Madura dan Surabaya: Trip Pelarian ala Sohib Baper
Sohib Baper Edisi Karjaw, itulah nama grup whatsapp yang berisi aku, Athifa, Boy, Delly, dan Tania. Kita berlima sudah mendaftarkan diri untik ngetrip bareng ke Karjaw. Berhubung terakhir kumpul lengkap itu Agustus tahun lalu, pokoknya kami harus ngetrip bareng lagi. Dan Alhamdulillah berlima sudah berencana ke Karjaw, sudah merencanakan berenang lucu bareng anak hiu, sudah merencanakan untuk ganti foto grup whatsapp dengan foto berlima yang terbaru. Tapi, tahukah pepatah "Rencana hanyalah rencana, takdir yang menentukan."
Takdir itu bermulai bukan gara-gara negara api menyerang, tetapi karena jadwal sibuknya Boy yang bikin dia batal ke Karjaw, hiks. Meskipun sebel, kami berempat tetap berencana ke Karjaw. Rencananya trip BPJ Karjaw akan berlangsung tanggal 31 maret sampai 3 april. Dan sekali lagi rencana cuma rencana~ TRIP KARJAW BATAL SEMINGGU SEBELUM KEBERANGKATAN! Elah, kezel sebel jengkel! Alasannya karena selama satu bulan ke depan kapal akan docking alias perbaikan alias ga berlayar. Hello?
Perdebatan cukup panjang di grup. Bahkan sempat ada alternatif pergi ke pulau....pengganti karjaw. Sampai akhirnya diputuskan Karjaw diundur sampai libur panjang awal Mei dan ada trip pengganti ke Ujung Kulon. Well, aku dan Tania memutuskan membatalkan Karjaw karena agenda lain di Mei. Thifa memundurkan jadwal. Delly mengganti dengan trip ke UK. Kesel ga sih? Banget! Buat apa udah dari lama ganti nama grup, persiapan ke Karjaw kalo ujungnya batal juga, hiks~
Cuti sudah terlanjur diambil hari Kamis dan Senin. Berpikir berpikir berpikiiiiiiir kemana akan digunakan libur tersebut, sayang banget kalau hanya di rumah saja. Dan setelah pertimbangan panjang beberapa tempat akhirnya terpilihlah Surabaya dan Madura. Bismillah, Aku Tania Thifa melipir ke Gili Labak~ Segera saja malam itu kami bertiga langsung membeli tiket kereta PP berangkat rabu malam dan pulang minggu malam.
Esoknya hari kami sibuk diisi dengan itin perjalanan dan persiapan. Kami membuat grup baru yang diisi bertiga karena Boy dan Delly kasihan kalau berisik karena perjalanan kami. Kami memakai jasa Open Trip untuk menuju Gili Labak, maklum tak ada yang bisa menemani kami di Surabaya sana. Mas Adit yang kuminta menemani malah akan ke Slamet. Menurut kami bertiga, OT ini cukup murah karena kami mendapat akomodasi PP dijemput di Surabaya dan mendapat makan full serta penginapan. Kami juga bertanya sana-sini untuk kelancaran perjalanan. Here we go!
Kami janjian di stasiun pasar senen sekitar jam 8 malam. Excited? Banget! Secara ini perjalanan termendadak kami dan hanya bertiga, perempuan semua ala ala backpacker dengan prinsip semurah mungkin hahaha. Berangkatlah malam itu kami ke Surabaya!
Kami sampai di Surabaya sekitar jam 10 pagi. Langsung saja kami mencari makan di dekat stasiun. Rasanya sih so-so banget tapi cukuplah buat kami yang kelaparan. Setelah itu kami memesan Uber untuk menuju rumah Mas Adit. FYI, Mas Adit yang pak RT Pecel Lele ini menawarkan rumahnya untuk kami tinggali selama di Sby. Padahal Mas Adit sendiri pergi ke Gunung Slamet hahaha. Kami sampai dirumahnya sekitar jam 12 siang dan disambut olehnya yang sengaja pulang sebentar dari kantor. Kangeeeeen sama mas Adit, sudah seperti mas sendiri. Kalau ga inget bukan muhrim, kalau ga inget nanti ditabok mbak Tita, mungkin sudah kupeluk saking kangennya. Eh canda loh ini candaaaaa hahaha.
