"If you are hopeless, hope more," kata abang sambil menyesap sisa kopi, membelakangi matahari. #haripernikahanentahkeberapa
Xuebing Du
Monterey Bay Aquarium
h
almost home
macklin celebrini has autism

Janaina Medeiros
dirt enthusiast

Origami Around
we're not kids anymore.

No title available

No title available
Cosimo Galluzzi
One Nice Bug Per Day

blake kathryn

JVL
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

JBB: An Artblog!
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
NASA
No title available
seen from France
seen from United States

seen from Italy

seen from United States

seen from United States

seen from Austria

seen from Germany

seen from United States

seen from Italy
seen from United States
seen from Italy

seen from Malaysia

seen from Netherlands
seen from United States
seen from Malaysia
seen from France
seen from Germany
seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from France
@kataratu
"If you are hopeless, hope more," kata abang sambil menyesap sisa kopi, membelakangi matahari. #haripernikahanentahkeberapa
It's so easy to argue, to loose control, to be emotional, to cry, to be mad and to regret literally everything after those stupid acts. Oh wait. One more: it's so easy to do it again, and again.
Ratu, sedang begitulah namanya juga rumah tangga.
Di awal tahun 2018 yang indah ini, marilah muffinkan diri kita di hari-hari yang telah lalu. Yeay!
Me: you look sad. You know?
Also me: aren't we all a little?
Banyak gimana? Shihl*n ga diitung makan lah. Yang banyak dari Shihl*n itu cuma 1: micinnya.
Kata Abang di PIM suatu hari.
Bagaimana jika suatu saat, menjadi bagianmu saja tidak cukup? Aku mendadak ingin menjadi satu, ingin jadi kamu. 12 November 2017
Berjodoh dengan Ayu
Ayu sudah tak pernah lagi keluar kamar. Di hari pertama istirahatnya, 3 tonjolan di dada kanan Ayu hanya sebesar biji kacang hijau. Kini, tonjolan itu sudah sebesar biji zaitun. Warnanya pun persis seperti biji zaitun: coklat tua menghijau, dengan satu bintik kuning di puncaknya.
Ayu bergidig setiap berkaca. Kamu tahu hatinya patah. Ia ingin sekali mencabut 3 tonjolan sialan yang bersarang di dadanya, tapi ia takut: takut sakit, takut itu tak mengubah apa-apa, takut itu menjadi tambah banyak dan memenuhi tubuhnya. Jadi, Ayu hanya diam, meringkuk di sudut kamar indekostnya yang lama tak disapa sinar matahari.
Ayu mematikan telepon genggam dan saluran internetnya yang biasa menyala 24 jam. Ia tak mau bertemu siapa-siapa, tak menyalakan lampu dan makan makanan kaleng yang menguras 3 lembar berwarna merah muda—uang terakhir yang ia miliki—di dompetnya.
Mata Ayu yang berkantung dan memerah menelusuri kamar indekostnya. Ia melihat tempat tidur, yang suka berdecit saat ia dan Adnan naik ke atasnya. “Adnan..” Ayu menyebut nama itu lagi, lirih, hampir tidak terdengar. Ini kali ketiga untuk hari ini dan kamu diam-diam menghitungnya.
Kamu ingat lelaki itu. Adnan. Pemain bola bermata coklat teduh itu sering sekali membuat kamu iri dengan mengusap rambut Ayu yang panjang. Seminggu sekali, Adnan menginap di kamar ini dan kamu selalu ingin pergi saat Adnan datang. Kamu terluka karena Adnan adalah semua yang kamu inginkan. Kamu terluka karena mungkin Adnanlah yang menjadikan kamu tak bisa berjodoh dengan Ayu.
Ayu tiba-tiba mengalihkan matanya padamu. Kamu terkejut dan berbalik. Kamu takut Ayu tahu kamu sedang memperhatikannya.
“Apa kau ini, daging sialan? Kenapa merusak tubuhku?? Huhu.. Huhuhu..” Ayu menangis tersedu. Ia menelungkupkan tangannya di wajah, sedang kamu merasa lega karena Ayu tidak lagi melihat ke arahmu.
