di depan mata khususnya ketika pagi menyapa. Ya, tepat di depan mata.
Ada keunikan sendiri mengenai pemilik tempat singgah ini. Merangkap sebagai koki, setiap pagi pemiliknya melayani tamu-tamu yang menginap di sana dengan memasak sendiri sarapan untuk para pengunjung.
Hanya ada dua pilihan setiap paginya : Nasi Goreng atau Mie Goreng. Untuk minum : kopi atau teh. Menu rumahan :) tetapi menjadi istimewa apabila menikmati sarapan ditemani pemandangan yang sangat indah. Percayalah, Alam di Tanjung Bira seakan bicara kepada saya bahwa dia patut dikagumi.
Saya jadi ingat potongan lirik banda neira yang berjudul hujan di mimpi yang katanya semesta bicara tanpa suara dan buta aksara. Dan saya percaya bahwa sepi itu indah dan membisu itu anugerah. Saya seperti menyatu dengan alam.
Sang pemilik menaiki anak tangga membawakan sarapan untuk saya. Kali itu dia mengajak saya untuk saling bercerita. Katanya itu hal biasa yang dia lakukan pada saat hari terakhir bagi pengunjung yang menginap disana. Tas dan barang bawaan saya sudah terkemas rapi. Yang tertinggal hanya sarapan yang belum saya santap.
“ menurutmu bagaimana Tanjung Bira?”, tanyanya seketika
“Anugerah”
“Beberapa turis solo yang berkunjung kesini rata-rata dari mancanegara. Sangat jarang turis solo dari Negeri sendiri. Dan kamu turis solo wanita pertama yang berkunjung ke Tanjung Bira”
Saya hanya tersenyum sambil sedikit-sedikit menyeruput teh manis hangat buatannya.
“Kenapa Tanjung Bira?”, tanyanya lagi
“Penasaran saja. Awalnya karena selalu ingin pergi ke Makassar. Saya berdarah campur Makassar dengan Padang. Saya sudah pernah sekedar berkunjung ke Padang waktu kecil tapi belum pernah menginjakkan kaki ke Makassar. Saya cari tahu mengenai Sulawesi Selatan - salah satu yang terkait adalah pulau indah ini.. ternyata lebih dari indah, ya? Hehe..
“Padahal Pulau ini belum begitu terekspos. Malah yang saya dengar rencananya Pulau ini akan dijual ke orang asing oleh Pemerintah. Warga sempat berseteru dengan Pemerintah. Jadi tidak jadi.. Tapi tidak menjamin tidak akan dijual. Entahlah mungkin Pemerintah sedang memikirkan rencana lain terhadap Pulau ini. Semoga rencana yang positif”
“Ohya? Sayang sekali. Mengorbankan sesuatu yang besar demi yang kecil. Ironi”
“Betul. Saya pun bingung. Mereka padahal sudah menjadi orang besar. Kenapa lagi ingin menjadi kecil?”
“Semua hanya kebutuhan duniawi yang diselimuti oleh nafsu”
“Tapi.. semua orang kan pasti punya kebutuhan duniawi dan nafsu”, sanggahnya
“Betul. Tapi saya tidak akan seperti mereka. Saya tahu persis bedanya kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan saya sampai saat ini sudah terpenuhi. Contohnya menjadi solo traveler”
“Jadi menjadi solo traveler merupakan kebutuhan kamu? Bukankah itu keinginan semata?”
“Ada kalanya terkadang kita kehilangan jati diri ketika sedang berduka dan kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup kita. Yang saya percaya salah satu cara menemukan jati diri yang hilang adalah melihat keluar jendela kamar dan berjalan jauh. Melirik kehidupan di luar kehidupan pribadi saya. Mencari inspirasi. Dan mungkin membagi dan menuangkan cerita”
Sang pemilik hanya tersenyum menanggapi pendapat saya yang mungkin dia juga setuju dengan persepsi saya.
“Sekarang cerita itu sudah kamu tuangkan, kan, ke saya?”
Saya terkekeh melihat sedikit kepolosan pada anak laki-laki berumur 18 tahun ini.
“Belum. Tidak dengan cara berkata”. Sang pemilik berpikir dan berusaha menebak dengan mudah.
“Menulis?”
“Ya.”
“Apa kamu seorang jurnalis?”
“Bukan. Mahir menulis pun tidak. Tapi saya senang menulis cerita. Keinginan jadi penulis memang sempat tersirat tapi terpaksa diurungkan”.
“Kenapa begitu?”
“Tidak punya banyak waktu”
“Kamu punya kesibukan lain?”
“Ya. Saya pekerja kantoran”
“Sepertinya masih ada alasan lain yang lebih tepat. Ada?”
Sadar akan topik yang acak, saya terdiam dan bingung mengutarakannya.
“Kamu pernah tidak, diluar kebutuhanmu, kamu ingin menjadi sesuatu?. Sesuatu yang berguna dan tidak merugikan orang lain layaknya pejabat pemerintah”
“Dalam hati kecil ada”
“Menjadi penulis”, sambung saya
Sang pemilik tersenyum menanggapi jawaban saya yang sekaligus mensinyalir kesudahan pembicaraan ini.
“Oh iya.. kita sudah bercerita agak panjang hari ini. Tapi belum tahu nama satu sama lain”, tutur saya seraya menyimpulkan senyum di wajah.
“Saya Bombang”, sambil menjulurkan tangan yang tersambut kembali dengan tangan saya ..
“Nuria”
“Sudah siap?”