Rumah ini entah rumah dinas orangtuanya yang diisi mas adit dan temannya. Setelah mas adit kembali ke kantor, segera kami menjelajah kamar, mandi, dan........tidur siang. Angan-angan untuk menjelajah Sby sore hari sirnalah sudah hahaha. Saat kami bangun sore, mas adit sudah kembali ke rumah dan bersiap-siap untuk pergi ke Slamet. Kami dibawakan lontong balap karena ia mendengar Thifa yang ingin makan itu. See you mas Adit! Kunci rumahnya kami pegang sampai hari minggu nanti, yeay!
Malam harinya, aku ada agenda bertemu dengan KITA JATIM di sebuah cafe. Akhirnya kami bertiga ke cafe tersebut. Well, cafenya lucu! Masa kalau pesan minuman panas, alat pengaduknya ialah cokelat berbentuk sendok dan akan meleleh dengan sendiri, uwuwuwuw. Sementara tania dan thifa sibuk makan dan berfoto. Aku mengobrol dengan anak-anak Kita Jatim. Ada Norma, Emak, Fahrizal, dan lainnya (Fotonya entah kemana hiks). Well, mereka asik! Kami mengobrol sampai sekitar jam 9 karena kami harus bersiap-siap menuju Gili Labak malam ini.
Kami hanya membawa barang-barang yang kami perlukan, sisanya kami tinggal di rumah Mas Adit yang sementara menjadi rumah kami. Sekitar jam 11 malam, kami benar-benar dijemput di depan rumah. Asyik bukan OT-nya? Hahaha iyes buat kami yang buta akan Sby. Mas Umbel adalah orang yang menjemput kami, anaknya asik dan rame haha. Ternyata ada tiga orang lagi yang akan bareng mobil kami, namanya Mbak Lara, Mbak Dini, dan Dek Tarina. Nice to know ya!
OT ke Gili Labak ternyata menggunakan elf, dan hanya kami berenamenggunakan mobil avanza. Wew, berasa lagi private trip hahaha. Perjalanan panjang menuju Gili Labak aku isi dengan tertidur, sejak jam 12 malam sampai sekitar jam setengah 5 pagi sudah sampai di pelabuhan. Well, segera aku isi dengan shalat subuh dan bersiap-siap menyebrang. Kami berkenalan dengan mbak Mawar (beneran lupa namanya) yang ke Gili Labak untuk melupakan kesedihannya diputusin pacar, sad. Mba Mawar ini senang sekali berfoto hahaha tapi dia palsuuuu bilangnya mau ikut aku tania thifa keliling Madura tapi ternyata ga jadi~
Perjalanan menuju Gili Labak tak membutuhkan waktu banyak, sekitar 2 jam kurang. Sarapaaaaaaaan! Sarapannya juga so-so banget, tapi demi perut sudah terisi saat snorkling jadi ya enak-enak aja. Lautnya bagus, dan cukup bersih! Saung-saung pinggir pantai banyak. Pasirnya pun putih hahaha BAHAGIA! Spot snorkling sesungguhnya tak jauh dari pinggir pantai, bahkan tak perlu kapal kalau mau berenang dari pinggir juga bisa. Ikannya rameeeeeeeeeeee, cuma karangnya memang tak terlalu bagus. Aku sendiri meminjam alat snorkling teman jadi tak perlu khawatir jijik dengan alat pinjaman trip ini. Snorkling ini memakan waktu sampai satu setengah jam.