Kamu tahu, Ayu ingin melakukan semua yang tidak dilakukan perempuan dalam sajak Sapardi Djoko: menjerit-jerit, berteriak mengamuk, memecahkan jendela dan membakar tempat tidur. Terlebih, Ayu ingin melempar kursi dan memecahkan cermin, agar ia tak perlu melihat tonjolan itu lagi. Tetapi Ayu tidak. Ayu tidak melakukannya.
Kamu tahu, Ayu ketakutan, lebih dari rasa takut kamu jika Ayu menyadari kamu memperhatikannya. Ayu takut seseorang sadar, ia ada di dalam. Ayu takut seseorang tiba-tiba mengetuk pintu keras-keras. Ayu takut ia tak punya keberanian untuk membuka pintu, lalu orang itu bersikeras: mendobrak pintu indekostnya, menemukan Ayu dengan tonjolan sialan di dadanya.
---
Kamu sangat mengagumi kedua kaki Ayu. Di luar sana, banyak perempuan yang mati-matian mengolah tubuh untuk mendapatkan tight gap, tapi Ayu seolah terlahir untuk berkaki seindah itu. Kamu mendengus kesal. Kini kaki yang biasanya dibiarkan terbuka, dioleskan lotion dan dihiasi sepatu-sepatu bertumit tinggi itu bersembunyi di balik selimut tebal yang nampak lusuh. Meski warnanya sudah lusuh karena lama tak dicuci dan kena tumpahan itu dan ini, kamu ingat selimut tebal itu: kamu selalu membayangkan bisa menelusup di bawahnya dan menemukan Ayu yang tersenyum manis padamu. Sekarang, bayangan itu makin tidak mungkin. Sangat, sangat jauh dari mungkin.
Kamu semakin berpikir soal Ayu yang tidak bisa berjodoh denganmu. Ah tapi kemudian kamu menggelengkan kepalamu. Kondisi Ayu yang seharusnya membaik mesti jadi fokus ketimbang memikirkan kamu yang mestinya berjodoh dengan Ayu.
Kaleng-kaleng kosong menumpuk di pojok kamar Ayu. Kamu melihat Ayu menggenggam kaleng terakhir. Kamu melihat Ayu membuka kaleng itu, menyuapkan beberapa sendok ke mulutnya. Kamu melihat bibir Ayu pecah-pecah, lidahnya memutih dan bergetar. Kunyahan yang pelan, pelan sekali. Kamu tak tega. Kamu meneguk air, meneguk dan terus meneguk, tapi haus terus-terusan tertinggal di tenggorokanmu.
Ayu, yang sedang menyuapkan isi kaleng terakhirnya tiba-tiba berhenti. Tangan kanannya meletakan sendok dan meraba dadanya. Ia memejamkan mata dan kamu tahu, di otak Ayu, ada harapan bahwa tonjolan-tonjolan itu menghilang.
Pranngggg! Ayu melempar kaleng di tangan kirinya. Tiga-empat potong ikan di dalamnya ikut jatuh berserakan. Tentu saja 3 tonjolan itu masih di sana dan membesar, semakin membesar.
Kamu sama frustasinya dengan Ayu. Kamu ingin memeluknya dan mengatakan tidak apa-apa. Kamu ingin membisikan pada Ayu untuk menikmati hidupnya yang tersisa. Tapi tentu saja, kamu tidak bisa.
Hampir sebulan Ayu mengurung diri, dan tentu saja banyak orang, silih berganti mengetuk pintu kamar Ayu. Respon Ayu tentu saja panik, dan kamu tentu saja sama paniknya. Kamu bahkan masih merasakan rasa panik itu sampai sekarang.
Begitu pintu diketuk, Ayu buru-buru meringkuk, masuk ke lemari. Di bawah gaun-gaun cantik itu, pada celah pintu yang sedikit terbuka, kamu melihat Ayu menangis, tanpa suara. Saat ketukan itu menghilang dan langkah kaki terdengar menjauh, barulah Ayu merangkak keluar dengan mata sembab yang berkantung, di balik rambut panjangnya yang sudah lama tak disentuh sisir.
Adnan juga mengetuk pintu kamar Ayu. Tidak terhitung sudah berapa kali. Yang terakhir... Ah. Bukan mengetuk, malah menggedor. Suara tangan Adnan yang terkepal, kamu bisa merasakan tulang-tulang itu beradu dengan pintu kamar. Teriakan Adnan di luar membuat Ayu tersayat. Kamu melihat Ayu meringkuk di kasur, menutup telinganya, padahal kamu tahu Ayu sudah kangen setengah mati mendengar suara itu.
