Ayu sudah tak pernah lagi keluar kamar. Di hari pertama istirahatnya, 3 tonjolan di dada kanan Ayu hanya sebesar biji kacang hijau. Kini, tonjolan itu sudah sebesar biji zaitun. Warnanya pun persis seperti biji zaitun: coklat tua menghijau, dengan satu bintik kuning di puncaknya.
Ayu bergidig setiap berkaca. Kamu tahu hatinya patah. Ia ingin sekali mencabut 3 tonjolan sialan yang bersarang di dadanya, tapi ia takut: takut sakit, takut itu tak mengubah apa-apa, takut itu menjadi tambah banyak dan memenuhi tubuhnya. Jadi, Ayu hanya diam, meringkuk di sudut kamar indekostnya yang lama tak disapa sinar matahari.
Ayu mematikan telepon genggam dan saluran internetnya yang biasa menyala 24 jam. Ia tak mau bertemu siapa-siapa, tak menyalakan lampu dan makan makanan kaleng yang menguras 3 lembar berwarna merah mudaâuang terakhir yang ia milikiâdi dompetnya.
Mata Ayu yang berkantung dan memerah menelusuri kamar indekostnya. Ia melihat tempat tidur, yang suka berdecit saat ia dan Adnan naik ke atasnya. âAdnan..â Ayu menyebut nama itu lagi, lirih, hampir tidak terdengar. Ini kali ketiga untuk hari ini dan kamu diam-diam menghitungnya.
Kamu ingat lelaki itu. Adnan. Pemain bola bermata coklat teduh itu sering sekali membuat kamu iri dengan mengusap rambut Ayu yang panjang. Seminggu sekali, Adnan menginap di kamar ini dan kamu selalu ingin pergi saat Adnan datang. Kamu terluka karena Adnan adalah semua yang kamu inginkan. Kamu terluka karena mungkin Adnanlah yang menjadikan kamu tak bisa berjodoh dengan Ayu.
Ayu tiba-tiba mengalihkan matanya padamu. Kamu terkejut dan berbalik. Kamu takut Ayu tahu kamu sedang memperhatikannya.
âApa kau ini, daging sialan? Kenapa merusak tubuhku?? Huhu.. Huhuhu..â Ayu menangis tersedu. Ia menelungkupkan tangannya di wajah, sedang kamu merasa lega karena Ayu tidak lagi melihat ke arahmu.
Kamu tahu, Ayu ingin melakukan semua yang tidak dilakukan perempuan dalam sajak Sapardi Djoko: menjerit-jerit, berteriak mengamuk, memecahkan jendela dan membakar tempat tidur. Terlebih, Ayu ingin melempar kursi dan memecahkan cermin, agar ia tak perlu melihat tonjolan itu lagi. Tetapi Ayu tidak. Ayu tidak melakukannya.
Kamu tahu, Ayu ketakutan, lebih dari rasa takut kamu jika Ayu menyadari kamu memperhatikannya. Ayu takut seseorang sadar, ia ada di dalam. Ayu takut seseorang tiba-tiba mengetuk pintu keras-keras. Ayu takut ia tak punya keberanian untuk membuka pintu, lalu orang itu bersikeras: mendobrak pintu indekostnya, menemukan Ayu dengan tonjolan sialan di dadanya.
Kamu sangat mengagumi kedua kaki Ayu. Di luar sana, banyak perempuan yang mati-matian mengolah tubuh untuk mendapatkan tight gap, tapi Ayu seolah terlahir untuk berkaki seindah itu. Kamu mendengus kesal. Kini kaki yang biasanya dibiarkan terbuka, dioleskan lotion dan dihiasi sepatu-sepatu bertumit tinggi itu bersembunyi di balik selimut tebal yang nampak lusuh. Meski warnanya sudah lusuh karena lama tak dicuci dan kena tumpahan itu dan ini, kamu ingat selimut tebal itu: kamu selalu membayangkan bisa menelusup di bawahnya dan menemukan Ayu yang tersenyum manis padamu. Sekarang, bayangan itu makin tidak mungkin. Sangat, sangat jauh dari mungkin.
Kamu semakin berpikir soal Ayu yang tidak bisa berjodoh denganmu. Ah tapi kemudian kamu menggelengkan kepalamu. Kondisi Ayu yang seharusnya membaik mesti jadi fokus ketimbang memikirkan kamu yang mestinya berjodoh dengan Ayu.
Kaleng-kaleng kosong menumpuk di pojok kamar Ayu. Kamu melihat Ayu menggenggam kaleng terakhir. Kamu melihat Ayu membuka kaleng itu, menyuapkan beberapa sendok ke mulutnya. Kamu melihat bibir Ayu pecah-pecah, lidahnya memutih dan bergetar. Kunyahan yang pelan, pelan sekali. Kamu tak tega. Kamu meneguk air, meneguk dan terus meneguk, tapi haus terus-terusan tertinggal di tenggorokanmu.