Biasanya yang opentrip 1 hari akan langsung keliling pulau lagi. Aku dan yang lain memilih untuk mandi dulu, well biar mandinya puas harus pakai air tawar yang harga 1 galonnya 10ribu. Waks! Its okay guys, karena air tawar ini dibawa pake perahu katanya. Gausah bilang mahal please! Minum kopi segelas puluhan ribu aja bisa~ hahaha. Well, kami numpang di rumah salah satu warga yang diisi 6 orang. Asik sih cuma ga ada kipas angin aja. Akhirnya sore hari setelah mandi aku ketiduran di papan kayu depan rumah sambil dibelai angin pantai. Duh, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?
Menjelang sore hari. Aku, Tania, dan Thifa berkeliling pulau. Huaaaah pulaunya kecil banget. Berasa pulau pribadi! Fyi, spot sunset itu berada di pulau bagian depan yang banyak warungnya. Sebenarnya tak butuh waktu banyak untuk mengelilingi pulau Gili Labak, paling cuma setengah jam - 1 jam. Tapi yaaaaa kebanyakan foto sih kalau kita~ hahahaha. Buat kalian yang mencari ketenangan. Pas banget kalau pilih pulau ini. Sssttt, asal ada yang nemenin aja ya, biar ga keliatan jomblo banget hahaha. #DinnaAnaknyaGaBisaNgetripSendirian sekian.
Menjelang malam hari, kami kongkow di warung yang ditunjuk mas Umbel. Warung inilah yang bertanggung jawab atas makan kami selama di Pulau haha. Makan malamnya ialah ikan bakar, yeay! Sederhana tapi enaaaaaak banget. Oiya, es batu juga kadang jadi barang langka di pulau ini, so belilah selagi masih tersedia stoknya. Nikmat banget minum es di tepi pantai syalalala~ tapi yaaa penerangan di pulau ini memang agak kurang. Hanya sebagian yang berlampu karena ada penduduknya. Bagian belakang pulau lebih banyak semak dan pepohonan, jangan lupa bawa senter ya guys! Sehabis makan, kami segera saja menuju rumah karena lelah. Setelah siap mengatur pisisi tidur, kami segera terlelap. Anyway, kami tidur dengan posisi pintu terbuka karena gerah banget ga ada angin huhu tapi dont worry, aman kok insyaAllah :)
Bangun pagiiiiiiiiiiiii keluar rumah langsung kehidup udara pantai, yeay! Tidurnya kepanasan sih tapi gapapa, worth it kok masih untung rumahnya enak hahaha. Rencana pagi ini? Berburu sunrise di balik pulau. Kyaaaaaaaaaaaaaaa lautnya luas, pantainya sepi, cahaya jingga matahari mulai terlihat perlahan, daaan di tengah laut ada nelayan yang menaiki perahu kecilnya. Instagramable banget! Hahahak alias bagus bangeeet pemandangannya. You need this kind of vitamin sea! Not much people, or pollution and hiruk pikuk perkotaan. Ugh!
Next step? Tentu sajaaaa snorkling lagi hahaha. Berhubung kali ini kita ga ada kapal jadi kita mulai snorkling langsung dari pinggir pantai. Duh pantainya jernih banget dan ga sampe 5 menit sudah sampai di karang-karang yang cukup baguuuus, ikannya juga banyaak. Cuma yaa memang kurang berwarna-warni. Well, ga mengurangi kesenangan sedikitpun! Hahaha. Bahagiaaaaaaa banget berasa laut milik sendiri karena memang ga banyak yang nginap di pulau Gili Labak ini, mostly cuma trip sehari gitu. Oiya. Karangnya memang pendek, please usahain badan terus mengapung biar badan/kaki kalian ga kena karang. Ga mau dong luka atau karangnya rusak? Ya kan? :)
Note: Foto di atas bukan pura-pura bahagia, tapi BAHAGIA BANGET! Hahahaha.
