Do You Have Any Dreams?
A bitter truth.
Jujur, saya baru saja melewati fase quarter life crisis di usia ke-27. Apakah begitu terlambat? Haha.
Bagi saya, waktu seakan berhenti berputar sejak saya lulus kuliah, bekerja singkat sebagai guru paruh waktu, dan berorganisasi kampus meski sudah lulus saat itu. Ya, waktu saya berhenti hanya sampai saat itu.
Hal-hal yang saya sukai berupa musik, buku, bahkan lingkar pertemanan, tidak bertambah signifikan sejak saat itu. Atau menjadi dewasa memang selalu seperti ini?
Saya seakan membuat batasan zona nyaman di dalam rumah, bersama suami dan anak-anak. Padahal, zona nyaman itu sangat bisa diperluas. Hanya saja, entah bagaimana, saya memenjara diri dan pikiran saya sendiri.
Butuh waktu setelah lima tahun pernikahan, untuk menyadari bahwa keputusan yang saya ambil ini tidak sehat bagi mental saya. Saya bukan orang yang suka berdiam diri tanpa target dan tenggat. Namun di sisi lain, saya juga menyadari betapa banyak cela saya sebagai istri dan ibu, penuh ketidaksempurnaan.
Akhirnya, saya menyampaikan segala isi kepala dan hati ini kepada suami. Berkali-kali, mulai dari dialog biasa sampai drama penuh airmata. Kami bicara dari hati ke hati. Dan untuk kali pertama, saya berani menyampaikan bahwa saya juga memiliki mimpi sebagai diri saya sendiri, dan saya ingin mengejar hal itu.
Suami saya saat itu agaknya tertegun. Ia kemudian meminta maaf karena selama ini ia tidak menyadari "kebutuhan" saya yang satu ini. Ya, tentu saya butuh diakomodasi media belajar dan berkarya. Suami akhirnya memberikan saya laptop lamanya, membayarkan aplikasi premium berbayar, mengizinkan saya mengikuti kelas tahsin, dan baru-baru ini bahkan membelikan ponsel impian saya. Saya tidak menyangka, dia tidak sekadar berkata untuk mencoba memahami. Dia mengupayakan segala hal, lebih dari apa yang saya bayangkan.
Kini, tinggal saya dan diri saya. Maukah saya benar-benar meraih mimpi-mimpi itu? Atau justru kembali bersembunyi di balik alasan peran istri dan ibu?
Sudah sejak lama, seharusnya saya menyadari bahwa saya harusnya bisa lebih dari ini. Namun mungkin inilah cara-Nya memberi jeda, agar saya lebih menghargai waktu dan mengenal diri lebih dalam terlebih dahulu.
Seorang ibu boleh tetap mengejar mimpi-mimpinya, sebab dia adalah dirinya sendiri sebelum menjadi istri dan ibu.
Mari bertumbuh, memupuk kembali mimpi-mimpi yang kamu kira tak lagi ada.
Mari menjadi diri sendiri, mengenal dan mencintai diri, agar kamu pun dapat menerima peluang cinta lebih banyak dari orang-orang di sekitarmu.
_____
Salam,
Dilla