Ayu, yang sedang menyuapkan isi kaleng terakhirnya tiba-tiba berhenti. Tangan kanannya meletakan sendok dan meraba dadanya. Ia memejamkan mata dan kamu tahu, di otak Ayu, ada harapan bahwa tonjolan-tonjolan itu menghilang.
Pranngggg! Ayu melempar kaleng di tangan kirinya. Tiga-empat potong ikan di dalamnya ikut jatuh berserakan. Tentu saja 3 tonjolan itu masih di sana dan membesar, semakin membesar.
Kamu sama frustasinya dengan Ayu. Kamu ingin memeluknya dan mengatakan tidak apa-apa. Kamu ingin membisikan pada Ayu untuk menikmati hidupnya yang tersisa. Tapi tentu saja, kamu tidak bisa.
Hampir sebulan Ayu mengurung diri, dan tentu saja banyak orang, silih berganti mengetuk pintu kamar Ayu. Respon Ayu tentu saja panik, dan kamu tentu saja sama paniknya. Kamu bahkan masih merasakan rasa panik itu sampai sekarang.
Begitu pintu diketuk, Ayu buru-buru meringkuk, masuk ke lemari. Di bawah gaun-gaun cantik itu, pada celah pintu yang sedikit terbuka, kamu melihat Ayu menangis, tanpa suara. Saat ketukan itu menghilang dan langkah kaki terdengar menjauh, barulah Ayu merangkak keluar dengan mata sembab yang berkantung, di balik rambut panjangnya yang sudah lama tak disentuh sisir.
Adnan juga mengetuk pintu kamar Ayu. Tidak terhitung sudah berapa kali. Yang terakhir... Ah. Bukan mengetuk, malah menggedor. Suara tangan Adnan yang terkepal, kamu bisa merasakan tulang-tulang itu beradu dengan pintu kamar. Teriakan Adnan di luar membuat Ayu tersayat. Kamu melihat Ayu meringkuk di kasur, menutup telinganya, padahal kamu tahu Ayu sudah kangen setengah mati mendengar suara itu.
Kamu merasakan nyeri menjalar ke dadamu, apalagi setelah kamu mendengar suara ketukanâah gedoranâitu melemah, dan Adnan mulai lirih mengungkapkan betapa dia membutuhkan Ayu. Saat Adnan sepertinya menyerah dan benar-benar mengira Ayu tidak ada di dalam, barulah Ayu merangkak ke arah pintu dan menangis sambil menutup mukanya.
Lamunan kamu soal ketukan-ketukan itu buyar saat Ayu nampak mengencangkan pegangannya pada tonjolan-tonjolan itu. Di wajah Ayu yang cekung, kamu bisa melihat rasa sakit. Kamu melihat tangan Ayu bergetar, tapi pegangan itu semakin mengencang. Kamu sadar, Ayu sedang melawan ketakutan dalam dirinya. Kamu sadar, Ayu akan mencabut tonjolan-tonjolan itu.
Bagaimana jika tonjolan-tonjolan itu malah mengganas? Bagaimana jika Ayu mati? Atau bagaimana jika Ayu sembuh dan kembali pada Adnan? Lalu bagaimana jika memang, selamanya, kamu tak bisa berjodoh dengan Ayu? Kamu mendadak mual dan semua menjadi gelap.
Kamu terbangun saat sinar matahari masuk dari jendela. Kamar ini terang-benderang, dan kamu kelimpungan mencari sosok Ayu. Semuanya nampak begitu berbeda, namun juga begitu familiar.
Pintu dibuka. Bu Surti, perempuan pemilik indekost ini masuk, diikuti seorang perempuan dengan sepatu tumit tinggi dan rok mini. Kamu terhenyak melihat tight gap itu, kamu terhenyak melihat rambut panjang itu.
âNak Ayu, ini kamarnya,â
âBagus, Bu,â Perempuan berambut panjang itu tersenyum. Lesung pipinya muncul.Â
Kamu tercekat  saat ia melangkahkan kaki jenjangnya ke arah tempat tidur, matanya tertuju pada kamu, serta tangannya menggapai ke arah dinding-dinding kaca yang melingkupi kamu. Kamu panik karena ini pertama kalinya Ayu mendekatkan wajahnya pada kamu. Bulu mata yang mengerjap dengan lentik itu, bibir yang dipulas kemerahan yang ranum itu. Kamu belum selesai tercekat karena Ayu kembali cantik dan baik-baik saja, tapi kamu sudah mesti dikagetkan lagi dengan kata-kata yang meluncur dari Ayu: âIni ikan mas koki siapa, Bu?â
Ah! Kini kamu tersadar, bahwa kamu memang hanya ikan. Jadi betul prasangka-prasangka itu. Betul memang, bahwa kamu selamanya tidak bisa berjodoh dengan Ayu. []