Puas snorkling kami langsung mandi dan makan. Duh, makan tinggal minta itu rasanya enak banget hahaha. Kami kembali memutuskan untuk keliling pulau terakhir kalinya sebelum pulang. Aaaaaaaak pokoknya happy banget lah, pulaunya masih sepi karena orang-orang yang datang biasanya langsung berenang. Aku rekomen banget kalian harus nginap di pulau Gili Labak ini! Well, kami pulang siang itu bersama dengan penyelenggara trip yang sama tapi orang-orang uang berbeda lalala~ kami sampai di pelabuhan Madira sekitar siang menjelang sore dan langsung naik elf menuju ke kota Surabaya. Kebetulan kak Lara dan adiknya menumpang semalam di rumah Mas Adit (padahal aku juga numpang tapi sok-sok nawarin tumpangan hahaha maap yaaa mas Adit). Kami yang lelah malam itu hanya sanggup untuk mandi dan memesan mcd via gojek. Helpful! Oke segera istirahat untuk esok hari yang lebih baik!
Pagi ini kak Lara dan adiknya pamitan pulang. Kami juga berkemas karena rencananya akan pergi seharian dan langsung ke stasiun. Setelah membereskan rumah, kami pergi dengan mobil sewaan sekitar jam 8 pagi! Kali ini trip mewah, iyalah cuma bertiga tapi sewa mobil wkwk. Destinasi pertama kami adalah Bukit Jaddih di Madura, berbekal gps sekitar jam 9 kami sampai di sana. Jangan lupaaaaaaaaaa bawa topi, masker, payung, minum, dan sunblock. Meskipun masih jam 9 pagi tapi debu dan sinar mataharinya luar biasa. Tak ada pohon di Bukit Jaddih, karena ini adalah bukit yang digali untuk keperluan bahan bangunan.
Well, sampai di sana, mata kita akan dimanjakan dengan ukiran-ukiran berundak hasil pemahatan dinding bukit. Warnanya yang putih gading tambah cantik ditimpa dengan sinar matahari. Aaaaak segera saja kami bertiga mengambil posisi masing-masing untuk berfoto. Foto yang tak akan ada puasnya, sebab setiap sudut bukit terlihat cantik dan instagramable hahaha. Kalian akan terus berjalan kaki sebab mobil akan susah nanjak ke atas. Kecuali kalian boncengan naik motor sama pacar kalian dan harus berpegangan erat karena jalan yang cukup menanjak. Elah. Kita bertiga kan jomblo, gausah ngarep jadi ya cukup berjalan kaki saja~
Kalau kita semakin naik, maka kita akan menjumpai bukit yang cukup hijau, yeay! Tapi tetap susah untuk menjumpai pohon rindang huhu siap-siap kepanasan. Pemandangannya kereeeeen, kita bisa melihat hamparan bukit Jaddih dan aktivitasnya secara keseluruhan plus bukit-bukit kecil hijau rumput macam bukit teletubbies. Tapi inget, lama-lama kalian di sini bakal gosong hahaha. Kami hanya sekitar sampai jam 11 kemudian menuju ke destinasi selanjutnya.
Berbekal GPS, kami mencoba mencari bukit Arosbaya dan...........nyasar hahaha. Better cari info ke penduduk lokasl sih. Letak Arosbaya ini lebih terpencil dibandingkan dengan Jaddih. Bawa mobilpun harus hati-hati karena jalanan yang cukup sempit masuk ke jalan-jalan desa.
Arosbaya kontras dengan Jaddih, Arosbaya lebih kecoklatan sedangkan Jaddih dominan berwarna putih. Jika Jaddih adalah bukit yang ditambang sehingga sebagian besar bukit hilang, maka Arosbaya seperti tanah yang ditambang sehingga terlihat seperti menyusuri goa besar. Kadang masih terlihat beberapa penambang di berbagai spot Arosbaya. Sayangnya, banyak tulisan vandalism di sini. HALOOOOOOOO PLEASE KEINDAHAN ALAM ITU DIJAGA YA! Alam aja dirusak, apalagi kehidupan rumah tangga nanti, pft.