Kamu merasakan nyeri menjalar ke dadamu, apalagi setelah kamu mendengar suara ketukan—ah gedoran—itu melemah, dan Adnan mulai lirih mengungkapkan betapa dia membutuhkan Ayu. Saat Adnan sepertinya menyerah dan benar-benar mengira Ayu tidak ada di dalam, barulah Ayu merangkak ke arah pintu dan menangis sambil menutup mukanya.
Lamunan kamu soal ketukan-ketukan itu buyar saat Ayu nampak mengencangkan pegangannya pada tonjolan-tonjolan itu. Di wajah Ayu yang cekung, kamu bisa melihat rasa sakit. Kamu melihat tangan Ayu bergetar, tapi pegangan itu semakin mengencang. Kamu sadar, Ayu sedang melawan ketakutan dalam dirinya. Kamu sadar, Ayu akan mencabut tonjolan-tonjolan itu.
Bagaimana jika tonjolan-tonjolan itu malah mengganas? Bagaimana jika Ayu mati? Atau bagaimana jika Ayu sembuh dan kembali pada Adnan? Lalu bagaimana jika memang, selamanya, kamu tak bisa berjodoh dengan Ayu? Kamu mendadak mual dan semua menjadi gelap.
--
Kamu terbangun saat sinar matahari masuk dari jendela. Kamar ini terang-benderang, dan kamu kelimpungan mencari sosok Ayu. Semuanya nampak begitu berbeda, namun juga begitu familiar.
Pintu dibuka. Bu Surti, perempuan pemilik indekost ini masuk, diikuti seorang perempuan dengan sepatu tumit tinggi dan rok mini. Kamu terhenyak melihat tight gap itu, kamu terhenyak melihat rambut panjang itu.
“Nak Ayu, ini kamarnya,”
“Bagus, Bu,” Perempuan berambut panjang itu tersenyum. Lesung pipinya muncul.
Kamu tercekat saat ia melangkahkan kaki jenjangnya ke arah tempat tidur, matanya tertuju pada kamu, serta tangannya menggapai ke arah dinding-dinding kaca yang melingkupi kamu. Kamu panik karena ini pertama kalinya Ayu mendekatkan wajahnya pada kamu. Bulu mata yang mengerjap dengan lentik itu, bibir yang dipulas kemerahan yang ranum itu. Kamu belum selesai tercekat karena Ayu kembali cantik dan baik-baik saja, tapi kamu sudah mesti dikagetkan lagi dengan kata-kata yang meluncur dari Ayu: “Ini ikan mas koki siapa, Bu?”
Ah! Kini kamu tersadar, bahwa kamu memang hanya ikan. Jadi betul prasangka-prasangka itu. Betul memang, bahwa kamu selamanya tidak bisa berjodoh dengan Ayu. []
Cuteness is a gift, but a warm heart is a choice
Tadi pagi, membuka hari ini, aku regram fotonya Severine yang sedang tersenyum. Kemudian aku sadar bahwa keimutan, para bayi-bayi yang pake tutu termasuk Severine, adalah berkah.
Aku ingat betapa keimutan bisa muncul begitu saja waktu mata kecil mereka terbuka, keimutan bergelantungan di pipi mereka yang bergoyang karena kebanyakan daging atau di lipatan-lipatan karena tulang terlalu kecil untuk ditempeli otot-ototnya yang lemah.
Di tengah kesadaran bahwa imut adalah berkah, aku sadar bahwa kebaikan hati adalah pilihan. Kita tidak bisa memilih mau imut atau enggak sejak kita dilahirkan, tapi saat kita beranjak dewasa kita selalu punya pilihan untuk menjadi baik atau ngeselin bahkan jadi manis atau brengsek. Ya begitulah.
What a warm day ❤
Thank you Rangers Suacca for coming so late night hahaha
Taken by Rama
Kepada Keong
--Dengan kebencian,
Kamu yang jarang piknik, berjanji pada dirimu sendiri untuk menulis di tempat-tempat yang begitu langka kau kunjungi: bandara, stasiun kereta, pelabuhan dan persimpangan dimana kamu akan melewatinya. Kamu ingin menjadi seperti penulis besar: menulis pendek dan sok-sok puitis untuk kemudian di bawahnya kamu menulis: Lebanon 2004, Perth 2007 atau Bima 2009.
Kamu ingin orang-orang membaca berulang-ulang tulisannya karena cemburu pada kata-kata, yang berhasil menyembunyikan makna yang mereka cintai dan ingin mereka miliki. Maka kamu bukan hanya sekadar sok puitis, menulis dalam bait lengkap dengan rima, namun kamu juga membuat kata-kata berbelok entah apa maunya. Setelah keterangan ada keterangan, lalu subjek kamu simpan sesudah objek yang diikuti kata kerja aktif.