“Sudah”
“Mari kubantu bawa barangmu”
“Terima kasih, Bombang”
Kami menuruni anak tangga dan menuju lobby. Lobby yang saya bicarakan bukan seperti lobby hotel pada umumnya. Melainkan ruang tamu. Hanya ada 1 sofa pendek yang sedikit usang dan TV tabung berukuran mini. Dan 1 meja kecil serta 1 kursi yang diduduki oleh seorang Ibu sedikit paruh baya.
“Check out, dek?”
“Iya, Bu”
Sambil menunggu proses check out, Bombang memperkenalkan wanita paruh baya yang duduk di situ adalah Ibunya. Bombang juga sedikit bercerita bahwa dia menjalankan amanah leluhur keluarganya untuk menjaga kelestarian penginapan dan lingkungan sekitar Tanjung Bira.
“Namanya Rawallangi. Biasa dipanggil Tuo Langi oleh warga sekitar”
Sambil menjulurkan tangan saya ke sang Ibunda, Ibunya melempar senyum kepada saya sambil mengembalikan deposit saya.
“Tak usah, Bu. Anggap saja ini sebagai kontribusi saya untuk membantu keluarga Ibu melestarikan lingkungan dan penginapan ini. Siapa tahu berguna”
“Kalau begitu sebagai gantinya, kamu terima ini, ya” Bombang menyambar tangan saya dan menyelipkan gulungan kertas putih kecil layaknya undian arisan.
“Bukalah ketika di perjalanan nanti”
“Ini apa?”
“Hanya pesan kecil. Barangkali berguna”, jawabnya sambil tersenyum.
Klakson mobil tua berbunyi menghampiri lobby. Turis yang selanjutnya akan menginap di tempat yang kusinggah sudah sampai dan penumpang mobil itu berganti menjadi saya.
Mobil jemputan itu memutar balik arah dan siap mengantarku kembali ke Makassar. Sebagai isyarat perpisahan, saya melambaikan tangan ke arah Bombang dan Tuo Langi.
Lima jam perjalanan akan dilewati. Beberapa kabupaten akan dilalui menuju kota. Namun seperti ada yang tertinggal. Saya belum sempat menanyakan arti nama mereka dan asal muasalnya. Mungkin bisa saya tanyakan ke Ayah setiba di Jakarta. Dan sekelebat teringat gulungan kertas kecil yang diberikan Bombang yang belum terbuka.
“Jadilah sesuatu”
Saya tersenyum. Dan, Ya. Pesan kecil yang pasti nanti akan berguna.
***
Note : cerita ini cuma sekedar cerita yang menggabungkan unsur fiktif dan kenyataan. Saya terinspirasi membuat cerita ini karena saya memang jatuh cinta dengan Tanjung Bira. Bagaimana bisa kampung halaman Ayah saya menyembunyikan salah satu harta dunia yang indah seperti itu?
Saya juga terinspirasi dengan potongan lirik Banda Neira yang berjudul “Hujan di Mimpi” walaupun secara alur cerita diatas tidak merefleksikan lirik lagu ini. Dan Ya.. saya juga jatuh cinta dan mencintai lagu-lagu Banda Neira.
Cerita punya cerita, Bombang dan Rawallangi adalah nama-nama orang makassar. Namun ada sedikit cerita tentang nama mereka. Nanti saya ceritakan di kemudian hari ya :)
Bagi yang singgah di blog saya, monggo loh kalau mau kasih komentar.
Terima kasih para pesinggah dunia maya :)
Pelukis Langit (lirik) oleh Banda Neira
PELUKIS LANGIT oleh BANDA NEIRA
teringat akan sebuah kisah dibalik kelabu,
ketika langit tak secerah dulu,
sepekan sudah matahari dia menemuiku
mungkinkah matahari sedang sendu..huhuhuuu
penunggang bumi sang pelukis bergegas menuju,
mencari matahari namun tak temu,
melihat itu kupu-kupu memanggil sang angin,
titipkan warna pada setiap hembus.
pelukis langit lari terburu-buru, hingga dia lupa warnakuning dan biru
pelukis langit lari terburu-buru, hingga yang ada hanyakelabu
pelukis langit lari terburu-buru, hingga dia lupa warna kuning dan biru
pelukis langit lari terburu-buru, hingga yang ada hanya kelabu, hingga yang ada hanya kelabu
pelukis langit lari terburu-buru, hingga dia lupa warna kuning dan biru
pelukis langit lari terburu-buru, hingga yang ada hanya kelabu, hingga yang ada hanya kelabu, hingga yang ada hanya kelabu.
Pa para parara pa para parara, pa para parara, pa para rarara, Pa para parara pa para parara, pa para parara, pa para rarara
*maaf kalau ada salah lirik*
hujan di mimpi
sepi itu indah, membisu itu anugerah
-banda neira-
ke Entah Berantah
Dia datang saat hujan reda Semerbak merekah namun sederhana Dia bertingkah tiada bercela Siapa kuasa
Dia menunggu hingga ku jatuh Terbawa suasana Dia menghibur saat ku rapuh Siapa kuasa
Dan kawan Bawaku tersesat ke entah berantah Tersaru antara nikmat atau lara Berpeganglah erat, bersiap terhempas Ke tanda tanya
Dia bagai suara hangat senja Senandung tanpa kata Dia mengaburkan gelap rindu Siapa kuasa
Dan kawan Bawaku tersesat ke entah berantah Tersaru antara nikmat atau lara Berpeganglah erat, bersiap terhempas Ke tanda tanya
-Salah satu hal yang segera akan dilaksanakan. 'Trio Kos Ceria' mendaki.