Catatan Satu April: Awal Keputusan
Well, postingan pertama mengenai catatan satu april ialah bagaimana cara kami bertemu, menjadi dekat, dan kemudian memutuskan untuk menikah. Ehehe. Sekali lagi postingan ini ditulis dalam rangka untuk mengingatkanku betapa kami berdua pernah menjalaninya. Manusia itu sumbernya lupa, apalagi ingatan maupun kenangan. Jadi, rasanya aku memang butuh untuk menuliskan catatan satu april ini :)
Sejujurnya, aku tak ingat kapan pertama kali bertemu *dulu kamu ga sespesial itu mas :p haha*. Pastinya sih tahun 2014, sejak aku mulai masuk kantor di Dompet Dhuafa. Aku sempat diajak berkeliling oleh HRD dan diperkenalkan, yaa saking banyaknya jadi pasti tak hapal kan?
Lalu aku bertanya padanya “Mas, kapan pertama kita ketemu?” Dia bilang mungkin saat aku ditempatkan di divisi Ekonomi, divisi magangku yang pertama. Tepatnya di C28-29 lantai 3, ia pertama kali melihatku sebagai anak baru. Dan sejak saat itu masih semua biasa saja, jarang sekali pekerjaan kami bersinggungan. Saat itu, kami masih dengan dimensi masing-masing, tanpa beririsan.
Entah sejak kapan, aku jadi mengenalnya sebagai temannya temanku di kantor HAHAHAHA. Kadang sepulang kerja, rutinitas membuat gerah dan akhirnya muncullah grup main. Entah sekedar makan, ngopi, ataupun karaokean. Sejak di sana mulai saling ajak satu sama lain, dan mas Adi diajak oleh yang lain. Itu juga tak begitu intens, hanya sesekali saja jika sudah gajian hahaha.
Kadang, event-event besar kantor turut melibatkanku dengan dalih “anak MT” dan disanalah biasanya anak-anak muda lain yang menjadi panitia bertemu, dan aku semakin mengenal dirinya. Kata orang-orang, ia baik dan memang begitu adanya. Bahkan ada yang menjulukinya “smiley face”, karena ia hampir selalu terlihat tersenyum dan jarang sekali terlihat marah atau kesal.
Saat itu, kami mulai beririsan sedikit...........dalam bidang pekerjaan tentunya. Bidang lain? Bidang perasaan? Bidang hati? Hahaha tidak, karena kami masih sibuk dengan perasaan dan pasangan masing-masing. Pasangan? Well, aku single sih saat itu, dia yang sudah punya pacar eheh~ tenang, Dinna anaknya bukan hello kitty kok bukan valakor juga, kan sukanya sama minnie mouse :p #ifyouknowwhatimean
Jika ada yang bertanya nama pacarnya saat itu, rumahnya, berapa lama mereka bersama, mungkin aku tahu jawabannya. Yap, selain terkadang main, kadang kami juga mengadakan sesi curhat. Pun aku tahu bagaimana cerita teman-teman lainnya, dan teman-teman lain termasuk mas Adi tahu juga bagaimana kisah cintaku #tsah. Kami masih sibuk dengan urusan masing-masing.
Aku lupa tepatnya kapan tapi sepertinya bulan Juni, ia bilang kepada kami bahwa hubungannya berakhir. Tentu sebabnya you-dont-really-need-to-know wkwkwk. Intinya adalah kesedihan yang cukup mendalam dan sebagai teman aku menyupport-nya. Pun dengan reaksinya yang memilih untuk tetap berjuang mempertahankan hubungannya.
Aku dan beberapa teman sempat pergi jalan-jalan ke suatu tempat, mungkin inilah awal mula kami berdua menjadi semakin dekat. Tapi aku masih biasa saja dan mencoba menepis gurauan orang-orang yang meledek kami. Toh, sampai saat terakhir dia bercerita, dia masih menyatakan akan tetap berjuang mempertahankan hubungannya yang dahulu.
Tapi sejak mendekati akhir bulan, aku merasakan sikapnya sedikit berubah. Jika dia baik, maka dia berubah menjadi sangat sangat baik berkali kali lipat. Pun sampai saat itu, aku masih mencoba bersikap sewajarnya, meskipun kadang kaget juga dengan perubahan sikapnya. Tak lama kemudian, aku mempertanyakannya?
Agustus is my month! Awal bulan sempat dibuat kaget dengan pernyataan mas Adi yang mengajak menikah. What?!! Kaget banget sih, dan juga memang posisi aku takut. Apa ini beneran? Apa ini bukan cuma pelariannya dia? Apa aku yakin kalau jawab iya? Hemmm.....jawabnya sih cukup diplomatis (tapi menjurus haha), silahkan ke rumah, ketemu ayah dan keluarga, kemudian bilang sama mereka.
Well, sejak aku memutuskan untuk single kadang yaa ada saja yang dekat. Jika ada yang bilang suka, aku bisa saja hanya bilang terima kasih atas perasaannya (kalau akunya biasa aja sih :p) atau aku bilang silahkan ke rumah dan bilang pada keluargaku. Nyatanya, belum ada yang seserius itu dan aku juga belum sesiap itu hehe. Aku anak satu-satunya dan perempuan, keluarga pasti sangat sangat sangat berperan dalam hidupku. Jadi sebelum aku mengiyakan, memang lebih baik Ayah dan Mama tahu lebih dulu.
He did it! Sekitar 1-2 minggu setelah mengutarakan niatnya padaku, Mas Adi datang ke rumah. Sendirian. Eh, bareng sama buah sih yang dia bawa hehe. Tentunya aku sudah bilang pada Ayah dan Mama bahwa ada yang mau main ke rumah, jadi Mama sudah heboh menyiapkan makanan. Duh buibu yaa~ Intinya adalah Ayah dan keluarga menerima segala niat baik, pun mengatakan bahwa sebaiknya secepatnya dilaksanakan dan Mas Adi mengatakan untuk kurang dari satu tahun. Aku-nya masih syok aja, banyakan diemnya :”
Ya, tak banyak yang dibicarakan, selebihnya hanyalah obrolan-obrolan ringan biasa dan Mas Adi pulang. Segampang itu, sesederhana itu, semudah itu, dan selancar itu. Hehe.
Agustus never failed me~ :D
Ps: Postingan ini sudah berdasarkan izin mas suami, bahkan doi bilang katanya kurang detail. Hemmm....cukuplah kami berdua yang mengingat detailnya, toh tulisan catatan satu april ini hanyalah gambaran besar sebagai trigger agar kami tak lupa pernah menjalaninya, enjoy! :)