Aku tahu usaha itu sengaja kamu lakukan. Aku tahu dari cara kamu mengetik, kamu menulis: kamu sedang mereka-reka agar mereka yang membaca bisa melabuhkan hati padamu barang sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.
Kamu busuk dan kamu menutupinya dengan kata-kata yang kamu tulis itu tadi, yang kamu sebar-sebar di followers-followersmu yang sebenarnya cuma kamu jadikan batu loncatan meraih sesiapa saja yang berada di daratan paling tinggi yang kamu tahu.
Ah, dasar keong..
Jeda
Waktu yang tak pernah sama atau jarak yang begitu sulit untuk ditempuh? Atau itu semua hanya alasan, alasan untuk tidak saling memulai pembicaraan. Semuanya sudah tidak mengalir seperti biasanya, selalu ada jeda yang tak pernah disadari kapan datangnya.
Kini jeda itu menjadi penghalang yang kian hari kian mengakar, membelit begitu kencangnya sampai tak ada satupun yang sanggup untuk memberikan ruang. Ya, sedikit saja ruang untuk memulai dan menata kembali.
Lalu bolehkah aku meminjam waktumu? Biar aku tunjukan bagaimana berharganya waktu jika bersama denganku.
Ini bukan pertama, tapi sekarang aku sadar lagi bahwa... Yang membuat kita begitu semangat merangkai kata-kata bukan cinta, tapi luka.
Ingat kan betapa gampangnya bikin tulisan mengkritik ketimbang memuji? Hahaha.
Eh ini bagus, jadi aku regram.
Halo UIN Bandung, maafkan atas segala kenyinyiran dan percayalah bahwa mengambil hikmah dari itu bukanlah sebuah dalih. Percayalah semua hal buruk yang orang katakan adalah demi membuat kamu makin baik dan membuat orang-orang jahat itu tak betah dan pergi dari kamu. Jangan tidur terlalu malam dan banyak minum air putih. Ini aku kasih foto. Simpan baik-baik ya ❤
I hate to see you stand in the bus, but for givin' a seat for a mother and a baby.. That's terrifically cute
Ratu, almost 22 and getting a lighter live with you
Waktu jadi Pemrednya Suaka, kalo ga ada Ayu, mungkin aku bakal membusuk di loker karena stres. Hahaha. Ayu bikin surat, Ayu mencatat di rapat, Ayu mengkoordinir LPJ.. Ayu membantu banyak hal.
Di ruang Panitia Penerimaan Beswan Djarum 30, BCC, setengah tahun lalu, aku senyum-senyum sendiri liat nama dia ada di list 16 besar. Beberapa hari kemudian, senyum itu melebar karena tau Ayu lulus jadi Beswan. Sesudahnya, kami adalah perempuan biasa yang suka ngerumpi, ngobrolin program dan cerita-cerita lucu atau sedih selama ke sana dan ke sini.
Meski dia banyak bantu aku, meski dia membanggakan karena bisa jadi Beswan juga, aku selalu sebel sama Ayu karena dia lebih tinggi. Ahaha. Kemarin aku bilang sama dia, “Ayu, kalo aku jadi presiden, aku mau bikin Peraturan Presiden: orang yang tingginya lebih dari 150cm harus potong kaki,”
Hahaha. I hate you, Ayu! <3
If you don’t build your dreams, someone will hire you to built their dreams
Nemu di 9gag. Tapi buat membangun mimpi sendiri, aku harus bertahan dulu di mimpi orang lain. Biar apa? Biar aku membangun mimpi aku dengan pengalaman. Anggap aja aku berperan dulu jadi malaikat kayak kamu dulu, Ri. Hahaha. Iya kan? Aku mau nonton Leon The Professional.
this drawing is dedicated to hearts, gut instincts and non-conventional paths everywhurr
All I need are.. Laugh with you, watch some incredible movies, eat a plate full of Cordon Bleu, drink a big torn of lemonade and sleep a long night tightly to find my work sheets all done when I wake up...
Ratu, little drunk with her final paper and definitely, her job!