Sedihnya pergi cuma bertiga adalah tidak ada yang fotoin kami huhu, jadi cuma bisa selfie kalau mau foto bertiga. Untung Thifa membawa SLR-nya, jadi banyaaaak foto-foto bagus haha. Cuaca yang terik dan perut yang lapar membuat kami tak lama-lama di Arosbaya, dan tempat juga memang lebih kecil dibandingkan dengan Jaddih. Akhirnya kami ke destinasi selanjutnya yaitu Bebek yang katanya enak banget dan khas Madura.
Daaaaaaan kami kesiangan, bebeknya sudah habis. Terpaksa kami mencari tempat lain dan nemu, yaudahlahyaaa daripada kelaperan? Hahaha. Aku memesan bebek songkem, sejenis bebek yang diungkep pakai daun gitu. Sebenarnya enak, cuma yaa aku yang ga suka lembek-lembek (karena diungkep bukan digoreng) jadi aku akan prefer ke bebek goring kalau makan lagi. Kapok! Hahaha. Tapi worth to try kok gaes :D *tapi lupa foto bebeknya haha*
Serius, kami bingung mau kemana lagi setelah makan. Gili Labak, Jaddih, Arosbaya sudah semua diceklis. Sesungguhnya mau eksplore lebih jauh tapi jarak tempuh di Madura tak memungkinkan. Akhirnya kami kembali ke Surabaya. Kemana? Pertama-tama kami diajak ke taman bermain Kenjeran Park di dekat jembatan Suramadu. Kami hanya melihat patung Buddha yang besar, berkeliling di taman sebentar dan kembali melakukan perjalanan. Well, random banget ya? Kami juga ga nyangka akan se-random ini hahaha.
Akhirnya kami menuju ke arah kota lebih tepatnya menuju ke Masjid Muhammad Cheng Hoo untuk menunaikan shalat. Masjid Muhammad Cheng Hoo ini berada di tengan komplek perumahan. Masjidnya cukup kecil seperti tempat ibadah yang diubah menjadi masjid. Selain itu ada sekolah dan lapangan basket disebelahnya. Suasananya cukup asri dan seperti senang melihat percampuran kedua Agama dalam satu kesatuan.
Masih sore gaes! Hahaha. Akhirnya kami mampir sebentar di pinggir jalan untuk melihat Hotel Majapahit tempat perjuangan di Surabaya. Hotel ini awalnya bernama Hotel Yamato, tempat bendera Belanda disobek sehingga menjadi bendera Indonesia. Sejarahnya? Google it! Aku kan mau cerita soal perjalanan, bukan cerita sejarah hahaha. Daaaaaaaaaan ternyata masih sore. Baiklah dengan saran abang driver, kami akhirnya terjebak di sebuah cafĆ© es krim Zangrandi yang terkenal di Surabaya. Harganya cukup merogoh kantong cukup dalamā¦ā¦.hanya demi segelas es sus krim dan numpang duduk doang hahahaha.
Sekitar jam 5 sore, kami bertiga memutuskan keluar cafĆ© danā¦ā¦kembali mencari kesibukan lain. Setelah agak sedikit bingung akhirnya memutuskan ke taman Bungkul. Beneran ga jelas kami ke Bungkul ngapain. Foto-foto, ya sudah pasti. Lalu? Ngobrol-ngobrol ga jelas di tengah taman, perhatiin bocah-bocah main, dan akhirnya memutuskan ke stasiun saja HAHAHAHA. Kami sampai di stasiun sekitar jam 7 malam. Kereta belum datang dan membeli popmie dulu, maklum kami sudah bokek gegara trip ini hahaha. Akhirnya kami kembali ke Jakarta malam itu dengan hati yang bahagia (dan dompet atau tabungan yang ludes). Sekian.
Salam sayang dari Kami Bertiga #BarisanSakitHatiKarjaw hahaha :p